Harga Bahan Pokok Naik, Terima Apa Adanya!

18

Surabaya,(bisnissurabaya.com) – Sejak beberapa waktu lalu, masyarakat yang terbiasa berbelanja ke pasar mengeluh, harga bahan pokok kebutuhan makan merambat naik. Siapapun yang terbiasa berbelanja ke pasar, apabila kita tanyai akan menjawab: sudah biasa kalau menghadapi ramadhan dan Hari Raya Idulfitri. Jadi, kalau ada yang membesar-besarkan kenaikan harga pangan di pasar, seolah-olah bakal terjadi krisis pangan, adalah cuma mencari-cari bahan berita yang sensasional. Dalam rubrik Opini BS ini pernah saya tulis mengenai kenaikan harga demikian sebagai harga-tradisi. Meskipun tidak ada kendala jumlah dan tarif naik sarana transportasi bahan-bahan itu dari daerah ke kota-kota, atau ketersediaan komoditas pangan yang dibutuhkan dan juga tak ada masalah tenaga-tenaga yang terlibat dalam proses jual-beli itu, namun harga pun dinaikkan para pedagang karena “sesuai dengan tradisi”.

Cobalah kita perkirakan kebutuhan bahan makanan yang rata-rata dinaikkan antara 10 hingga 30 persen dari harga semula. Kalaulah kenaikan harga itu untuk kebutuhan selamatan menjelang bulan puasa, maka dilakukan dalam jangka waktu satu hingga tiga hari. Sesudah itu, pemeluk agama Islam melakukan kewajiban berpuasa. Tidak sarapan pagi dan makan siang. Diganti makan dalam berbuka puasa dan makan sahur menjelang pagi. Tak ada perbedaan jumlah makannya. Kalau sebelum bulan ramadhan secara adat atau budaya nusantara, mereka melakukan ziarah ke makam leluhur dan keluarga atau kerabat dekat. Yang jelas meningkat pemanfaatannya adalah bunga rampai untuk keperluan ziarah. Bagi orang Jawa, dikenal dengan waktu “Nyadran”. Itu pun berlaku paling lama lima hari sebelum ramadhan. Lalu, terjadi lagi selamatan nanti menjelang hari raya Idulftri.

Jadi, dari perkiraan macam itu, kebutuhan bahan makanan yang meningkat itu cuma terjadi beberapa hari. Mungkin bagi pedagang ukuran menengah dan kecil, hari-hari bisa menjual harga bahanan makanan yang dinaikkan dari harga hari-hari biasa, sudah dipatok sejak mereka mulai berjualan. Malahan dirancang sebagai tambahan sekedarnya dari keuntungannya. Sedankan bagi konsumen yang harus merogoh koceknya lebih dalam guna membayar harga-harga lebih tinggi dari hari-hari sebelumnya untuk membeli bahan makanan yang diperlukan, anggap saja hal demikian sudah menjadi tradisi yang sama seperti itu dari tahun ke tahun.

Kalaulah konsumen mengusulkan agar pemerintah dapat menekan kenaikan harga-harga tersebut, kiranya dalam pemerintahan kapan pun juga tidak akan sanggup. Harus membongkar kebiasaan yang bersifat tradisional dan malahan bisa menyinggung masalah religi. Kalau secara insidentil harus dilakukan oleh pihak pemerintah, maka satu-satunya adalah melalui sistem penjualan bahan kebutuhan pangan tertentu dengan harga dasar dalam “Operasi Pasar”. Tetapi itu hanya terbatas. Tidak bisa dilakukan di setiap pasar

Apabila kita bisa memahami asal muasal terjadinya kenaikan harga-harga tersebut, sementara bahan yang akan dibeli memang menjadi kebutuhan untuk sesuatu acara atau upacara khusus yang berlaku secara insidentil, maka tidak ada salahnya kalau konsumen bersangkutan dapat menerima apa adanya. Peristiwa macam itu selalu terjadi sejak bertahun-tahun lewat dan juga bakal terjadi di tahun-tahun depan, selama kebiasaan atau tradisi yang bersifat budaya bangsa dan religi itu tetap ada. (amak syariffudin)