Platform Pembayaran Digital Dengan Penawaran yang Menarik untuk Meningkatkan Inklusi Keuangan

123

Oleh : Rika Rahayu SM, MBA
(Dosen STIESIA Surabaya)

Baru-baru ini banyak sekali masyarakat yang mengenal beberapa proses pembayaran selain dengan menggunakaan kardu debit, kartu kredit maupun secara tunai. Salah satunya adalah anayanya pembayaran secaraa digital yang telah dilakukan oleh beberapa perusahaan di Indonesia. Mengingat beberapa Negara seperti di China hal tersebut sudah terlalu massive, namun di Indonesia masih tetap confidence untuk menjadi sistem pembayaran yang akan diminati untuk jangka waktu yang relatif lebih panjang nantinya.

Uang elektronik di Negara Indonesia beberapa tahun belakangan ini menunjukkan  perkembangan yang signifikan. Menurut data Bank Indonesia, nominal transaksi pembayaran non tunai pada periode Januari-September 2018 sudah menembus hampir Rp31 triliun. Sedangkan perlu diketahui bahwa di tahun 2017 transaksi pembayaran non-tunai di Indonesia hanya mencapai Rp12 triliun. Selain itu, realisasi 2018 kenaikan yang menakjubkan di tahun 2018 dibandingkan dengan tahun 2015 yang memiliki angka sebesar Rp5 triliun.

Peningkatan yang ditunjukkan oleh beberapa hal terkait inilah, tak lepas dari kinerja perusahaan-perusahaan tersebut dalam mengelola pemasaran yang dilakukan seperti salah satunya adalah pemberian cashback saat melakukan transaksi baik transaksi pengisian ulang saldo pembayaran digital maupun transaksi pemberian di suatu merchant tertentu.

Konsep yang digunakan oleh sebagaian besar perusahaan yang menawarkan pembayarana secara digital kepada seluruh pengguna yaitu konsumen juga akaan mengkolaborasikan dengan beberapa merchant, sehingga bisa dikatakan mampu menjaga kepercayaan antara pengguna dan menchants.

Pembayaran digital di Indonesia diantaranya adalah OVO, Go-Pay, T-Cash, Tokopedia dan masih banyak lagi saat ini mulai bersaing untuk mendapatkan kepercayaan pelanggan dalam pemanfaatan keuntungan transaksi beberapa produk tersebut.

Keuntungan yang didapat selain keuntungan secara fisik terhadap pembelian suatu produk hal ini juga memiliki dampak bagi masyarakat yaitu sebagai bentuk edukasi secara tidak langsung di Era Digital, membentuk sistem pembayaran yang efektif dan efisien serta memberikan kemudahan saat bertansaksi tentunya.

Kelemahan yang ada di negaraa Indonesia adalah, masyarakat Indonesia yang masih percaya dengan menggunakan uang tunai sebagai metode pembayaran yang aman dibandingkan dengan sistem aplikasi atau card dalam sistem pembayaran. Namun kelemahan tersebut bisa di padu padankan dengan peluang yang ada di masyarakat di era Digital salah satunya adalah jumlah pengguna internet oleh masyarakat dimana sudah menjadi kebutuhan pokok sejumlah orang dalam setiap kegitan. Hal ini dibuktikan dengan awal 2017, jumlah netter atau pengguna internet di Indonesia pada tahun 2017 mencapai 112 juta orang, mengalahkan Jepang di peringkat ke-5 yang pertumbuhan jumlah pengguna internetnya lebih lamban (sumber: KOMINFO, 2017). Pada dasarnya, pola hidup masyarakat di era digital sangat bervariatif. Hampir seluruh lapisan masyarakat memanfaatkan teknologi untuk memperoleh informasi, data, pinjaman, transaksi dan lainnya secara praktis dan cepat. Selain itu, keinginan konsumen yang berkeinginan dengan jumlah persyaratan yang relatif lebih ringan. Ekosistem baru mulai dibentuk dengan pola kerjasama dan bentuk inovasi dari para pemain besar akan sangat berpengaruh dalam pengembangan seluruh alat yang berbasis digital innovation.

Menurut Arner et., al, (2015) fintech berarti sama dengan suatu penggunaan teknologi untuk mentransfer beberapa solusi secara praktis dalam bidang keuangan. Berkaitan dengan inovasi, dikenal istilah disruptive innovation yang mampu menawarkan kemudahan transaksi, akses, kenyamanan, biaya dan bersifat praktis pula hal ini dikutip dari Harvad Business Review.

Dengan memadukan kelemahan dengan peluang akan menjadi kekuatan yang besar bagi perusahaan untuk menciptakan produk yang berdaya saing. Tidak hanya produk atau jasa tetapi cara atau sistem pembayaran menjadi suatu bentuk pengembangan yang mampu membentuk pola hidup masyarakat.

Salah satu perusahaan PT. Visionet Internasional dengan produknya yaitu OVO telah dikenal oleh masyarakat dan mengalami peningkatan pengguna hingga tahun 2019. OVO memanfaatkan model SWOT yaitu kelemahan menjadi peluang suatu kekuatan perusahaan dengan sistem pembayaran. Karena dirasa sukses dalam peluncuran produk baru tersebut, OVO akan melakukan pengembangan beberapa program yaitu, pertama adalah fitur Working Capital Loan, yakni layanan akses modal kerja untuk agen, merchant, serta mitra pengemudi Grab. Dan fitur PayLater, layanan cicilan online tanpa kartu kredit untuk semua pengguna OVO. Selain itu Go-Jek sebagai pemain lama juga mengembangkan bisnisnya dengan memanfaatkan kelematan menjadi kekuatan dengan menawarkan fitur baru yaitu Go-Pay.

Konsep pembayaran secara digital ini mulai dikembangakn melalaui kegiatan pemasaran oleh perusaahaan-perusahaan terkait seperti Go-Jek melalui Go-Pay dan PT. Visionet Internasional melalui produk OVO. Hingga tahun 2019, bisa ditilik bersama banyak sekali bentuk promosi yang ditawarkan salah satunya adalah pemberian cashback bagi pengguna untuk pengguna agar pengguna tetap menunjukkan loyalitasnya terhadap produk tersebut. Proses ini biasanya dikenal dengan bakar uang yang luar biasa, karena cashback yang ditawarkan hampir 70% dari jumlah transaksi. Promosi yang dilakukan dengan memberikan cashback yang diberikan financial technology di Indonesia merupakan bagian dari strategi marketing menggaet user acquisition yang tak murah.

Penggunaan digital innovation sebagai rantai pendukung dalam menjalankan proses pengantar pengetahuan maupun informasi. dengan digital innovation mampu mendorong kinerja Knowledge Management System (KMS). Knowledge Management System (KMS) merupakan informasi berbasis pengetahuan yang mendukung penciptaan, pengaturan, dan penyebaran dari pengetahuan bisnis kepada karyawan serta atasan dari suatu perusahaan (O’Brien dan Marakas, 2010).

Cashback merupakan salah satu bentuk promosi yang dilakukan oleh satu atau lebih para pemberi produk atau jasa dengan pengembalian dari yang telah diterima. Banyak konsumen yang tertarik dengan promosi tersebut. Sehingga ini akan maampu meningkatkan kepuasan pelanggan menjadi setingkat lebih tinggi yaitu menjadi loyalitas pelanaggan. Go-Jek dengan fitur Go-Pay sudah mulai membakar uang dengan beragam promo untuk menciptakan ketergantungan konsumen. Sehingga, layanan platform digital payment di bawah fintech diharapkan bisa menjadi tumpuan untuk menambah pundi-pundi kekayaan baru di luar bisnis inti mereka.

Dengan memberikan bentuk promosi seperti cashback akan mampu memberikan peningkatan pada inklusi keuangan pada financial technology, sehingga masyarakat tidak hanya mengetahui pembayaran secara cash dan terlihat lebih praktis dengana menggunakan sistem pembayaran digital. Inklusi keuangan adalah pengetahuan keuangan yang diketahui baik dalam bentuk maupun sistem dalam bidang keuangan. Selain itu, perlu adanya menciptakan persepsi dalam setiap penggunaan suatu sistem dengan tindakan promosi melalui cashback akan mampu meningkatkan inklusi keuangan dan loyalitas pelanggan.

Mutlak hingga saat ini pemberian promosi dengan cara cashback sangat potensial untuk meningkatkan inklusi keuangan dan loyalitas pelanggan, yang telah ditawarkan oleh beberapa platform oleh perusahaan-perusahaan startup. Memberdayakan metode pemasaran dengan cashback mampu memberikan kekuatan yang luar biasa bagi peningkatan inklusi keuangan sehingga masyarakat lebih optimis untuk memulai segala bentuk aktifitas bisnis dan kegiatan konsumtif dengan lebih efektif dan efisien.