Ike Widayanti : Korban Rokok Merindukan KTR

169

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Hati siapa yang tak sedih melihat seseorang bercerita kepada banyak orang, tanpa bisa menggunakan suaranya. Yaaaa……, perempuan cantik itu bernama Ike Widayanti. Dia menjadi  korban keganasan rokok. Padahal wanita ini bukanlan seorang perokok.

Awalnya, Ike, adalah salah seorang pekerja di sebuah restoran yang membebaskan pengunjung dan karyawannya merokok. Selama 10 tahun bekerja disana, wanita kelahiran Surabaya, 31 Mei 1977 ini menjadi perokok pasif.

“Saya tidak bisa melarang teman kerja, apalagi pengunjung restoran untuk tidak merokok,” kata korban rokok, Ike  Widayanti, kepada bisnissurabaya.com Rabu (18/1) kemarin. Hari-hari di tempat kerja dengan asap rokok pun dilalui oleh warga Gresik ini. Hingga suatu hari, dia merasa dadanya sesak dan suaranya sesak. Setelah diperiksa di rumah sakit, hasil diagnosa menunjukan bahwa dia mengidap kanker pita suara.

Ike saat memberikan penjelasan. (Foto/ist)

“Dokter menyarankan saya  segera operasi, saya takut sekali. Jadi saya melakukan pengobatan alternatif, tapi tidak kunjung sembuh,” jelas ibu 2 anak ini. Akhirnya, 7 tahun yang lalu, Ike pun menjalani operasi dipotong pita suaranya dan diteruskan dengan melakukan perawatan terapi suara. Kini Ike, sudah sembuh dari penyakit kanker ganas, tetapi dia tidak bisa berbicara jelas layaknya orang normal.

Setahun yang lalu, Ike, dan kawan kawan yang memiliki kesamaan nasib menjadi korban rokok, bergabung dalam wadah Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia (AMKRI). Lembaga yang difasilitasi oleh Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC-IAKMI) ini bertujuan untuk melindungi masyarakat, utamanya anak-anak agar tidak menjadi korban rokok seperti yang mereka alami.

Pembahasan  Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sebagai perubahan  Perda No 5 Tahun 2008 Tentang KTR dan KTM merupakan momen penting bagi Ike, dan kawan-kawannya untuk memperjuangkan aspirasi mereka.

Ike (kanan) saat membubuhkan tanda tangan dukungan. (Foto/nanang)

Para korban rokok ingin mengingatkan wakil rakyat, agar mereka selalu ingat bahwa negara mempunyai kewajiban melindungi warganya, terutama anak-anak dari bahaya asap rokok. Apalagi, Surabaya adalah kota yang menyandang predikat sebagai kota ramah anak. “KTR tidak pernah melarang orang untuk merokok,  tetapi mengatur orang untuk  tidak merokok di tempat yang sudah ditentukan,” tambah Ike.

Harapan Ike, tentunya bukan sekedar harapan. Dia punya keinginan yang kuat agar wakilnya di DPRD Surabaya dapat memahami keresahan hati dia dan kawan-kawanya.

Bagi mereka, dengan disahkannya perubahan Raperda KTR dapat dijadikan pijakan dan landasan hukum semua pihak dalam melakukan perlindungan bagi masyarakat dari bahaya asap rokok. (nanang)