Mari Berwisata di Sentra Perikanan

37

Surabaya,(bisnissurabaya.com) – KALAULAH Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, menyatakan adalah sebaiknya bisnis perikanan harus diarahkan kearah bentuk industri. Seperti melalui cara menggabungkannya dengan sektor pariwisata. Sehingga bakal lebih berkelanjutan untuk masa depannya. “Kita harus membangun ekowisata, geopark, fishery tourism, lalu marine tourism. Itu hal yang bagus, karena akan membuka lapangan kerja,” kata Susi (26/4).

Gagasannya itu bisa dianggap ideal dan masuk akal dalam kesiapan menghadapi sumber daya alam/SDA yang dari tahun ke tahun semakin menipis. Menteri itu mengingatkan, sumber daya tambang bakal habis. Tenaga kerja yang melakukan kegiatannya di sektor tersebut juga bakal mengecil jumlahnya. Ditambah, sektor-sektor lainnya yang berbasis SDA, juga bertambah mengecil. Namun, dari perikanan yang terjaga kondisi SDA-nya, tidak henti-hentinya akan memberikan kekayaan sumber dayanya bagi kita.

Namun, sumber daya itu juga bakal menipis apabila konsumen perikanan membutuhkan ikan jauh lebih banyak. Tetapi, kita tidak berupaya pelestariannya. Karenanya, Menteri Susi, mengingatkan untuk mulai mengembangkan keanekaragaman sektor bisnis dari cuma pada sektor perikanan untuk dijadikan bisnis yang menarik dan penting.
Namun, harus dibarengi kesiapan fasilitas dan layanan secara professional. Yakni, pada sektor kepariwisataan. Sehingga, bentuk bisnis di lokasi jual-beli ikan ataupun lokasi pangkalan kapal/perahu nelayan itu tidak hanya pada transaksi di sektor perikanan. Tetapi tergabung pula sektor pariwisata.

Mengapa sektor tersebut sebagai lowongan lapangan pekerjaan?
Masyarakat kita termasuk orang-orang yang paling suka melakukan perjalanan untuk melihat, merasakan atau menikmati daerah lain atau negara lain. Terutama, yang memberinya rasa lega, gembira, bangga ataupun dapat menyaksikan hal atau mendapat pengalaman baru yang indah atau menarik. Dorongan perasaan demikian menjadikan masyarakat suka melakukan perjalanan wisata. Bisa sendiri, bersama keluarga atau kawan, atau secara berombongan dengan kerabat. Bisa berjarak tempuh yang jauh, sampai yang di tempat-tempat dekat. Kalau rombongan dan berkendara bus menuju ke daerah pegunungan. Biasanya terbatas, menurut kondisi jalan dan kemampuan bus. Tetapi, kalau ke pantai, umumnya kawasannya luas dan angin laut yang segar, dipercaya menyehatkan paru-paru.

Kalaulah tempat-tempat pendaratan ikan (TPI) untuk para nelayan yang terlihat kini di sepanjang pantai provinsi Jawa Timur/Jatim, nampak selalu gersang dan jelas tersisa bau amis ikan. Apakah lokasinya yang ada di sepanjang pantai Laut Jawa dan Selat Madura hingga Selat Bali di bagian utara mulai perbatasan Kabupaten Tuban hingga di selatan Kabupaten Banyuwangi, ataupun yang berada di Pantai Samodera Hindia mulai Kabupaten Banyuwangi hingga Kabupaten Pacitan. TPI-TPI ataupun “kantong-kantong” perikanan seperti yang ada sepanjang Pantai Timur Kabupaten Sidoarjo ataupun Pantai Utara Kabupaten Situbondo. Sebagiannya bersinergi dijadikan obyek wisata perikanan dan pantai, maka jadilah sebagai lapangan pendapatan dari sektor baru tersebut.

Namun, membangun sarana untuk obyek wisata dalam bentuk bisnis gabungan tempat pemunggahan ikan dengan obyek wisata, apakah dalam bentuk bangunan (umumnya rumah makan atau penginapan), bukanlah asal bangunan-bangunan demikian berdiri dan berfungsi sebagaimana dimaksud. Akan tetapi perlu dilandasi dengan perencanaan estetika, indahnya, bersihnya sebagai lokasi berwisata yang baik dan enak. Jangan sampai banyak yang terlihat di pantai seperti Waru Ulo (Jember selatan) berupa “pantai warung” yang kumuh. Juga menyedihkan Pantai Pasir Putih (Kabupaten Situbondo) yang sejak dulu sudah menjadi obyek wisata yang berkembang pesat, justru orang-orang (terbanyak dari perkotaan) yang bukan sekedar tertarik pada pantainya, tetapi juga “di belakang” lokasi tersebut adalah hutan pohon jati Perum Perhutani Unit II. Namun sekarang, di dalam hutan itu pengunjung disuguhi sederetan warung atau bekas warung yang berantakan dan kumuh. Anak-anak yang barangkali hanya beberapa kali pernah menyaksikan hutan, bakal bertanya, apakah sisa warung-warung yang kumuh itu sisa dari orang-orang yang berkemah? Begitu pula di beberapa pantai tempat-tempat pemunggahan ikan laut dari nelayan, sering bagaikan pasar tradisional yang tidak tertata baik. Berantakan dan kotor. Artinya, tidak semua tempat TPI di sekitarnya didampingi obyek wisata dan dijadikan bisnis pariwisata. Apalagi kalau obyek itu diperlengkapi dengan berwisata menggunakan perahu layar atau perahu motor.

Kalaulah gagasan Bu Susi Pudjiastuti yang bisnisnya dimulai dari perikanan laut di Samodera Hindia dan berkembang dengan bisnis perusahaan penerbangan (Susi Air) itu dapat diterima oleh para nelayan sekitar dan tentu saja ada kemauan Pemerintah Daerah setempat, maka pembentukan bisnis pariwisata tipe demikian harus dibimbing pihak pemerintah daerah. Terutama dari Dinas Pariwisatanya. Ada bimbingan teknis demi tertib-teraturnya bangunan/fasilitas yang dibangun dan bagaimana sikap layanan para pelakunya terhadap pengunjung dan lain-lain. Kalaulah bisa dikembangkan dengan baik, maka keluarga para nelayan bisa mendapatkan pekerjaan. Terutama bisa membantu mengatasi permasalahan pendapatan nelayan bila laut kurang bersahabat oleh angin besar dan gelombang tinggi. Pendek kata, gagasan Menteri Kelautan dan Perikanan itu memang ideal, meskipun tidak semua lokasi TPI di Provinsi Jatim bisa dibentuk dan dibangun untuk sektor perikanan dan kepariwisataan. Namun, di beberapa TPI bisa direalisasikan. Mengapa tidak mencobanya? (amak syariffudin)