Surabaya, (bisnissurabaya.com) – KABAR gembira bagi aparatur sipil Negara/ASN, prajurit TNI, anggota Polri dan para pensiunannya. Peraturan Menteri Keuangan nomor 57/2019 sudah ditanda tangani Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati. Isinya, pemberian gaji ke-13 dengan jumlah masing-masingnya sama dengan gaji/pensiunan yang diterima bulan Juni 2019. Sebelumnya, Menkeu menyatakan, bahwa gaji itu dicairkan pertengahan tahun ini dengan tujuan awalnya untuk membantu beaya sekolah anak para ASN. Gaji, penerimaan atau tunjangan ke-13 bagi PNS, perajurit TNI, anggota Polri, pejabat negara dan penerima pensiunan atau tunjangan, diberikan sebesar penghasilan pada bulan Juni. Penjelasannya sebagaimana isi Bab I Ps 3 PMK 57/2019.

Jumlah penerimaan itu meliputi gaji, tunjangan jabatan, keluarga, umum dan kinerja. Tunjangan jabatan itu meliputi tunjangan jabatan structural, jabatan fungsional fdan jabatan yang dipersamakan dengan tunjangan jabatan seperti tunjangan tenaga kependidikan, panitera dan hakim. Sedangkan bagi pensiunan meliputi pensiun pokok, tunjangan keluarga atau tambahan penghasilan. Tunjangan tambahan penghasilan adalah penerima pensiun yang karena perubahan pensiun pokok baru tidak mengalami kenaikan penghasilan, mengalami penurunan penghasilan atau mengalami kenaikan kenaikan penghasilan tetapi kurang dari 4 persen.

Pendek kata, sesudah tahun lalu para PNS/TNI/Polri menerima kenaikan gaji meskipun jumlahnya kecil saja, kini usai Pemilu menerima gaji ke-13 dan THR lebaran. Mungkin harapan pemerintah bahwa gaji itu membantu kebutuhan anak-anak penerima gaji tersebut untuk menyekolahkan anaknya menjadi murid baru di sekolahnya.

Namun, kebijakan menaikkan gaji di saat masa kampanye Pemilu dan pemberian gaji ke-13 usai pelaksanaan Pemilu 2019, meskipun mnenghadapi penentangan yang bersifat politis, namun pemerintah berteguh hati menjadikannya dilaksanakan dengan mulus.

Penentangan itu datang dari saingan Pasangan Calon 02 melalui juru bicaranya Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, yakni Dian Islamiati Fatwa, yang mengancam Joko Widodo ke Bawaslu dengan dugaan menyalahgunakan kekuasaan. Salah satunya terkait kebijakan Presiden Jokowi menaikkan gaji ASN/TNI/Polri/pensiunan ditambah dengan gaji ke-13 dan 14, rata-rata sebesar 5 persen. Tuduhannya, semua demi popularitas Paslon nomor 01 dalam menghadapi Pemilu.

Kenyataan kenaikan gaji dan penerima pensiun memang terlaksana sebelum Pemilu. Tetapi pihak Paslon nomor 01 menolak, bahwa kebijakan gaji itu dikaitkan dengan Pemilu 2019, karena kenaikan gaji tersebut sudah menjadi ketetapan pemerintah setiap tahunnya. Demikian pula dengan gaji ke-13 yang justru diberikan sesudah Pemilu 2019.

Sikap yang diambil lawan politik Jokowi-Amin itu semestinya diikuti oleh para ASN dan kerabatnya maupun para pensiunan yang memilih Paslon nomor 02 dalam Pemilu yang lalu. Mereka harus konsekuen untuk menolak gaji/pensiun yang dinaikkan maupun yang ke-13. Menolak dengan cara tidak mau menerima jumlah gaji/tunjangan maupun gaji ke-13 itu. Sedangkan yang dituduhkan tentang “gaji ke-14”, tidak jelas bentuknya untuk apa, karena dalam PMK 57/2019 tidak disebut-sebut.

Jadi, usai lebaran bulan depan itu, ada berita gembira bagi penerima gaji ke-13 berikut tunjangannya. Dipihak lain, mereka yang memilih Paslon Capres-Cawapres 02 yang menentang kebijakan pemerintah dan Peraturan Menteri Keuangan sebagaimana pernyataan Dian Islamiati Fatwa, itu, kalaulah mereka ASN/pensiunan pastilah mereka terikut menentang pengadaan kenaikan gaji dan gaji ke-13 berikut tunjangan-tunjangannya. Meskipun pada kenyataannya, jauh lebih banyak yang mau menerima ketimbang yang menolak menerimanya. Atau malahan kiranya tak ada yang menyatakan menolak.

Tantangan yang dibawa pengaruh kepentingan politis itu dengan menolak penerimaan-penerimaan pendapatan seperti tersebutkan di atas, harus dapat ditunjukkan oleh mereka yang sebenarnya berhak menerimanya, akan tetapi harus konsekuen mengikuti penentangan BPN Paslon 02, agar tidak bisa dikategorikan sebagai bunglon! Atau dengan menolak kenaikan gaji dan gaji ke-13 itu, kawan-kawan atau kerabatnya bisa menyebutnya: manusia tak tahu diuntung! (amak syariffudin)