Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Gong demokrasi di Indonesia telah ditabuh 17 April lalu. Dua pasangan calon presiden/capres dan calon wakil presiden/cawapres  Joko Widodo – Makruf Amien nomor 01 dan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno nomor urut 02 mengklaim sama-sama menang. Bedanya, pasangan 01, Jokowi – Makruf Amien, untuk sementara memenangi kontestasi demokrasi versi quick count beberapa lembaga survey 54 persen. Sementara pasangan nomor urut 02, Prabowo Subianto – Sandiaga Uno, memperoleh 45 persen. Sedangkan lembaga survey internal Badan Pemenangan Nasional/BPN, mengklaim Capres Prabowo – Sandiaga unggul 62 persen. Hanya saja, keputusan resmi masih menunggu hasil resmi yang akan diumumkan Komisi Pemilihan Umum/KPU 22 Mei mendatang.

Terlepas saling klaim memenangkan pesta demokrasi, pelaksanaan Pemilu April lalu yang berlangsung aman dan damai membawa angin segar pada pereknomian Indonesia. Negara asing pun memuji melihat damainya Pemilu serentak yang memilih pasangan presiden dan wakil presiden periode 2019-2024, anggota DPD, DPR, MPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kota/kabupaten. Meski masih meraba-raba, pemerintah yakin kondisi perekonomian bakal lebih baik menyusul sukses penyelenggaraan Pemilu 2019. Ini yang membuat investor lebih mantap untuk melakukan investasi besar-besaran.

Gelagat membaiknya perekonomian nasional pascapemilu memang mulai berembus. Dimulai dari sukses penyelenggaraan pemilu yang memenuhi ekspektasi pasar serta diperkuat data neraca perdagangan yang menunjukkan kinerja positif sejak awal bulan. Begitu pun perkembangan kurs rupiah yang telah menguat sekitar 1 persen antara 1 hingga Mei. Untuk tahun ini, pemerintah menargetkan pertum­buhan ekonomi 5,3 persen dan sekitar 5,3 persen hingga 5,6 persen untuk tahun depan.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Surabaya Jamhadi, mengajak kalangan pengusaha menjaga kondusivitas iklim usaha pasca-Pemilu 2019. Hal ini menyusul rembuk pengusaha Indonesia bertema ‘Merajut Kebersamaan untuk Indonesia Damai’ beberapa lalu.

Dia mengatakan, pengusaha memiliki kepentingan besar menjaga persatuan dan kesatuan dalam rangka menjaga pertumbuhan ekonomi nasional. “Kami mengajak semua pengusaha yang ada di Jatim khususnya Surabaya untuk tidak melihat sebagai pendukung pasangan capres 01 atau 02. Tetapi, mereka sebagai pengusaha nasional,” kata Jamhadi, kepada Bisnis Surabaya, pekan lalu.

Kadin mengapresiasi semua pihak yang mampu menahan diri dan menjaga agar demokrasi Indonesia tumbuh dan semakin matang. Jamhadi, menyebut, seluruh pengusaha yang bernaung di Kadin telah memberikan kontribusi positif dalam demokrasi Indonesia dalam posisi yang mereka pilih masing-masing.

Meski berbeda pandangan politik, kata dia, para pengusaha tetap bersahabat baik. “Harus menjadi contoh bahwa sportivitas, jiwa besar, adalah sikap yang dianut pengusaha Indonesia. Dalam demokrasi, persaingan bukanlah permusuhan. Namun, kemajuan ekonomi menjadi tanggung jawab kita semua,” tambahnya.
Sementara, Pakar Ekonomi Dr Slamet Riyadi, melihat sejumlah indikator atau gelagat perkembangan ekonomi yang positif sebelum Pemilu 2019. Ia optimistis, investor tidak lagi wait and see untuk menanamkan modal di Indonesia pasca pemilu yang berjalan aman. Karena itu, tahapan pemilu yang akan diakhiri 22 Mei mendatang dengan pengumuman dari KPU tentang hasil Pemilu 17 April lalu bisa berjalan aman. Walau siapa-pun yang tampil sebagai Presiden Indonesia untuk masa bhakti 2019-2024.

Terlepas dari itu semua, dalam pengamangatanya, perkembangan realisasi investasi di Indonesia mencapai Rp 721,3 triliun sepanjang tahun lalu. Meski realisasi investasi mencatat kenaikan 4,1 persen dibanding periode yang sama 2017, hal itu belum menembus target realisasi Rp 765 triliun.

Sekretaris Badan Penanaman Modal kota Surabaya, Achmad Sugeng Wibowo, mengatakan, dampak pemilu terhadap pasar modal tahun ini tak sekuat pemilu-pemilu sebelumnya yang dilaksanakan sejak era reformasi. Hal ini, disebabkan berakhirnya era super commodity booming yang memicu defisit neraca berjalan selama lima tahun terakhir.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) realisasi investasi penanaman modal asing (PMA) 2018 sebesar Rp 392,7 triliun atau turun sekitar 8,8 persen dibanding periode 2017.
Sebaliknya, realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) tembus Rp 328,6 triliun atau naik 25,3 persen dibanding periode 2017.

Sementara itu, tenaga kerja yang terserap sepanjang 2018 mencapai 960.052 orang, terdiri atas PMDN 469.684 tenaga kerja dan PMA 225.239 tenaga kerja. Ketika harga komoditas melonjak, Indonesia meraup devisa yang melimpah dari hasil ekspor komoditas. Sehingga menopang surplus neraca berjalan. Tentunya, berdampak pada ekonomi daerah termasuk di Surabaya.

“Hasil penjualan komoditas ini memperkuat daya beli masyarakat. Kondisi ini tercermin pada peningkatan uang beredar (M1) yang kemudian digunakan untuk membeli kendaraan bermotor, properti, semen, dan lain-lain yang berdampak pada peningkatan laba emiten. Tidak mengherankan jika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melambung naik setiap tahun pemilu,” katanya.

Meski terindikasi prospek ekonomi nasional pasca pemilu mengarah pada kinerja positif, jangan sampai lengah. Alasannya, masih ada tahapan pemilu yang harus dilewati sebagai puncak dari pelaksanaan pemilu. (ton)