Potensi JLS bagi Produk Jatim

74

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – PERAJIN perak di Kotagede, Yogyakarta, sesambat karena produksinya mulai seret terjual keluar kawasan DI Yogyakarta. Pasarnya yang banyak di Bali, terutama untuk wisatawan Mancanegara/Wisman, dibebani beaya transportasi yang cukup tinggi. Kalau bukan lewat pesawat terbang, dagangan itu dibawa lewat darat melalui Surabaya atau luar kota baru ke Bali. Ke arah timur darinya, penjual batu-akik Pacitan yang memasarkan terbanyak cincin-cincin bermata batu akik selain Jakarta, Bandung, Yogya, Semarang dan Surabaya, adalah ke daerah tujuan wisata: Bali. Itupun lebih banyak dihitung dari beban beaya transportasi, meskipun terbanyak dibawa tangan menuju kota-kota tersebut.

     Sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda sudah terpikirkan untuk membuat jalur jalan rintisan sepanjang pegunungan Kendeng Selatan yang membujur sepanjang pantai Samodera Hindia di Jawa bagian selatan. Namun kawasan bergunung batu padas, kapur dan berhutan lebat itu memang sulit dibuat jalan raya. Selain itu, jumlah kepadatan penduduk serta produk bahan pangan tidak seperti bagian tengah dan utara Jawa. Jadi jalan raya itu menurut ukuran sekarang “sempit”. Tetapi itulah yang disebut oleh pemerintah Indonesia sebagai “Jalur Lintas Selatan (JLS)”. Di provinsi Jatim, dari arah barat ke timur menghubungkan kabupaten-kabupaten kecil dan besar mulai Pacitan (dari arah kabupaten Wonogiri, Surakarta;Jateng), ke Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember dan berakhir di Banyuwangi. Apabila disebutkan untuk dijadikan jalur wisata selatan Jawa, sepanjang jalan banyak sekali pemandangan yang eksotik, menarik dan banyak yang menegangkan. Terutama antara kota kecamatan Dampit (Malang selatan) hingga memasuki batas kabupaten Lumajang lewat lereng selatan Gunung Semeru, antara lain Pura Hindu (Bali) Mandhara Girfi Semeru Agung  di desa dan kecamatan Senduro (Lumajang).  Kalahlah obyek-obyek macam itu di bagian pantai utara (pantura).  Meskipun di beberapa bagian jalan itu di musim hujan rentan longsor, seperti antara Pacitan-Ponorogo-Trenggalek.

     Sejak beberapa tahun lalu, Pemda Jatim sudah mendorong usulan ke Pemerintah Pusat untuk “menghidupkan” JLS dengan cara pelebaran, perbaikan mutu jalan dan beberapa fasilitas untuk kelancaran jalanan itu. Namun proyek yang dimulai saat itu seperti setengah hati. Terhenti-henti, sehingga tidak juga tujuan mengintensifkan JLS terwujud dan tuntas keseluruhannya.

     Ketika menduduki jabatan Presiden, Jokowi yang melancarkan salah satu programnya adalah kelancaran infrastruktur darat, laut dan udara, JLS diingat kembali. Terlebih jumlah penduduk di sepanjang selatan Jawa menjadi padat dan produki hasil bumi maupun industri kecilnya potensial. Begitulah dilakukan pelebaran dan perbaikan jalan dimulai dari arah Jogjakarta, Surakarta lalu memasuki Jatim. Akhirnya terdapat dua jalur jalan utama proyek Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di pulau Jawa. Di tengah jalur jalan-tol Trans Jawa dari  Serang-Banyuwangi (kini sampai di Probolinggo), di selatan JLS hingga mencapai mendekati kota Banyuwangi.

     Jarak kota Jember dengan kota Banyuwangi sebenarnya hanya puluhan kilometer saja. Akan tetapi harus menanjaki lereng gunung Raung di Gunung Kumitir yang berada di perbatasan kedua kabupaten itu. Melalui jalan tanjakan, turunan dan jurang-jurang di hutan tutupan, perkebunan kopi dan cokelat. Jalannya selebar sejak jaman pemerintahan Hindia Belanda, tetapi lalu lintas yang lewat kepadatannya berlipat sepuluh kali lebih. Macet pun tidak bisa dihindarkan, terutama truk-truk besar dan bus-bus lewat sana.. Tak jarang yang mogok tak kuat menanjak, sehingga jalan yang sempit berjurang itu harus dilalui dengan cara antri.

     Bupati Banyuwangi, Azwar Anas, minta kepada Menteri BUMN Rini Soemarno (15/2) yang meresmikan pabrik cacao Perkebunan Kendeng Lembu PT Nusantara XII (BUMN) di desa Karangharjo, Glenmore, Banyuwangi dan meninjau proyek pembangunan pabrik PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) di kota itu, bahwa pembuatan JLS antara Banyuwangi dengan Jember melewati bagian selatan Gunung Kumitir memasuki kecamatan Glenmore bisa dilanjutkan. Sebab jaraknya tinggal dua kilometer saja.

     Apa pentingya JLS karena sudah ada jalan tol Trans-Jawa itu?

     Apabila ditinjau dari sektor perekonomian negara dan rakyat tentang potensi daerah yang dilalui atau daerah-daerah sekitar JLS, maka bisa dibuat daftar produk-produk potensial, terutama bahan makanan, dan sebagian bahan untuk bangunan gedung seperti batu granit, marmer dan lain-lain. Sebut saja beras, pisang, kelapa, buah-buahan lain, ikan laut (dari Pelabuhan Ikan Prigi, Trenggalek) maupun yang dari Banyuwangi (Pelabuhan Ikan Muncar). Tempat pemasarannya bukan hanya di Jatim, tetapi Jateng maupun Jakarta. Sebagian lagi diproses untuk pasar ekspor.

     Kiranya bagi  Gubernur  Khofifah Indar Parawansa bersama Wagub Emil E;lestiarto Dardak, kiranya JLS penting untuk dijadikan salah satu program kerjanya. Terutama bagi Wagub yang berpengalaman menjadi Bupati Trenggalek yang dilewati JLS, tahu benar fungsi penting jalan itu bagi kawasan sepanjang selatan Jatim.  Sangat potensial produk-produk pangan dan industri. Lintas kabupaten dan juga provinsi (Jatim, Jateng, DI Jogjakarta) lewat selatan juga bisa dikatakan sebagai jalur strategis bukan saja dalam hal sosial dan ekonomi, tetapi juga demi keamanan. Dari kalangan yang bergiat dalam industri pariwisata,– terutama travel agencies,– untuk wisnus, jalur tersebut bisa ditumbuhkan untuk tour ke obyek-obyek berwisata. Sangat banyak yang bisa diceritakan maupun dibawa ke obyek-obyek wisata oleh pramuwisata (tour guides) profesional kepada para tamu wisatawannya. Seperti antara lain pantai Tamperan, Gua Gong dan gua akik Pacitan, lalu Reog Ponorogo dan sate ayamnya, tempe atau keripik serta Pantai Teluk Prigi di Trenggalek, keripik tempe dan jajanan Tulungagung, Makam Proklamator Ir. Sukarno dan makanan pecel berikut bumbunya yang khas di Blitar, ke pantai Ngliyep-Pagak Malang selatan, pantai Sendang Biru dan pulau Sempu di selatan kota Tumpang,  ataupun pusat produk buah pisang, papaya dan lain-lain di Lumajang. obyek-obyek pantai Watu Ulo dan Tanjung Papuma serta oleh-oleh khusus di Jember, sampaipun di kawasan Banyuwangi yang bisa meliputi perkebunan, hutan-hutan cagar alam seperti Alas Purwo, cagar satwa Meru-Betiri dengan pantai Sukamade, Teluk Hijau, Pulau Merah dan banyak lagi. Termasuk kesenian antara lain tari Gandrung Banyuwangi. Kesemuanya punya ciri masing-masing karena saya sudah beberapa kali ke lokasi-lokasi itu. Mana pilihan obyeknya bisa diatur asalkan pengusaha travel agencies itu kreatif dan aktif.  Konklusinya : Pemerintah Pusat (Kem. PUPR) segera menyelesaikan sisa penghubung JLS antara Jember-Banyuwangi (yang informasinya tinggal 2 km lagi). Mumpung para bupati kedua kabupaten itu sebagai kepala daerah yang kreatif dan aktif. Bupati Banyuwangi, drs. Azwar Anas dan Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMB sebagai para pemimpin daerah yang berambisi memajukan daerah dan sosial-ekonomi rakyatnya. Termasuk pada sektor kepariwisataan. Yang jelas mendahului jalan tol Probolinggo-Banyuwangi (Probowangi) yang baru diselesaikan tahun 2020, karena harus dibuatkan terowongan di hutan Baluran, kecamatan Asembagus (Kab, Situbondo) ketika melewati Daerah Latihan Marinir di Baluran. (amak syariffudin)