Kalau Taman Nasional Komodo Ditutup

30

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – IDE Gubernur Nusa Tenggara Timur/NTT, Viktor Lasikodat, untuk menutup pulau-pulau Taman Nasional/TN Komodo selama satu tahun dengan alasan untuk memperbaiki revitalisasi kondisinya yang dianggapnya kini terancam oleh ulah manusia pendatang maupun tindak kriminalitas. “Pulau Komodo ini kita revitalisasi sebagai menjadi taman yang indah, kemudian rantai makanan seperti kerbau dan rusa itu selalu tersedia dan banyak.” ujarnya. Kalaulah idenya itu dapat dan jadi dilaksanakan, yang jelas industri pariwisata dan pemerintah bakal kehilangan duit dan devisa yang tidak kecil. Bisa mencapai ratusan juta rupiah ataupun ribuan dollar AS tiap bulannya. Puluhan biro-perjalanan-umum (travel agencies) di mana beberapa darinya berada di Surabaya, di Bali dan Jakarta, tidak bisa memenuhi permintaan wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan nusantara (wisnus) yang ingin berwisata ke sana tidak bisa dipenuhi. Puluhan hotel berbagai kelas dari yang berbintang maupun budget-hotel sampaipun homestays di kota Labuhan Bajo, disebut sebagai “jumping-board” menyeberang ke desa Komodo di ujung barat pulau Flores (NTT) yang berslogan “ulu gheta leja geju eko ghale bajo Bima” (sang kepala menghadap matahari/timur Timor, ekornya di sebelah barat menghadap Bima/NTB) itu bakal kosong. Belum lagi para pelaku layanan wisata pelayaran dan penghantaran wisatawan domestik/mancanegara setiap harinya dari Labuhan Bajo atau dari lain daerah menuju pulau Komodo. Secara psikologis dan ekonomis, dunia kepariwisataan kita kehilangan salah satu pamor sebagai daerah tujuan wisata (DTW) di gelanggang wisata petualangan (adventures) yang paling unik di dunia. Unik, karena komodo (Varanus komodoensis) merupakan satu-satunya jenis satwa di dunia dari sisa peninggalan jaman purba. Dunia internasional menggolongkannya sebagai jenis “naga” (“komodo-dragon”).

Apa penyebab muncul gagasan penutupan sementara pulau itu sekurang-kurangnya selama satu tahun? Alasannya, kijang-kijang aseli pulau itu yang jadi makanan utama yang diburu oleh komodo, kini sangat berkurang. Dari sejarah siklus kehidupan komodo dan mata rantai makanannya, yakni kijang dan kerbau liar, baru sekarang hal demikian terjadi. Bukan karena kijang-kijang dan kerbau-liar itu tak mau beranak-pinak atau berkembang biak, akan tetapi ternyata kijang-kijang tersebut diburu habis-habisan oleh para pemburu liar yang berdatangan diam-diam dari luar pulau Komodo, pulau Rinca dan beberapa pulau kecil lainnya di sekitarnya. Bulan lalu diberitakan, bahwa ketahuan oleh pihak Kepolisian penangkapan (perburuan) sekitar 300 ekor kijang pulau Komodo!

Mulai punahnya rantai makanan satwa purba itulah yang merisaukan Gubernur NTT yang peduli keberadaan dan kelestarian satwa itu. Kalau makanannya punah, para komodo itu akan menjadi satwa-satwa kanibal. Memakan sesama mereka. Alam mengatur siklus kehidupannya. Mereka memakan anak-anaknya yang baru menetas dari telurnya. Karenanya, secara naluriah pula, para komodo anakan tersebut begitu lahir dan bisa berjalan atau berlari, segera mencari pohon untuk memanjatnya agar tidak dimakan oleh komodo dewasa. Lebih mengkhawatirkan, di teluk pulau itu yang berada di Selat Lintah, terletak Desa Komodo. Di desa itu kantor dan perumahan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pulau Komodo dan tinggal ratusan keluarga penduduk asal nelayan pendatang asal Sulawesi Selatan sejak jaman Hindia Belanda. Meskipun kini mereka seolah “bersahabat” dengan Komodo, tetapi tidak boleh lengah. Bisa-bisa kaki disambarnya. Komodo bebas berkeliaran di perkampungan. Penduduk tahu batas (terutama anak-anak) untuk tidak mengusiknya. Akan tetapi, karena komodo-komodo itu makanannya daging, kalaulah terjadi krisis makanan, dengan sendirinya bisa-bisa tidak lagi bersahabat dengan penduduk di situ.

Dasar pemikiran itulah antara lain perhitungan Gubernur NTT untuk menutup pulau itu selama setahun, menunggu “pulihnya” populasi kijang dan lain-lain binatang sebagai mata rantai makanan komodo.

“ Saya kira ide pak Gubernur itu, kita harus dengar. Tapi saya bilang dengan pak Dirjen dan sekarang sedang dikerjakannya collect atau mengumpulkan semua informasi dari lapangan taman nasional sudah ada masterplan dan ada zona-zonanya dan sekaligus check apa yang jadi masalah Taman Nasional Komodo.” Begitu tanggapan Menteri Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Siti Nurbaya (24/1) yang menjelaskan, bahwa urusan konservasi satwa dan penutupan pulau itu adalah berdasar UU Kehutanan, UU Konservasi, UU Pemda dan Perpu tentang pembagian urusan. “Konservasi itu urusan pemerintah pusat.” katanya.

Jangan sampai ada pemikiran, bukankah sekarang di beberapa kebun binatang dan taman safari jumlah komodonya bertambah-tambah? Bila nantinya terjadi “defisit komodo”, di drop saja dari kebun-kebun binatang atau taman safari? Namun, sangat berbeda habitat dan cara hidup komodo peliharaan dengan yang di alam liar. Yang dipelihara setiap harinya diberi makan. Yang liar di pulau Komodo dan pulau Rinca adalah memburunya secara alamiah..

Perlu dipermasalahkan, siapa sebenarnya yang bertanggung jawab terhadap pengamanan demi pelestarian kawasan dan satwa itu? Direktorat Jenderal Konservasi KLHK seharusnya tahu apa yang mengancam kehidupan komodo di habitatnya itu. Dalam pengamanannya, adalah menjaga lingkungan kepulauan Komodo-Rinca dan sekitarnya yang secara sah diakui oleh Unesco sebagai warisan alam maupun sejarah. Obyek yang dinamai “Komodo National Park” itu kita jadikan salah satu unggulan pariwisata di kelas dunia dan sumber keuangan negara, bisnis pariwisata maupun masyarakat. Namun untuk menjaga keberadaan dan kelestariannya saja ternyata kita rapuh. Mungkin pemerintah masih bisa “mengimpor” rusa-rusa untuk mengisi kekurangan mata rantai makanan para komodo di sana. Namun sebenarnya cara demikian dalam teori dan tata cara menjaga pelestarian alam adalah kurang benar. Sebab, alam sudah mengatur dirinya sendiri, asalkan aturan alam itulah yang harus kita jaga dan lestarikan. Pak Viktor Lasikodat seolah membangunkan para pelaku di Kementerian KLHK dan aparat keamanan sipil soal ancaman terhadap peninggalan purba yang diberikan oleh alam kepada kita itu. Malu kita, karena kasus tersebut sudah menjadi obyek pemberitaan negatif di media massa global! Sekurang-kurangnya di televisi Medco Singapore dua minggu lalu. (amak syariffudin)