Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Pasca perang dunia II, Jepang berada di kubu negara yang kalah. Kehancuran terjadi dimana-mana. Terutama di Nagasaki dan Hirosima. Saat meninjau korban perang di beberapa kota di negaranya, Kaisar Jepang Hirohito selalu bertanya “berapa guru yang masih hidup disini?”

Kaisar ini ingin memastikan bahwa di tempat tersebut masih ada sosok guru, yang nantinya bertanggung jawab terhadap pemulihan keadaan pasca perang di wilayah itu. Kaisar Hirohito, yang terkenal sebagai kaisar terpelajar lulusan barat, meyakini bahwa bukan militer yang kuat yang dapat membawa negaranya menjadi negara maju.

Atiko (kanan) saat menerima sertifikat. (Foto/nanang)

Tetapi keberadaan guru yang menciptakan kaum terpelajar itulah yang menjadi faktor penentu Jepang kedepan. Sementara, di Indonesia, dengan semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi diabad 21 ini banyak melahirkan pejuang  Indonesia sejati. Yaitu, Guru-guru Indonesia. “Dalam bidang pendidikan guru atau pendidik atau calon tenaga pendidik memiliki peran penting dalam menciptakan generasi yang mempunyai keterampilan hidup abad 21,” kata  Ketua Panitia Atiko kepada bisnissurabaya.com disela-sela acara seminar Selasa, (27/11) kemarin.

Kegiatan ini, dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas pengelolaan kelas, kualitas layanan kepada anak didik, dan juga peningkatan profesionalisme pendidik itu sendiri. Disamping itu, juga terdapat  45 orang yang telah melakukan diklat menulis esai dan menghasilkan buku yang dilaunching di acara ini. “Untuk guru-guru yang telah banyak melakukan perubahan inovatif dalam dunia pendidikan, kami berikan penghargaan dengan kategori narasumber, penulis buku, dan editor buku serta penghargaan dari pendidikan.id,” jelas guru cantik berhijab ini.

Narasumber yang hadir diantaranya, Muhammad Ramli Rahim, selaku Ketua Umum IGI, Nurul Indah Susanti, selaku Owner Media Hati, dan M Habib Zaini selaku Advokasi dan Perlindungan Hukum IGI kota Surabaya. (nanang)