Gresik, (bisnissurabaya.com) – Tak ada pekerja anak di Gresik. Di perusahaan yang tersebar di berbagai daerah di kota pudak ini semua mempekerjakan tenaga yang sudah cukup umur. Berbagai langkah telah dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik unutk mencegah terjadinya penyalahgunaan umur usia tenaga kerja. Yaitu penerapan sepenuhnya Wajib Belajar 9 tahun. Dan juga penyuluhan kepada para ibu.

Bupati Gresik  Sambari Halim Radianto saat menerima kunjungan kerja Komisi IX DPR RI ke Gresik menyatakan tidak terdapat pekerja anak di kabupaten yang dipimpinnya itu. Bupati yang didampingi oleh para Kepala OPD Pemkab Gresik menerima kunjungan para anggota DPR RI yang saat itu diikuti oleh pejabat dari Kementerian Tenaga Kerja, Pejabat BPJS Ketenagakerjaan  di kantor Pemkab, Selasa (29/1) lalu.

Orang nomor satu di pemerintahan Kabupaten Gresik itu menjelaskan ketenagakerjaan di wilayahnya sudah menerapkan Upah Minimum Kabupaten (UMK) tertinggi di Jawa Timur yaitu Rp 3.874.000. Bupati Sambari juga mengatakan, tidak adanya pekerja anak di Gresik sudah sesuai dengan Perda Kabupaten Gresik nomer 18 Tahun 2011 Tentang Penyelenggaraan Ketenagakerjaan.

“Kami juga menugaskan seluruh camat yang ditindaklanjuti sampai ke Kepala Desa untuk mewajibkan orang tua agar mendidik anak dengan wajib belajar sampai SMA. Selain itu, pemahaman wajib belasjar itu juga kami sosialisasikan kepada seluruh TP PKK dan sekolah Perempuan.” tandas Sambari.

Bupati Gresik Sambari Halim Radianto (kiri) ketika menerima kunjungan kerja Komisi IX yang diketuai oleh Dede Yusuf. (Foto/sam)

Pernyataan Bupati Gresik ini juga diperkuat oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Gresik Triandhi Suprihartono yang juga turut hadir bersama Kepala Dinas Tenaga Kerja Gresik. Menurutnya sampai hari ini tidak ada pekerja anak di Gresik. “Saya tidak menemukan adanya anak dibawah umur yang bekerja di perusahaan di Gresik. Mengingat bila hal itu terjadi resikonya terlalu berbahaya,” ungkap Triandhi.

Pada kunjungan khusus ini  Komisi IX DPR RI, Dede Yusuf bertindak sebagai Ketua Rombongan. Pria yang juga bintang layar kaca itu menyatakan kedatangannya untuk mencari data terkait data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2017 ada 2  juta lebih pekerja anak di Indonesia. Di Jawa Timur ada 160 ribu pekerja anak yang terbesar ada di sektor pertanian.

“Sebagai kota industri, saya ingin tahu persis adakah pekerja anak disektor perusahaan di Gresik. Namun sekarang semuanya sudah jelas setelah kami mendapat informasi dari bapak bupati. Saya bangga dengan yang sudah dilakukan oleh Bupati Gresik dalam upaya untuk meniadakan tenaga kerja anak.” paparnya.

Dede Yusuf juga menyatakan keprihatinannya bahwa sesuai data yang dimiliki, dari jumlah 130 juta tenaga kerja di Indonesia 60 persen mereka adalah tamatan SD dan SMP. Hal ini akan semakin rentan terhadap kemiskinan.

“Saya bangga dengan Gresik atas upaya dari Bupati Gresik yang sukses dalam meniadakan tenaga kerja anak dan peningkatan partisipasi masyarakat dibidang pendidikan. Hal ini patut dijadikan contoh oleh kabupaten yang lain,” katanya saat berbicara dengan Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemkab Gresik Sutrisno disela-sela kunker. (sam)