Kita perlu Cas Produk Hortikultura

97

Surabaya,(bisnissurabaya.com) – KETIKA Perum Bulog menginvestasikan modalnya sebesar Rp 25 miliar membangun pergudangan modern dan membeli beberapa unit berteknologi Controlled Atmosphere Storage (CAS) yang dilaksanakan di Brebes Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah/Jateng demi pengawetan produk bawang merah, para petani lain daerah bisa saja jadi iri hati. Mengapa tak juga diadakan di kabupaten mereka masing-masing yang menjadi sentra-sentra produk holtikultura. Masalahnya, untuk apa teknologi CAS (yang lazim digunakan di kawasan pertanian Amerika Serikat dan negara-negara Eropa) bagi kepentingan petani dan menjadi juga kewajiban Perum Bulog?

CAS merupakan unit untuk penyimpanan produk-produk hortikultura. Bulog masih mengutamakan untuk produk bawang merah dan dibangun di Brebes, pusat produksi bawang merah di Jawa. Sistem kerja CAS adalah memperpanjang usia produk holtikultura. Yakni, bukan hanya untuk bawang merah atau jenis bawang lainnya, tetapi juga bisa untuk hasil buah-buahan yang perlu diperpanjang usia penyimpanannya. Sedangkan bagi bawang merah, biasanya mengalami penyusutan (mengkeret/mimpes; Jw) sebesar 1-10 persen per harinya ketika disimpan di gudang-gudang konvensional! Dengan teknologi CAS, penyusutan bawang merah tersebut mampu ditekan hingga maksimal 10 persen selama waktu 3 bulan.

Kepala Bulog Divre Jawa Tengah/Jateng, Mentoba Sigit Tedjo Mulyono, menjelaskan (2/5), bahwa Gudang Modern Sub Divre Pekalongan itu memiliki 20 unit box atau chamber berteknologi CAS untuk kapasitas produk bawang merah 326 ton. “Saat ini masih terisi 2 chamber. Yaitu, chamber 3 dan 5. Juga ada 8 silo dan 11 unit pengolahan,” katanya. Dijelaskannya, bahwa teknologi CAS untuk penyimpanan produk dengan pendingin, pengontrol kelembaban 02, CO2, N2 dan ethylene. Sehingga dapat memperlambat penyusutan bawang merah. Dengan 20 unit CAS itu, gudang modern tersebut bakal menyimpan 272 konde (ikatan) atau 326 ton bawang merah rogot. Penyimpanan dan pengawetan itu penting, karena umumnya para petani bawang merah di Brebes langsung menjual produknya begitu panen karena butuh uang dan tidak ingin menyimpan bawang merah hasilnya menjadi menyusut. Karena musim panen bawang merah, dengan sendirinya tengkulak atau konsumen bersaing membelinya dengan harga murah hasil produk tersebut dari para petani yang bersaing untuk menjualnya.

Penggunaan CAS di Brebes itu hingga kini masih merupakan pilot-project Perum Bulog. Tetapi, diharapkan dapat juga dibangun gudang-gudang modern dengan teknologi CAS di daerah-daerah lain. Antara lain, di Solo. Untuk lebih memantapkan penggunaannya, gudang modern dengan CAS itu kini sedang mencoba mengawetkan bawang merah yang disimpannya bisa berlangsung selama 3 bulan.

Kisah gudang modern dan teknologi CAS itu meskipun terjadi di Jateng, akan tetapi merupakan kabar baik pemanfaatan teknologi modern untuk kepentingan bisnis pertanian. Khususnya produk holtikultura. Sebagaimana kita maklumi, bahwa usia penyimpanan sesuatu produk pertanian, terutama jenis buah-buahan, tidak bisa disimpan lama. Terkecuali dimasukkan lemari-pendingin dengan temperatur tertentu. Itu pun tidak terlalu lama, buah-buahan akan berubah keadaannya.

Apa artinya?
Tidaklah berlebihan, bahwa para petani dan tentu saja pelaku bisnis hortikultura, berkeinginan untuk adanya gudang modern dengan teknologi CAS itu. Jelas untuk memiliki sendiri tidak mungkin, karena harganya yang mahal dan operasionalnya pun berbiaya cukup tinggi. Akan tetapi pihak pemerintah (terutama dalam hal ini umpamanya Perum Bulog) yang memilikinya dan fasilitas itu disewakan untuk petani atau pelaku bisnis hortikultura guna menyimpan produk atau barang dagangannya dalam waktu tertentu. Dengan demikian, harga jual dagangannya bisa terlaksana sebagaimana yang diharapkan. Sebab, penjualan produk hortikultura di musim “panen” seperti bawang, mangga dan beberapa jenis buah-buahan lainnya, harga jualnya bisa rendah karena persaingan penjualannya agar dagangannya tidak cepat rusak.

Sekurang-kurangnya pemanfaatan unit-unit teknologi itu untuk pengawetan komoditas pertanian yang sering menjadi bahan perdebatan (dan persaingan status institusinya) dalam pengadaannya. Seperti ketersediaaan beras, bawang merah dan bawang putih, sampai pun cabe dan lain-lain, yakni apakah perlu untuk diimpor atau tidak impor karena stok komoditi itu tercukupi. Lagi pula Kementerian Pertanian kini sudah menetapkan kawasan sentra-sentra pertanian demi swa-sembada pangan seperti jenis padi, bawang putih dan bawang merah dan lain-lain. Namun belum bisa mengatasi terjadinya naik-turunnya harga di pasaran pada musim panen dan musim paceklik. Di sinilah salah satu manfaat teknologi CAS sebagai alat membantu mengatasi hasil pertanian/hortikultura berikut pemasarannya. (amak syariffudin)