Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Jika kita berbicara tentang daun kelor, yang terbayang adalah daun yang memiliki kekuatan magis. Memang, dalam kepercayaan masyarakat Indonesia, daun kelor memiliki nama lain Moringa ini diyakini bisa mengusir roh halus dan kekuatan jahat. Di beberapa daerah daun kelor digunakan untuk melepas pengaruh jimat yang melekat pada jenazah sebelum disucikan.

Sesungguhnya, tanaman langka ini mempunyai khasiat untuk kesehatan. Karena daun kelor memiliki kandungan gizi yang tinggi, sifat antiinflamasi, dan antioksidan yang terkandung didalamnya berfungsi sebagai suplemen bubuk daun alami. Dan dikonsumsi seperti minum teh.

Manfaat minuman rebusan daun kelor antara lain, melawan radikal bebas, alzhiemer mengobati peradangan, diabetes, kerusakan hati, luka, dan mencegah kardio vaskular, Adalah Mariyamah, perempuan kelahiran Sidoarjo 1971, pelaku UMKM yang mampu melihat potensi bisnis yang terkandung dalam tumbuhan langka yang berjuluk tanaman dewa ini.

Ibu dari Azizah dan Achmad Rafly, ini mampu menciptakan minuman dalam botol berbahan dari daun kelor. “Awalnya, Desa Dukuh Tengah, Kecamatan Buduran Kabupaten Sidoarjo kedatangan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Bhayangkara (UBHARA) Surabaya. Mereka, melakukan sosialisasi ke kelompok masyarakat dan ke rumah-rumah, mengajak untuk membuat pembibitan dan menanam kelor bersama,” kata Mariyamah, pemilik Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Ratu Lemu, kepada Bisnis Surabaya beberapa hari lalu.

Seiring perkembangan waktu, masyarakat mulai antusias memanfaatkan kelor menjadi berbagai macam produk olahan. Hal ini, lambat laun menjadikan Desa Dukuh Tengah terkenal sebagai Kampung Kelor. Kepala Desa Dukuh Tengah, Arif, mengatakan,  masyarakat mulai antusias memanfaatkan kelor menjadi berbagai macam produk olahan. Bahkan, akan membentuk sentra UMKM kelor di tempat tersebut.

Sebelum menekuni usaha minuman kelor, Mariyamah, adalah seorang karyawan pabrik lampu yang mengalami PHK karena musibah kebakaran pada 2014. Kemudian mencoba peruntungan dengan membuat kerupuk ikan lele dengan memanfaatkan potensi peternakan lele yang ada di rumahnya.

“Setelah mengikuti pelatihan yang dilakukan mahasiswa Ubhara pada Februari 2019, saya mulai menekuni usaha pembuatan wedang daun kelor. Minuman ini saya kombinasikan dengan jahe,” jelas istri Naam, yang merupakan salah seorang perangkat desa.

Setiap hari Mariyamah, mampu memproduksi 100 botol per hari. Pelanggan tidak hanya terbatas pada ibu-ibu kepala desa,  juga ibu-ibu PKK dan masyarakat di desanya. Tetapi juga pembeli online yang dia dapatkan dari jejaring sosial facebook. “Saya ingin usaha saya bisa berkembang, sehingga bisa bersama keluarga menunaikan ibadah di tanah suci,” tambah perempuan berhijab ini. (nanang)