Kisah Kini dan Nantinya Freeport Indonesia

231

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – MESKI letaknya jauh di sebelah timur dari Surabaya, akan tetapi dalam sektor perekonomian negara, tambang tembaga, emas dan perak PT Freeport-Indonesia di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, berperan penting. Selain itu, tidak sedikit tenaga kerja asal Jawa Timur/Jatim diantara 7.096 yang bekerja di perusahaan itu, dan bila digabungkan dengan tenaga kerja di sektor kontraktor dan vendor, berjumlah 30.542 jiwa. Karena, statusnya bagi perekonomian negara, perusahaan tambang terbesar di Indonesia itu selalu menjadi obsesi kepentingan kekuatan-kekuatan politik praktis untuk ikut campur urusannya.Tentu saja, ada harapan mendapatkan keuntungan finansial dari ikut-ikutan mempermasalahkannya.

Tambang yang dimulai dari Bukit Ertsberg (tinggi 1400 meter dpl) oleh PT Freeport McMoran Inc (USA) tahun 1967 yang kini bijih tambangnya sudah habis, lalu ketika menemukan bukit Grasberg (tinggi 4.200 meter dpl) di sampingnya dan jauh lebih tinggi dari Ertsberg dan mempunyai kandungan bijih tembaga, emas dan perak, mulai dikeruk dari puncaknya Grasberg ke arah kedalamannya. Kini, sudah mencapai kedalaman ratusan meter di bagian “kaki” bukit itu.

Ketika pengerukan masih pada bagian puncaknya, pada menjelang akhir Maret 2005, saya berkesempatan meninjau tambang itu dengan menaiki bus buatan Kanada yang bodynya kokoh seperti truk. Bus khusus untuk karyawan yang beroperasional di pegunungan dengan jalanan yang terjal dan berjurang di kanan-kirinya. Dari kota Timika, saya menuju kota tambang Tembaga Pura (lk. 2520 meter dpl) sejauh lebih dari 110 km melalui jalan pegunungan berliku-liku bagaikan ular dengan kanan-kiri jurang yang dalam serta memasuki terowongan-terowongan menembus dasar perbukitan.

Jalan ini yang sejak beberapa tahun lalu menjadi sasaran penembakan oleh gerombolan kriminal bersenjata dan sudah menewaskan beberapa orang. Dari kota yang diresmikan dan memberi nama “Tembaga Pura” oleh Presiden Suharto (1973), saya naik bus lagi menanjak dan akhirnya sampai di “stasiun” kereta gantung yang menanjak sejauh kira-kira satu kilometer menuju lokasi pertambangan Grasberg di ketinggian 4268 meter dpl. Gunung atau bukit besar itu ditemukan mengandung deposit kira-kira 1,76 miliar ton batuan bijih dengan kadar rata-rata 1,11 persen tembaga atau sama dengan 35,2 miliar pon logam tembaga murni, berikut kandungan emas yang sangat tinggi.

Penggalian diawali Februari 1989 (konstruksi tambang) dan penggalian mulai Desember 1989. Untuk berada di puncak bukit yang dikeruk, saya harus memakai sepatu laras karet dan jaket kuning khusus buat di areal tambang PT Freeport-Indonesia dan kacamata khusus agar angin dan debu tidak memasuki mata, serta helm pekerjaan di areal tambang.

Berdiri di bibir lokasi pertambangan dengan memandang arah timur, terletak Puncak Jaya (4884 meter dpl) dengan gletser salju abadi. Dari tempat saya berdiri, kawasan puncak Pegunungan Sudirman itu seolah sejajar dengan Puncak Grasberg. Kini, puncak itu sudah habis, karena tambang membuat sumur raksasa yang dalam itupun bakal habis dalam beberapa bulan lagi. Wujud Grasberg (Gunung Rerumputan; Bld) tinggal sejarah. Namun berbeda, yakni “sumur raksasa” akibat penambangan bukit Ertsberg (konsentratnya habis 1988) dijadikan telaga cadangan air untuk produksi pabrik pengolahan perusahaan, tetapi Grasberg masih bakal dikeruk.

Pada awal 2019 ini, sesuai Kontrak Karya Freeport Indonesia akan berakhir (2021), konsentrat mineral perak, tembaga dan emas tambang-terbuka Grasberg dengan produksi 3 juta ton/tahun itu diprediksi habis pada pertengahan tahun ini. Tetapi perusahaan itu mendapat izin usaha pertambangan khusus (IUPK) sampai 2041 dalam bentuk tambang di bawah tanah (underground mine). Dilakukan sedalam 1700 meter di bawah tanah pada dataran tinggi (4.200 meter dpl).

Berada di dalam terowongan tambang demikian bagaikan hidup dalam kota cilik di negara kita. Sebab, panjang terowongan itu diperkirkakan mencapai 500 km atau setara jarak Surabaya-Jakarta. Bedanya, kendaraan-kendaraan angkutan bijih tambang yang terbanyak buatan Caterpillar tidak banyak lagi yang dipergunakan.

Namun Menteri Energi & Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, mengingatkan perusahaan itu akan bekerja sama dengan Badan Geologi Kementerian ESDM, agar di kemudian hari tidak terjadi permasalahan. Sedangkan Dirjen Minerba itu, Bambang Gatot Ariyono menjelaskan (4/5), saat ini reklamasi dan stabilitasi lereng harus dilakukan perusahaan itu. “Biar bagaimana pun Freeport harus bertanggung jawab.” katanya dengan alasan agar tidak runtuh.

Mengapa menambang dalam bentukdi bawah tanah? Dari laporan kinerja kwartal 1-2019 Freeport McMoran Inc. (FCX) produksi tembaga PT FI hanya sebanyak 145 juta pon, merosot 53,28 persen dari produk kwartal tahun lalu (311 juta pon). Produk emasnya merosot 72,77 persen jadi 162.000 ounce dibandibng periode sama tahun lalu 95 ribu ounce. Menurut Presdir PT Freeport-Indonesia, Tony Wenas, tambang di dalam perut Grasberg itu, dari sekarang hingga lima belas tahun mendatang (2041) masih bisa ditambang cadangan sekitar 2 miliar ton bijih mineral. Mungkin tambang PT FI di kabupaten Mimika itu bakal menjadi satu-satunya tambang terowongan (underground mine) terbesar di dunia.

Dalam pemerintahan Presiden Jokowi, pada awal tahun 2019 ini, saham PT Freeport Indonesia setengahnya bisa dibeli oleh negara kita dengan saham dari BUMN PT Inalum (Indonesia Aluminium) yang pabriknya berada di Sumatera Utara. Menteri ESDM berharap keseluruhan tambang itu bila kontrak dengan Freeport McMoran Inc. selesai, bisa menjadi milik Indonesia.

Bagaimana pun juga, yang penting diawalinya pelaksanaan dari teori penambangan dengan teknologi modern di bawah tanah itu dapat dijadikan pelajaran bidang tersebut bagi para ahli dan teknisi kita. Masalahnya, penambangan di permukaan bumi seperti untuk batu bara di Kalimantan, mau tidak mau bakal habis dan bumi pun sudah rusak karenanya. Kemungkinan penambangan di bawah tanah tetapi dengan teknologi modern demi keselamatan jiwa pekerjanya, terpaksa harus dilakukan guna mendapatkan deposit-deposit mineral yang ada.

Bagaimanapun juga, teknologi dan keuletan dalam mencari dan menemukan deposit-deposit berharga seperti yang ditemukan di Mimika itu (baca buku George A. Mealey: “Grasberg: Mining the richest and most remote deposit of copper and gold in the world,in the mountains of Irian Jaya, Indonesia”/ Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc., 1996) merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi para ahli dan teknisi pertambangan kita, maupun materi displin ilmu pertambangan di perguruan tinggi jurusan tersebut. (amak syariffudin)