Bisakah Ekspor Tumbuh 7,5 Persen?

19

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – TERPENGARUH realisasi ekspor kita periode Januari-November 2018 yang mencapai 7,47 persen, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, merencanakan target ekspor 2019 ini bisa mencapai 7,5 persen. Tetapi ini masih rencana kementeriannya, karena untuk menetapkan target itu harus dibicarakan dulu dengan beberapa kementerian yang berkaitan dengan produksi, perdagangan dan ekspornya.

Nampaknya dia juga melihat kesempatan ekspor kita berkesempatan mencapai angka demikian, dikarenakan sedang terjadinya ‘perang dagang’ antara dua raksasa ekonomi dunia, yakni Amerika Serikat lawan China. Dampak perekonomian/perdagangan/industri di kedua negara tersebut terimbas dan menjadikan penurunan modal penghasilan maupun lapangan pekerjaan. Yang lebih terdampak, adalah banyaknya perubahan pasar perdagangan dengan negara-negara yang semua lebih banyak tergantung pada produk-produk kedua negara bersangkutan. Terutama yang dari China.

Menurut Menperdag (10/1), angka yang digagasnya itu dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian global yang masih dibayangi perang dagang. Kendati tidak berdampak langsung pada Indonesia, namun perang dagang yang terjadi mengimplikasikan negara-negara tujuan ekspor  Indonesia. “Untuk meningkatkan kinerja ekspor, selain menyasar pasar tradisional ekspor seperti China, Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, Filipina, Korsel dan Thailand, Kemendag juga serius melakukan penetrasi pasar ekspor ke negara-negara non-tradisional.” katanya.

Catatan dari kementerian tersebut dalam keberhasilannya mendorong peningkatan pertumbuhan nilai ekspor di negara-negara non-tradisional (pasar ekspor kita) seperti Bangladesh sebesar 15,9 persen, Turki 10,4 persen, Myanmar 17,3  persen, Kanada 9,0 persen, Selandia Baru 16,8 persen, Polandia 23,3 persen dan Nigeria 17,3 persen. “Pembukaan lebih banyak akses pasar ekspor kami lakukan dengan aktif menambah perjanjian perdagangan internasional baru, dan secfara simultan diimbangi dengan kegoiatan misi dagang untuk mendongkrak peningkatan ekspor di negara-negara non tradisional.” Demikiian penjelasan Menteri Enggartiasto Lukita. Tahun ini, kementeriannya menargetkan  penyelesaian dan penanda tanganan 12 perjanjian perdagangan dengan negara-negara di Asean, Asia dan Afrika.

Pertanyaannya kini, dapatkan harapan mencapai target ekspor kita itu dicapai?

Ada permasalahan untung ruginya ditinjau dari kondisi pasaran global tahun ini. Pengalaman, bahwa perang-dagang AS-China yang saling “membantai” melalui perpajakan dan produksi dan dengan sendirinya mempengaruhi kondisi pasaran masing-masingnya di negara lawan dagang mereka, memang membingungkan dalam naik-turunnya nilai keuangan di dunia. Namun, dalam perputaran perdagangan dan ekspor produksi, maka ada beberapa kesempatan dijadikan pasar lama (disebut: pasar tradisional) yang jualannya bisa dinaikkan targetnya, ataupun terbukanya pasar-pasar baru (disebut: pasar non-tradisional). Namun perlu diingat, bahwa karena sama-sama “terpukul”, AS dan China kini saling “mendekati”, membicarakan mengurangi ketegangan perang-dagangnya. Malahan masing-masing presidennya, yakni Donald Trump dan Xi Jin-ping, akan melakukan perundingan. Apakah kalau suhu perang-dagang mendingin ataupun hilang, kesempatan  bagi negara-negara (terutama di Negara-negara Berkembang) – termasuk kesempatan kita,– bisa tetap sama. Ataukah terpukul kembali?

Perjanjian-perjanjian hubungan perdagangan memang penting dan bisa membantu diadakannya “pasar non tradisional” atau peningkatan volume ekspor kita. Akan tetapi, cara demikian juga dilakukan oleh negara-negara di Asia lainnya. Malahan tidak bakal dihindarkan, China pun akan lebih aktif untuk melakukan diplomasi perdagangan yang melebihi waktu lampau dari pengalaman perang-dagangnya dengan AS.

Kalaulah target ekspor tersebut bisa ditetapkan pemerintah, maka produsen (industri dalam pemroduksi apa saja yang memperjualkan produknya juga untuk ekspor), harus juga bersiap diri lebih memajukan kinerjanya. Apa yang dibuktikan, bahwa kita mampu melakukan ekspor 7,47 persen di tahun lalu, tersebut tentang adanya “kesempatan” untuk berekspor atas dorongan dan berbagai kemudahan prosedurnya yang ditetapkan pemerintah kita untuk berekspor. Oleh karenanya, maka bagi pebisnis/industriawan kelas atas dan menengah di Jawa Timur, yang merupakan penyumbang ekspor perdagangan barang maupun bahan pangan cukup besar, akan berarti ditantang untuk lebih berkinerja lebih keras. Termasuk menjaga kualitas komoditas ekspornya, sehingga jangan sampai menyebabkan pemutusan hubungan dagang dengan pasarnya dikarenakan kecewa atas penurunan kualitas produksi maupun layanannya dibanding dengan yang dilakukan sebelumnya. Bagaimana pun juga, senyampang dengan perkembangan perdagangan yang sejalan dengan kemajuan dalam era Industrial 4.0, maka konsumennya (terutama di luar negeri) selalu menghendak hal-hal yang “baru”. Sebab, dari waktu ke waktu, produk atau layanan selalu berkembang bersama dengan minat dan kebutuhan konsumennya yang kini sudah tergila-gila dengan produk barang yang dipacu serba electronics, praktis dan terkadang trendy ,  Malah kadangkala menginginkan produk benda atau layanan (service) yang bisa semula kita anggap “aneh”. Asalkan apa yang kita jual tersebut (seperti jasa layangan dalam kepariwisataan) tidak bertentangan dengan budaya dan adat isitadat bangsa kita.

Namun satu hal yang sangat penting, dikarenakan tahun ini dilakukan pemilihan Presiden selaku kepala negara dan pimpinan pemerintahan, berikut anggota DPR-nya, maka target ekspor 2019 sebesar 7,5 persen yang dibarengi dengan diplomasi perdagangan secara intensif, memerlukan pimpinan negara/pemerintahan yang kuat dan dipercaya oleh negarap-negara lain, sebagaimana yang telah dilaksanakan dalam pemerintahan sekarang di bawah Presiden Joko Widodo. Tanpa pemerintahan yang kuat dan dipercaya seperti itu, mustahil pasar internasional “akan terbuka” untuk ekspor komoditas kita.   (amak syariffudin)