Surabaya Tenang-tenang saja Hadapi DB

23

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – PARA pejabat, terutama dari Dinas Kesehatan Pemkot Surabaya dan juga Walikota Surabaya yang biasanya tergopoh-gopoh menghadapi permasalahan yang bisa mengganggu kotanya, hobbynya pada taman dan jabatannya, namun ketika wabah demam-berdarah (DB) melanda negara kita dan juga beberapa warga kota kita, kali ini bersikap tenang-tenang saja. Tidak ada sikap panik. Menganggap, penduduk dan warga daerah lainnya yang tinggal di kota Surabaya, semuanya manusia-manusia kebal DB. Ketika Kementerian Kesehatan mengumumkan semua kabupaten di Indonesia diserang penyakit DB, dan Provinsi Jawa Timur dinyatakan angka penderita penderita wabah itu paling tinggi, Pemkot Surabaya kalem-kalem saja.

Menurut nasehat orang-orang yang menggeluti kesehatan manusia: adalah lebih baik dan murah biayanya apabila kita menjaga kesehatan dengan pola hidup/makan dan obat-obat penangkalnya sebelum terserang penyakit, daripada bila sudah terserang penyakit. Akan berbiaya mahal. Pada hal, sudah ribuan anak-anak dan orang dewasa dalam musim pancaroba sekarang harus dirawat di rumah sakit. Sudah puluhan dan mungkin lebih dari seratus jiwa melayang akibatnya. Di Jatim, pemda kab Ponorogo, kota Mojokerto dan beberapa kabupaten//kota lagi kewalahan dengan banyaknya penderita DB karena kesulitan infus darah untuk trombosit tubuh penderita serta ruang inap di rumah-rumah sakitnya. Di Surabaya, RSUD Dr. Soetomo setiap harinya berturut-turut terus menerima pendeirta penyakit DB. Belum lagi beberapa rumah sakit lainnya.

Tentu saja kita (yang tinggal di dalam kota Surabaya) tidak ingin wabah itu “meledak” di ibu kota provinsi ini. Dengan kepadatan pemukiman di perkampungan, serta musim penghujan serta cuaca ekstrim sekarang, wabah yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti itu bakal mudah menular. Jadi, bagaimana sebaiknya untuk “menjaga kesehatan” masyarakat penduduk kota Surabaya terhadap DB itu? Memang perlu anggaran khusus atau lebih, yakni dengan aktif melakukan pengasapan (fogging) pada setiap kampung. Tak boleh pilih kasih. Kalau perlu ada urunan sebagian dari dana yang dikeluarkan untuk fogging berikut pelaksananya diambilkan dari kas RT/RW atau urunan penduduknya yang mampu. Tetapi, anggaran utamanya harus dari Pemkot Surabaya.

Yang selalu (atau terkadang) perkampungan yang di fogging itu berdasar usulan RT/RW karena ada warganya yang terserang DB. Malahan ada yang tidak dituruti tanpa ada alasan yang diberikan oleh Dinas yang bersangkutan. Jadi, pola kerja Dinas Kesehatan yang khususnya pada Direktorat/Bagian Pencegahan & Pemberantasan Penyakit Menular harus diubah. Dari melakukan fogging setelah menerima laporan berubah menjadi melakukan antisipasi terhadap munculnya penyebab penyakit itu.

Apakah masalah wabah itu ada urusannya dengan perekonomian dan bisnis? Tentu saja ada, apabila kita memandangnya dari potensi yang dimiliki oleh warga/penduduk kota. Dalam suatu keluarga ada anggota keluarganya yang terserang wabah itu, kehidupan dalam keluarga itu sudah menjadi terganggu, sehingga harmoni kehidupan keluarga tersebut menjadi tidak seimbang atau goncang. Itu pula yang bisa menimpa sumber daya manusia di sektor perekonomian/perdagangan tingkat dasar sampaipun atas. Terlebih kalaulah penderita tersebut sebagai “kunci kehidupan” keluarga bersangkutan.

Kita akan lihat, apakah kiat fogging demi antisipasi wabah DB untuk setiap kampung di kota Surabaya ini bakal dilakukan oleh Pemkot,– khususnya Dinas Kesehatan Kota,– sebab anggaran, tenaga dan kemampuan ada. Tinggal niat atau kemauannya yang masih meragukan. Masih ada kesempatan untuk mendapatkan penghargaan lagi: Jagonya Menangkal DB. fAtaukah tenang-tenang saja, tidak perlu panik, yakni selama staf atau karyawan dan keluarganya tidak terserang DB? (amak syariffudin)