Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Tedhak Siten, dipertunjukkan sebuah sekolah di Surabaya Barat saat jam belajar. Tradisi Jawa ini diaplikasikan ke dalam pendidikan muatan lokal/mulok guna memberikan edukasi kearifan lokal kepada siswa di sekolah tersebut.

Indonesia dikenal dengan sejuta budaya-nya. Julukan ini tak hanya kiasan hiberbola, namun benar adanya. Terdapat banyak budaya dan adat istiadat yang dimiliki Indonesia terangkum dalam satu gugusan budaya nusantara. Salah satu budaya yang menjadi tradisi dan melekat dalam kehidupan bermasyarakat adalah Tedhak Siten. Tradisi adat Jawa ini lebih familiar ditelinga masyarakat dengan nama turun tanah. Yakni upacara untuk bayi usia tujuh bulan. Tentu tradisi yang dilakukan ini bukan hanya semata sebagai seremoni. Tetapi sarat makna dalam kehidupan. Upacara adat yang dilakukan saat bayi berusia tujuh bulan ini memiliki tujuh prosesi. Dimana dalam setiap prosesi terdapat simbol yang mempunyai makna filosofis dalam kehidupan yang akan dijalani sang bayi. Karena itu, pembekalan edukasi tentang mulok ini berguna bagi siswa dalam kehidupannya kelak di Masyarakat.

Wakasek Bidang Kurikulum SMA Shafta Surabaya, Purwo Rahadityo, mengatakan, prosesi pertama adalah bayi yang dituntun untuk menapaki jadah atau berjalan di atas jenang yang terbuat dari ketan. Terdapat tujuh warna jadah yang dilewati bayi. Mulai hitam, ungu, biru, hijau, merah, kuning dan putih. Prosesi ini mempunyai makna bahwa hidup berawal dari gelap dan berakhir dengan terang. Prosesi selanjutnya bayi dipanjatkan tangga yang terbuat dari tebu. Tangga ibarat kehidupan, dimana jika seseorang melangkah tidak sesuai alur. Yakni, berjalan lurus ke atas akan terjatuh. Tebu difilosofikan dalam akronim dalam bahasa anteping kalbu atau ketetapan hati dalam menjalani kehidupan. “Prosesi ketiga bayi diarahkan untuk menginjak tanah yang bermakna agar kelak sang bayi bisa memenuhi kehidupanya ketika dewasa,” kata Purwo, kepada bisnissurabaya.com, Kamis (14/2) siang.

 

Prosesi selanjutnya, kata dia, bayi dimasukkan ke dalam kurungan yang berisi berbagai macam barang. Kurungan melambangkan dunia ini terbatas dan dalam hidup harus mematuhi segala aturan. Barang yang didalam kurungan nantinya akan dipilih sang bayi, yang melambangkan masa depan sesuai dengan barang yang dipilih. Selanjutnya kakek dan ayah si-bayi meyebarkan beras kuning bercampur dengan uang logam, yang bermakna agar kelak sang bayi memiliki sifat dermawan. Hal ini sesuai dengan adat Jawa dan ajaran Islam dimana kita sebagai manusia harus saling berbagi kepada sesama. Habluminanas atau hubungan baik dengan manusia selain hubungan baik dengan Allah. Prosesi ke enam adalah sang bayi di mandikan dengan air dari tujuh sumber. Tujuh yang dalam bahasa Jawa Pitu mengandung makna pitulungan atau pertolongan yang mempunyai harapan dalam hidup senantiasa mendapatkan pitulungan atau pertolongan. Prosesi terakhir yakni sang bayi dipakaikan pakaian baru yang bermakna agar bayi selalu sehat membawa nama harum orang tua dan hidup makmur.

Melalui penerapan pendidikan mulok dalam dunia pendidikan seperti ini, menurut dia, tradisi tedhak siten ini bisa dijadikan kearifan lokal. Sebagai edukasi nilai budaya dan adat ketimuran yang sekarang ini sangat minim dimiliki generasi muda. Dimana mayoritas mengalami kondisi krisis moral. Anak muda kehilangan sopan santun, dikarenakan mereka lupa budaya. Untuk itu, kata dia, pembelajaran yang dilakukan SMA Shafta Surabaya ini merupakan tindakan positif dalam pendidikan untuk membangun karakter generasi muda yang bermartabat dan menjunjung tinggi nilai kesopanan, budaya, agama dan adat istiadat. (timothy/stv)