Perubahan Minat & Pasar : Bisa Ada Korban

67

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – DALAM dunia perdagangan, terutama yang menyangkut selera manusia konsumen,– pengusaha harus mewaspadai pertanda terjadinya perubahan sikap konsumennya. Apa yang menjadi pertanda perubahan sikap tersebut? Kalaulah dalam kehidupan sosialnya, orang-orang banyak menggunakan atau memanfaatkan cara atau pola baru dalam kehidupan bersosialnya. Bisa saja hal yang baru itu sebenarnya berasal dari hal yang dulu-dulunya sudah ada, namun kini ditumbuhkan menjadi hal yang “baru” disesuaikan dengan selera atau minat manusia masa kini. Adalah suatu hal yang kini memaksa pengusaha untuk mencermati dan bila dimungkinkan memanfaatkan teknik dan piranti electronics-trade.

Komoditas berikut kiat pemasarannya kepada berbagai jenis konsumennya terdiri dari beraneka ragam. Dari barang-barang produk jenis makanan, minuman sampaipun pakaian dan kebutuhan tubuh serta kecantikan. Kesemua komoditas yang dipasarkan melalui gerai-gerai pertokoan atau retail-shops. Alias toko ritel. Toko-toko yang bisa terbagi khusus menjaul kebutuhan pakaian dan kecantikan atau berdandan demi untuk pergaulan, lalu ada yang khusus menjual kebutuhan makanan-minuman serta obat-obatan kecil, ataupun toko ritel itu menjual kedua jenis barang kebutuhan manusia tersebut.

Sejak bertahun-tahun lalu, pengusaha yang berminat dalam perdagangan ritel berlomba mendirikan matarantai pertokoan ritel di satu kota ataupun pada kota-kota yang tersebar di negara kita. Perintis toko ritel kelas elit di Indonesia bisa dikatakan dilakukan oleh NS Kurin yang mendiriikan ‘Toko Hero’ pada 1954. Dia belajar di Singapore mengenai toko ritel. Hasilnya, berdirilah “kerajaan toko ritel’ pada 1994 sejumlah 56 ‘Hero Supermarket’ yang bertebaran di beberapa kota besar. Dia pernah rugi besar dalam kerusuhan politik 1998 karena beberapa toko ritelnya terutama di Jakarta, di bakar massa karena dituduh “berbau Amerika”. Akan tetapi dapat bangkit kembali. Jadinya, banyak yang menjadi heran, pada Januari 2018 ini management Hero Supermarket tiba-tiba menyatakan akan menutup 26 gerai (tokonya) dan melakukan PHK 533 karyawannya.

Apa yang sedang melanda keberadaan toko ritel?

Ignatius Untung, ketua idEA (organisasi online shops/pertokoan ritel) memperkirakan krisis Hero itu kurang efisiensinya, selain saat kini menurutnya rata-rata minat beli masyarakat menurun (16/1).

Tentang “menurunnya minat beli masyarakat”, bisa saja terjadi terhadap satu-dua toko ritel. Terutama yang menjual sandang atau accesories untuk sandang. Namun, kalau dinyatakan “daya beli” yang menurun, kiranya harus ditleiti lagi. Benarkah terjadi hal yang demikian? Apakah dikarenakan masyarakat mempunyai banyak pilihan untuk melakukan pembelian. Apakah sandang ataupun pangan dan minuman. Hal itu karena begitu banyak dan bervariasinya toko-toko ritel, sampaipun ke kawasan pedesaan yang dilalui jalan raya. Kenyataan mencolok keberadaan toko ritel Indomart dengan Alfamart yang selalu didirikan berdekatan dalam model persaingan mereka. Ataukah memang kesepakatan kedua perusahaan raksasa itu. Di pusat-pusat pertokoan (mall), begitu banyak gerai yang menjual barang kebutuhan sandang yang bisa jadi pilihan menurut selera/minat calon pembeli. Belum lagi sudah ada yang menjual kebutuhan sandang atau kebutuhan kecantikian melalui online. Kesimpulannya, bukan karena minat atau daya beli menurun drastis, akan tetapi pilihan untuk membeli dan cara untuk membeli yang bervariasi karena tersedia banyak gerai ritel.

Bagi management toko-toko ritel,– terutama yang besar,– hendaknya bisa selalu mengamati perubahan minat atau gaya hidup orang-orang yang disasar selaku konsumennya. Perubahan dalam gaya hidup, terutama dalam cara berpakaian, dan terutama pula bagi para gadis atau wanita muda, bisa dijadikan perkiraan dalam melakukan pemasaran dagangannya. Berarti pula, pengusaha yang memproduksi barang-barang tersebut yang pertama-tama harus mengikuti irama minat calon konsumen menurut strata sosial mereka.

Kalaulah diperkirakan kurang efisiensinya sesuatu management perusahaan (antara lain dalam bisnis toko-ritel) sehingga bisa merugikan perusahaannya, mungkin salah satunya adalah dalam kemampuan mengamati calon konsumennya serta cara melaksanakan pemasarannya. Masalah minat, selera selalu berubah pada masa-masa tertentu. Di situlah letak kepekaan dan kesulitannya dalam berproduksi dan memasarkan barang-barang yang bisa berubah pola atau bentukatau macamnya bagi kebutuhan dan minat manusia. Pola itulah yang bisa saja membawa korban dalam berbisnis. (amak syariffudin)