Manufaktur Andalan Industri Ekspor Kita

29

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – BARANGKALI, sekitar 70 persen produk-produk asal luar negeri,– terutama dari Cina,– yang masuk ke negeri kita adalah produk industri manufaktur. Mulai keperluan untuk beraktivitas, berkomunikasi, sarana transportasi hingga ke urusan berdandan, sampaipun keperluan perlengkapan interior untuk tidur dan dapur. Memahami maraknya pasaran produk-produk manufaktur ke negara-negara sasaran, seperti produksi asal negara-negara industri seperti Cina, menjadikan para pebisnis kita harus berjuang menjualkan produk-produk demikian sebagai “made in Indonesia” guna memasuki pasaran dunia.

Tidak salah, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto yang getol mendorong usaha segala jenis produsen perindustrian diarahkan dalam era-industri 4.0 itu dan melihat perkembangannya saat kini, berkata: “Saat ini, ekspor industri manufaktur memberikan kontribusi mencapai 72,28 persen dari total ekspor nasional.” katanya di Jakarta (24/12). Hal tersebut menurutnya, menunjukkan industri manufaktur dinilai sanggup berdaya saing di kancah global. Kementeriannya mencatat, nilai ekspor produk manufaktur terus meningkat setiap tahunnya. Hingga Desember 2018, jumlahnya mampu menembus 130,74 miliar dolar AS atau naik 4,51 persen dibanding capaian tahun 2017 yang sebesar 125.00 miliar dolar AS. Sedangkan di tahun 2016 sekitar 110.50 dolar AS dan 2015 sebesar 108.60 miliar dolar AS.

Perkembangan ekspor produk tersebut menjadikan Menperin terus berupaya mendorong industri manufaktur dengan memacu invetasi ataupun ekspansi. Sejak Desember lalu, invetasi non-migas diperkirakan mencapai Rp 226,18 tiliun. Selain menumbuhkan populasi industri, investasi dapat mendukung struktur industri di dalam negeri, sehingga berperan sebagai substitusi impor. “Populasi industri besar dan sedang bertambah sebesar enam ribu unit usaha. Sedangkan industri kecil mengalami penambahan jumlah yang mendapatkan izin, sejumlah 10 ribu unit usaha.”ujarnya.

Yang menarik, dengan perkembangan demikian, total tenaga kerja sektor industri yang telah terserap sebanyak 18,25 juta orang. Jumlah tersebut naik 17,4 persen disbanding tahun 2015 sebanyak 15,59 juta orang.

Berbicara tentang produk industri besar manufaktur, Menteri Airlangga Hartarto memmperbandingkan dengan industri otomotif kita yang dilaksanakan usulannya pola “harmonisasi tarif dan revisi besaran Ppn BBM”. Dengan cara itu mendongkrak produktivitas kendaraan sedan, karena sesuai permintaan pasar ekspor saat ini. Masalahnya, prduksi industri otomotif Indonesia masih didominasi jenis mobil SUV dan MPV. Sedangkan pasar ekspor mobil-mobil tersebut ke Australia dengan peluang 1,3 juta unit. Targetnya bakal diekspor 200 unit kendaraan roda tiap tahunnya. Target itu diperkirakan dicapai dengan melihat ekspor sepeda motor saja kita Januari-Oktober 2018 mencapai 11,3 miliar dolar AS. “Kemarin sudah ada ekspor dari Toyota, Suzuki dan Yahama Motor. Semua itu kan investasi dulu, baru ekspor, karena kapasitasnya rata-rata sudah optimal.” kata Erlangga.

Mencermati kenyataan di atas dan pernyataan Menperin tersebut menunjukkan, bahwa komoditi industri kita yang diekspor tersebut adalah produk-produk manufaktur. Barang jadi. Tentu saja produk manufaktur yang disukai atau dibutuhkan di negara-negara pasar ekspor kita. Berarti, bahwa kebutuhan banyak negara pasaran internasional produk kita sebagian sudah bergeser dari komoditi bahan baku atau bahan mentah, menuju barang jadi.

Produk-produk manufaktur merupakan hasil dari yang dinyatakan “hilirasi” sesuatu produk yang umumnya sebagai produk bahan baku atau bahan mentah. Sebagai contoh, akhir-akhir ini pemerintah menganjurkan agar para produsen produk bahan baku minyak kelapa sawit (Coconut Product Oil/CPO) kita yang “terpukul” oleh isyu kurang baik atau kotornya minyak tersebut di pasaran Eropa Barat akibat persaingan tidak sehat sesama produsen CPO yang “berkawan lebih dekat” dengan negara-negara pasaran Eropa Barat itu, agar membuat sendiri produk-produk “hilirisasi” (produk di bagian hilir). Perusahaan-perusahaan penghasil CPO itu dianjurkan agar membuat unit-unit (pabrik) pengolahan CPO sebagai bahan baku untuk dijadikan produk-produk manufaktur dalam bentuk apa saja. Itulah makna produk-produk manufaktur sebagai perusahaan atau unit-unit hilirisasi. Dari kondisi pasar internasional akhir-akhir ini terhadap produk-produk manufaktur menunjukkan, bahwa penjualannya dalam pasaran internasional justru meningkat. Sekurang-kurangnya untuk jenis produksi barang-barang besar, antara lain otomotif. Namun apapun yang diproduksi secara hilirisasi tidaklah begitu saja secara mulus memasuki pasaran itu dan terjual, namun masih diperlukan kiat-kiat manajemen berproduksi dan berjualan (pemasaran). Memang di disitulah letak kemampuan dan kepiawaian dalam berbisnis.

Sebenarnya, banyak peluang bagi mereka yang menjadi pebisnis kelas menengah dalam memproduksi barang-barang manufaktur menurut jenis produksinya dan “ukuran” perusahaannya untuk menjual produksinya ke luar negeri. Terutama yang berkaitan dengan bahan makanan/kuliner. Hanya saja harus memperhatikan jenis komoditi macam apa yang disukai masyarakat di pasar sasaran, serta mutunya dan daya tariknya. Mungkin diperlukan untuk bergandengan dengan pebisnis kelas atas untuk memasarkan produknya ke luar negeri. (amak syariffudin)