Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Sebagai penutup akhir tahun, kesenian ludruk Surabaya persembahkan lakonnya bertajuk ritus travesty. Diperankan pegiat ludruk Surabaya sebagai tokoh Mukidi dengan lakon berkisah tentang kehidupan ludruk di masyarakat.

Ludruk sebagai budaya tradisi Jawa Timur/Jatim khususnya Surabaya membawa kisah tersendiri dalam perjalanan perjuangan bangsa Indonesia. Selain berupa kesenian dibidang peran, ludruk juga tidak sedikit membawa pesan moral dan budaya Jatim. Seperti kisah ludruk saat ini yang disuguhkan oleh Meimura, bertajuk ritus travesty.

Dikisahkan tentang seorang pria yang berprofesi sebagai pegiat seni ludrukan. Namun, ia prihatin dengan keberlangsungan kesenian ludruk di Jatim, maka pesan disampaikan olehnya untuk dapat meneruskan kekayaan budaya ini pada generasi muda saat ini. Lakon yang dimainkan oleh pria yang sudah 5 tahun bergelut di dunia panggung sandiwara ini, terlihat begitu total dalam memerankan tokoh Mukidi tersebut. Sempat terlihat matanya berkaca-kaca seakan menyampaikan betapa prihatinnya ia terhadap nasib kesenian ludruk ini.

Sutradara Ludruk, Meimura, menyampaikan, harapannya kepada generasi muda untuk tetap mencintai budayanya sendiri dan tidak mengikuti budaya asing. Disamping itu, lelaki asli Suroboyo, ini, juga berharap, agar pemerintah dan instansi terkaitnya tetap terus konsisten mendukung keberlangsungan ludrukan dan kesenian peran lainnya di Surabaya. Sehingga menjadi identitas utama milik bangsa dari Jatim. (bayu/stv)