Unik : Jalan Tol-pun Dibuat Genap-Ganjil

4032

Surabaya, (bisnissurabaya,com) – BARANGKALI dalam sejarah keberadaan jalan tol, baru pertama kali ini Kementerian Perhubungan dan Kepolisian bakal mengatur jalan tol antara Jakarta hingga Cikampek dan antara Merak hingga Bakaheuni (Sumatera). Dibuat aturan lalu-lintas seperti yang diterapkan di Jalan Raya Sudirman/Thamrin, Jakarta, untuk mobil-mobil berpelat nomor polisi genap untuk hari ini dan nomor ganjil esok hari. Bergantian. Tujuannya, mengurai kemacetan. Jauh hari sebelum meledaknya kemacetan lalu-lintas saat mudik dan kembali lebaran minggu-minggu awal Juni 2019 terhadap kendaraan yang bakal melalui jalan tol Trans-Jawa di Jakarta-Cikampek itu, sudah ditetapkan akan dilakukan pola genap-ganjil. Cuma tidak dijelaskan, kalaulah kendaraan itu terlanjur punya nomor-genap umpamanya. Tetapi bakal mudik lewat tol yang hari itu ditetapkan untuk mobil bernomor-ganjil, maka harus menempuh jalan mana? Apakah harus lewat jalan lama di Pantura?

Jalan tol dibuat bertujuan untuk memperlancar arus lalu-lintas dari kemacetan maupun guna mempercepat pemakai kendaraan bermotor mencapai tujuannya dengan cara memperpendek jarak dan menjadikan laju mobil, bus atau truk bisa cepat. Tetapi di Indonesia ini memang hebat. Jalan tol antara Jakarta dengan Cikampek pada hari-hari libur saja mengantre di depan gerbang-tol agak panjang, sudah macet. Apalagi saat liburan lebaran untuk mudik atau sebaliknya. Dengan menerapkan pola genap-ganjil, bisa diartikan justru “membalikkan” tujuan pembuatan jalan-tol. Dan itu barangkali juga merupakan sejarah dari pola keberadaan jalan-tol di dunia yang justru dibuat di negara kita.

Ganjil-genap.
Sampai sejauhmana diperkirakannya lalu-lintas di jalan-tol, terutama pada jarak Merak, Jakarta, Semarang, Surabaya, Probolinggo dan Malang itu? Kepadatan pemudik atau sebaliknya di Pulau Jawa bisa terjadi, karena mereka yang menggunakan pesawat terbang berkurang, akibat harga tiket pesawat terbang masih tinggi.

Kalau didasarkan data Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan, jumlah masyarakat yang akan mudik tahun ini mencapai angka 32 juta orang. Jumlah pemudik yang menggunakan angkutan umum pada lebaran 2019 diproyeksi mencapai 22,83 juta orang, atau meningkat 4,14 persen dari tahun sebelumnya. Sedangkan menurut Direktur Institut Studi Transportasi, Darmaningtyas menyatakan (8/5), bahwa keberadaan ruas tol Trans Jawa bertujuan memperlancar arus lalu-lintas dari wilayah Jabodetabek ke arah Jateng, DIY dan Jatim pada mudik sekarang. Malahan, General Manager Day Trans, Yosepha, sudah siap-siap “jual layanan persewaan” mobil-mobilnya untuk paket mudik lebaran memenuhi permintaan melalui jalan darat antara Jakarta, Semarang dan Yogyakarta.

Selain itu, jalan tol bakal diramaikan dengan bus-bus khusus mudik yang digratiskan untuk karyawan, pedagang kecil maupun masyarakat. Baik yang dilakukan oleh DKI Jakarta, beberapa perusahaan (terutama biasanya antara lain PT Jamu Sidomuncul) dan lain-lain. Pandangan mata seolah diarahkan pada pemakaian jalan-tol, terutama Trans-Jawa. Direktur Utama PT Jasa-Marga Solo-Ngawi (PT JSN) Ari Wibowo di Solo (8/5) memprediksi peningkatan pengguna jalur tol antara Solo (Jateng) dengan Ngawi (Jatim). Prediksinya, sekitar 35 ribu kendaraan menggunakan jalur tersebut pada puncak arus mudik Lebaran itu. Pada hari-hari biasa, paling banyak dilalui 13 ribu kendaraan. Yang penting, dia mewanti-wanti pengendara hendaknya mematuhi kecepatan mobilnya pada batas aman, yakni paling cepat 100 kilometer/jamnya. Dengan mematuhi batas kecepatan tersebut, dia harapkan dapat menghindari kecelakaan lalu lintas, terutama bila terjadi hujan, selip ban hingga pecah ban dan kecelakaan menabrak bagian belakang kendaraan di depannya.

Peringatan tanda bahaya kecelakaan pun sudah dibunyikan. Unsur kelelahan, keteldoran danugal-ugalan bisa mencelakakan. JSN antara lain sudah menyiapkan 4 SPBU di 4 rest-area (tempat istrirahat). Tetapi kembali lagi dari sikap pengendara kendaraan bersangkutan.

Mencoba jalan-tol dari Surabaya ke Jawa Tengah selama 5 jam, memang jauh lebih cepat dibanding ketika melalui jalan biasa sebelumnya. Meskipun jalan tol, rata-rata jalan yang terbuat dari beton itu tidak mulus seperti seharusnya yang disbeut sebagai jalan-tol di negara-negara maju atau di Singpaore dan Malaysia. Jalan tol Trans-Jawa masih bergelombang, sehingga bisa membahayakan kendaraan yang berjalan cepat karena agak melompat-lompat.

Sudah ada beberapa kecelakaan di jalan tol Trans-Jawa, hanya karena keteledoran pengemudinya atau kurang beresnya kondisi kendaraan. Bagi mata pengemudi, jalan beton bewarna keputih-putihan sepanjang mata melihat arah depan yang membujur jauh ke depan, lama-lama bisa melelahkan mata. Bahayanya, kondisi mata demikian menjadikan pengemudi mengantuk. Kita tahu, mengantuk menjadikan sekejap bisa menghilangkan konsentrasi. Di situlah konsentrasi mengemudinya hilang dan dapat menyebabkan kecelakaan kendaraannya. Kalau Dirut PT Jasa Marga Solo-Ngawi mengingatkan agar pengemudi mematuhi aturan kecepatan yang bisa kita lihat di sepanjang jalan-tol: 60 – 100 km/ja, dikarenakan beberapa pengemudi guna menghilangkan rasa kantuknya dengan cara mempercep-at laju kendaraannya. Atau frustasi, merasa kok belum juga sampai di kota tujuannya. Ada juga yang merasa lebih hebat bisa melaju karena tidak terima disalip kendaraan lain. Pendek kata, perlu disadari, bahwa kecepatan karena sikap sendiri maupun akibat kondisi kendaraannya yang kemudian bisa berakhir di rumah sakit atau lebih fatal dari itu. Mungkin didasarkan dampak-dampak dari sikap pengemudi ataupun kondisi kendaraannya, yakni dengan cara mengurangi kepadatan, maka dibuatlah pola nomor-polisi kendaraan genap dan ganjil. Karena umumnya, pengemudi yang “lepas” dari kemacetan, lalu memacu kendaraannya, seolah berusaha memburu waktu dikala macet. (amak syariffudin)