Penyederhanaan Kembali Pelaporan Keuangan UKM

156

Oleh : Dr Maswar Patuh Priyadi, MM, Ak.CA
(Dosen STIESIA Surabaya)

 

(bisnissurabaya.com) – Tulisan ini berkaitan dengan “Penyederhanaan Pelaporan Keuangan UKM” yang dimuat tabloid Bisnis Surabaya Edisi 233/Tahun 05, 9 – 15 November 2015, dimana Ikatan Akuntan Indonesia telah memfasilitasi pelaporan keuangan UKM sehingga penyajian laporan keuangan UKM dapat menggunakan SAK ETAP yang diterapkan mulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2011.Ini berarti sebelum tahun 2011, UKM selalu kesulitan menyajikan laporan keungan usahanya karena SAK yang tersedia untuk perusahaan besar dan terbuka, yang tentu penerapannya sulit dan mahal. Harapan untuk mempermudah UKM dalam pelaporan keuangannya, ternyata masih sulit dicapai, karena ternyata DSAK menerbitkan exposure draft Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (ED SAK EMKM) yang telah disebar pada tanggal 16 Mei 2016 untuk memperoleh tanggapan dari masyarakat dan diharapkan akan diterima tanggal 23 September 2016 dan direncanakan berlaku efektif dimulai pada atau setelah 1 Januari 2018. Disamping itu ternyata kesulitan penerapan SAK ETAP dialami oleh UKM (Senoaji, 2014) karena tidak tersedia SDM yang kompeten, UKM juga belum menyajikan laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan (CALK) serta terjadi inkonsistensi dalam penyajian beberapa pos pada Neraca yang tidak diungkapkan dalam CALK (Pratiwi, et all, 2014) serta umumnya pelaku UKM terkendala dalam penerapan akuntansi yang baik dan benar karena keterbatasan pengetahuan mereka tentang akuntansi (Saragih dan Surikayanti, 2015).Dengan adanya ED SAK EMKM berarti SAK ETAP penerapannya masih dirasa menyulitkan bagi UKM, sebagaimana disebutkandalam latar belakang bahwa ED SAK EMKM disusun untuk memenuhi kebutuhan pelaporan keuangan entitas mikro, kecil, dan menengah. Undang-undang yang relevan sebagai acuan pengaturan tentang definisi, kriteria, dan menengah diantaranya adalah Undang Undang Nomor 20 Tahun 2008. Lebih tegas lagi dinyatakan bahwa ED SAK EMKM disusun untuk mendorong dan memfasilitasi usaha kecil, mikro, dan menengah dalam menyusun laporan keuangan. Rerangka pelaporan keuangan ED SAK EMKM membantu entitas dalam melakukan transisi dari pelaporan keuangan yang berdasar kas ke pelaporan keuangan dengan dasar akrual. ED SAK EMKM juga membantu entitas untuk menerapkan SAK lain yang lebih komprehensif, seiring dengan perkembangan ukuran dan kompleksitas transaksi bisnis yang dilakukan entitas tersebut. Jadi ED SAK EMKM ditujukan untuk digunakan oleh entitas yang tidakatau belum mampu memenuhi persyaratn akuntansi yang diatur dalam SAK ETAP.

Dengan demikian secara strata, SAK untuk entitas bisnis konvensional, pertama adalah SAK berbasis IFRS yang ditujukan untuk entitas dengan akuntabilitas publik, kedua adalah SAK ETAP yang ditujukan bagi entitas tanpa akuntabilitas publik, dan ketiga, adalah ED SAK EMKM yang ditujukan bagi entitas kecil, mikro, dan menengah.

Apakah ED SAK EMKM lebih sederhana penerapannya dibanding SAK ETAP?

Berikut uraiannya.

Pertama, karakteristik kualitatip laporan keuangan tidak ditemukan dalam ED SAK EMKM, sebaliknya disebut dan dijelaskan dalam SAK ETAP. Bagi UKM untuk memahami karakteristik kualitatip laporan keuangan masih dianggap sulit oleh mereka.

Kedua, dalam ED SAK EMKM, terdapat asumsi dasar akuntansi , meliputi: Dasar Akrual yang ditemukan dalam SAK ETAP sebagai pengukuran unsur-unsur laporan keuangan; Kelangsungan Usaha, yang ditemukan dalam SAK ETAP sebagai bagian dari penyajian laporan keuangan; dan Konsep Entitas Bisnis, yang tidak ditemukan dalam SAK ETAP, konsep ini sering dikenalkan pada awal belajar memahami akuntansi karena dikhawatirkan transaksi pribadi tidak dipisah dengan transaksi usahanya.

Ketiga, dalam ED SAK EMKM, laporan keuangan lengkap minimal terdiri dari (a) Laporan posisi keuangan pada akhir periode; (b) Laporan laba rugi selama periode; dan (c) Catatan atas laporan keuangan..

Keempat, dasar pengukuran unsur laporan keuangan dalam ED SAK EMKM menggunakan biaya historis, hal ini memberikan kemudahan penerapan dan murah, sedangkan di dalam SAK ETAP menggunakan biaya historis dan nilai wajar.

Kelima, dalam ED SAK EMKM, laporan posisi keuangan entitas menyebutkan pos-pos yang lebih sederhana, yaitu dapat mencakup: (a) kas dan setara kas; (b) piutang; (c) persediaan; (d) aset tetap; (e) utang usaha; (f) utang bank; (g) ekuitas.

Keenam, laporan laba rugi dalam ED SAK EMKM (walau tidak secara jelas dinyatakan)dapat disimpulkan menggunakan analisis fungsi beban (beban pokok penjualan), padahal bagi EMKM lebih mudah dan lebih sederhana jika menggunakan analisis sifat beban.

Ketujuh, laporan arus kas (metode tidak langsung) tidak diwajibkan untuk disajikan sebagaimana SAK ETAP, laporan arus kas metode langsungpun tidak harus disajikan.

Dengan memperhatikan  ketujuh komponen diatas, ED SAK EMKM semoga akan mampu mempermudah entitas mikro, kecil, dan menengah dalam menyajikan laporan keuangan, apalagi dengan menerapkan single entry accounting. Semoga!!!