Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Potensi bisnis Internet of Things (IoT) di Indonesia hingga 2022 sekitar Rp 444 triliun. Hal itu karena saat ini ada 140 juta pengguna internet. Potensi ini setidaknya ditangkap salah satu perusahaan yang menjadi salah satu ranah keahliannya. Apalagi perusahaan itu telah memasarkan 52 juta produk yang bisa diaktifkan melalui situs web (web-enabled), secara global, pada 2018 lalu.

‘’Untuk menangkap peluang bisnis itu, selaku perusahaan penyedia layanan dan teknologi global terkemuka serta pemimpin dibidang IoT, kami menggagas kompetisi pengembangan solusi IoT Oktober mendatang,’’ kata Managing Director of PT Robert Bosch Automotive, Toto Suharto, kepada bisnissurabaya.com, Kamis (2/5) siang.

Menurut dia, kompetisi ini bertujuan menumbuhkan kreativitas dan semangat inovasi di kalangan digital natives di Indonesia. Yakni, para maker, data scientist, hacker, IoT enthusiast dan developer. Kompetisi berformat hackathon menantang sejumlah peserta secara berkelompok saling pacu menyusun dan mengembangkan ide sampai kemodel bisnisnya.

“Bosch IoT Hackathon 2019 akan menyatukan para digital natives untuk beradu ide di ranah IoT guna memecahkan problematika di Indonesia. Terutama yang berkaitan dengan manufaktur pintar, mobilitas pintar, kota pintar, agrikultur pintar serta solusi IoT untuk peningkatan kualitas lingkungan,” ujarnya sambil menjelaskan kompetisi ini sudah berlangsung sejak 2014 dan menjadi ajang tahunan yang prestisius.

Ia berharap, lewat hackathon yang pertama kali ini, kata dia, akan lahir produk atau layanan IoT yang orisinal dan khas bagi masyarakat Indonesia. Untuk mensosialisasikan, pihaknya menggelar serangkaian pelatihan (class) dan temu wicara (Bosch Talk) di Surabaya, Jakarta, Bandung dan Yogyakarta, yang turut melibatkan pemerintah, akademisi dan pelaku industri.

Yang menarik, menurut dia, setiap kota akan berbeda cara kustomisasi sesuai keunggulan dan cirinya masing-masing. Misalnya, smart manufacturing di Surabaya, smart mobility di Jakarta, smart cities di Bandung, smart agriculture/aquaculture di Yogyakarta. “Tema manufaktur pintar atau smart manufacturing tepat merepresentasikan Surabaya, mengingat kota ini dan wilayah di sekitarnya menjadi salah satu sentra manufaktur penting di Indonesia,” papar Toto.

Selain untuk menggaet calon peserta hackathon, kata dia, lewat rangkaian sosialisasi di berbagai kota, pihaknya berupaya memancing keingintahuan khalayak yang lebih luas terhadap IoT guna menumbuhkan kekritisan terhadap kondisi sekitar dan memupuk semangat berinovasi – terutama di kalangan generasi muda.

Sementara itu, Direktur Industri Elektronika dan Telematika, Kementerian Perindustrian R Janu Suryanto, menyatakan, Indonesia memiliki kelemahan sumber daya manusia/SDM yang handal. ‘’Karena itu, ada program satu juta orang guna menaikkan skill Indonesia dimata dunia internasional,’’ kata Janu, yang juga didampingi Managing Director PT Bosch Rexroth, Hasbi Lubis.

Ia menyatakan, satu merk produksi handphone/HP membutuhkan sedikitnya 3.000 karyawan. Hal itu, dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan impor produk dari negara asing. ‘’Sekarang baru produk HP yang bisa dikerjakan. Selanjutnya meningkat laptop,’’ ujarnya. (bw)