Revitalisasi Pabrik Gula & Tebunya

58

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – BERSIAP-SIAP munculnya keluhan dan protes mengenai stok nasional ataupun kenaikan harga gula putih di pasaran dan rencana impor gula, beberapa pengamat ekonomi maupun kalangan yang berkepentingan mengenai pergulaan nasional, di awal tahun ini mulai angkat bicara. Mencari akar  penyebab utama sering terjadinya kelangkaan stok nasional, tingginya harga di pasaran dan pro-kontra impor gula. Secara riil mencari tahu, apa yang menjadi penyebab selalu tidak seimbangnya antara stok nasional asal produk gula dalam negeri dengan kebutuhan masyarakat terhadap komoditas tersebut. Dan itu berlaku sejak satu dekade lalu yang disebabkan sangat meningkatnya kebutuhan gula untuk konsumsi rumah tangga dan terutama kebutuhan industri.

Permasalahan tersebut tiba-tiba saja dimulai oleh pernyataan Assyifa Szami Liman (26/1), peneliti dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS): “Salah satu penyebab rendahnya produktivitas gula lokal adalah banyak pabrik gula di Indonesia yang sudah sangat tua.” Menurutnya, perlu dilakukan revitalisasi (menjadikan bervital kembali) sebagai langkah penting guna “melesatkan” produktivitas perkebunan tebu yang terdapat diberbagai daerah di Indonesia. Revitalisasi itu meliputi mesin produksi, memperbaiki kualitas tebu yang  kini dipengaruhi oleh faktor geografis iklim lokal. Katanya, untuk menekan impor gula memang bukan pekerjaan mudah dan dapat dilakukan apabila di dalam negeri sudah tercukupi permintaan dan tersedia gula pada harga yang terjangkau pasar.

Saat kini, harga gula kita tiga kali lipat lebih mahal dibandingkan dengan  harga gula di pasar internasio-nal. Tingginya harga lokal itu mengindikasikan adanya harga produksi yang sudah tinggi di tingkat produsen gula lokal. Tentu yang dimaksud adalah perusahaan negara (BUMN) PT Perkebunan (Gula) maupun beberapa saja perusahaan swasta nasional. Apabila diperbandingkan, menurut catatan dari departemen pertanian Amerika Serikat (United States Department of Agriculture/USDA) tahun 2018, produksi perkebunan tebu di Indonesia tahun 2017 hanya mencapai 68,29 ton per hektar. Jumlah tersbut lebih rendah daripada produksi tebu luar negeri. Seperti di Brasil 68,94 ton /ha dan India 70,02 ton/ha pada tahun periode yang sama.

Sementara itu, pengamat ekonomi Revisond Baswir, menganggap pentingnya revitalisasi itu secara menyeluruh guna mengatasi persoalan harga gula lokal yang tinggi dan tidak laku di pasaran. Namun dia berpendapat, apa yang dikerjakan sekarang dalam upaya revitalisasi di kalangan pemerintahan (termasuk oleh perusahaan negara) dan sebagian swasta, berjalan setengah hati. Bukannya menyeluruh. Meskipun dia mengakui hal itu sulit. Termasuk kurangnya minat para investor menanamkan modalnya pada pabrik gula, karena masih melihat produksi tebu nasional yang belum mencukupi untuk kebutuhan pabrik gula. Terutama guna perluasan lahan tidak mudah dilakukan karena peruntukan lahan pertanian masih menjadi kendala dan belum ada upaya serius mengatasi masalah tersebut. Kalau dilihat dari data statistik, rata-rata lahan perkebunan tebu pada periode 2008-2017, tidak banyak mengalami perubahan, yakni di kisaran 450.000 hektar dengan produksi 246 juta ton. Lahan tersebut masih bercampur-campur,. Jarang lahan untuk tebu saja tanpa ditanami  lain tanaman.

Berbeda dengan lahan kebun tebu di Brasil, Australia Utara/Barat dan India serta sebagian di Filipina. Lahan-lahannya khusus untuk tanaman tebu, yang malahan seolah “hutan tebu”. Pohon-pohonnya dibiarkan tumbuh, dipotong, tumbuh lagi dan dipotong lagi, begitu seterusnya. Lahan perkebunan itupun adalah milik perusahaan itu atau disewa, tetapi khusus untuk perkebunan tebu.  Di PT Perkebunan Negara kita, sejak kira-kira tahun 1960-an, sudah diperkenalkan bibit unggul serta cara panennya. Yakni panen dengan pemotongan kesatu, dibiarkan tumbuh untuk potongan kedua dan terakhir ketiga. Tanah dibongkar dan biasanya diseling tanaman pangan (bila lahan sewa dari petani).

Sewaktu pemerintahan Presiden Sukarno, sekitar tahun 1960-an usai  penumpasan beberapa pemberontakan di daerah-daerah, berdasar kepentingan politik “untuk membangun industri pertanian di daerah”, dengan dana bantuan hadiah Pampasan Perang dari Jepang, membuat proyek-proyek pabrik gula berikut perkebunannya sekali di Maluku Selatan (di desa Makariki, Seram selatan), di tenggara Kalimantan Selatan, di pulau Sumbawa dan di Cot Girek, Lhok Seumawe (Aceh). Pada tahun 1971, saya pernah meninjau lokasi-lokasi itu. Beberapa bahan bangunan untuk pabrik, kereta api kecil (lori), beberapa tractor dan beberapa kendaraan roda empat sudah ada, namun belum kesemua komponennya lengkap, dan kondisi tanahnya ada yang tidak cocok karena asam, jalur  infrastrukturnya tidak ada atau sangat sulit, terlebih lingkungan sosialnya sangat tidak mendukung. Terlebih lagi, dana proyek tersebut lebih banyak diselewengkan di tingkat Pusat maupun di daerah. Kesemuanya hingga kini tinggal puing-puing atau habis dirombeng!

“Ketuaan” unit-unit produksi tebu sudah lama diketahui. Namun entah mengapa hanya beberapa pabrik tebu milik BUMN di Jawa Timur yang direnovasi, meskipun tidak menyeluruh. Antara lain PG Pesantren, Kediri dan PG Jatiroto di Lumajang. Sejak jaman Hindia Belanda, pusat industri gula berada di Jawa Timur.  Meskipun puluhan darinya sudah hancur karena dirusak ketika Perang Kemerdekaan I dan II (1945-1951), namun beberapa masih potensial, terdapat di kabupaten-kabupaten Madiun, Kediri, Jombang, Mojokerto, Sidoarjo,  Malang, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo dan Jember. Sedangkan milik swasta antara lain berada di Candi, Sidoarjo. Meskipun nampaknya pabrik-pabrik gula (PG) itu ada di mana-mana (antara lain ada 2-3 PG di Jawa Tengah dan 1 PG di Jawa Barat), namun produksinya dianggap rendah dibandingkan dengan produsen-produsen gula luar negeri.

Sampai dengan sekarang, sistem lahan tebu terbanyak milik petani pemilik tamah di pedesaan, atau milik beberapa pegawai negeri sipil di daerah yang memiliki lahan-lahan pertanian di desa. Sebagian besar dari mereka dulunya masuk dalam kelompok-petani TRI (Tebu Rakyat Intensifikasi), dan melakukan semuanya melakukan penanaman seling. Padi, tebu, palawija bergantian.

Selama unit-unit produksinya harus dipermodern demi produk yang tinggi, namun yang sulit dilakukan selama PG itu berada di pulau Jawa yang sudah padat penduduk ini adalah menyempitnya lahan pertanian oleh peruntukan yang non-pertanian. Selama demikian, pemenuhan konsumsi di pasar selalu berkurang dan harganya menjadi tinggi. Karenanya diharapkan, ada para investor yang “berani” membuat perkebunan tebu berikut PG-nya. Itu harus dilakukan di luar Jawa. Namun harus melalui penelitian kadar tanahnya, tidak membabat hutan dan mematikan sumber air, mengikutkan sebagian masyarakat setempat jadi tenaga kerja di kebun atau pabrik usai pelatihan dan disiplin mereka. Tentu saja harus diiringi kemudahan berinvestasi serta dukungan dalam membuka lahan itu dari pemerintah pusat dan terutama pemerintah di daerah masing-masing proyek tersebut.  Ide Presiden Sukarno dulu adalah baik. Namun tidak diiringi perencanaan dan penelitian yang matang dan baik serta kinerja yang korup saat itu. Dengan demikian, maka akan berpengaruh pada perubahan terhadap pola tanam tebu dan produksi gula yang sudah ada sekarang di Jawa. Atau terpaksa PG bersangkutan akan ditutup. Demi kemajuan di satu sektor, kadangkala juga membawa dampak yang berat pada kehidupan sektor lainnya. (amak syariffudin)