Lamongan, (bisnissurabaya.com) – Terhitung dua tahun ini, SMPN 1 Lamongan membuat gebyar showcase untuk karya inovasi siswanya. Luar biasa, yang mereka tampilkan adalah belasan antologi, karya tulis siswa.

Jika tahun lalu, pada gebyar showcase pertama baru ada empat buku antologi, tahun ini siswa SMPN 1 Lamongan mampu menelurkan 17 buku. Belasan buku ini berisi kumpulan cerita pendek (cerpen), puisi dan novel.

Bupati Fadeli menerima setumpuk buku dari Kepala Sekolah SMPN I Lamongan. (Foto/sam)

Kepala SMPN 1 Lamongan Khoirul Anam, mengungkapkan, ini adalah bagian dari program penguatan pendidikan karakter (PPK) di sekolahnya. Terlebih SMPN 1 Lamongan selama ini sudah ditetapkan sebagai sekolah rujukan nasional.

Tujuan utamanya, kata Anam, untuk membentuk siswa berkarakter dan berpengetahuan. Seperti yang dicita-citakan Ki hajar Dewantara, mengharmonisasikan olah pikir dengan olah hati, olah rasa dan raga.

“Apa yang ada di gebyar showcase ini adalah bagian dari ujian akhir sekolah siswa, di setiap akhir tahun pembelajaran mereka, “ ujarnya, Rabu (21/11) lalu. Diantara 17 antologi itu adalah kumpulan cerpen dengan judul Rapuh di Bulan Bahasa, kemudian Pena Impian, Langit di Atas Langit, Mutiara dalam Kejujuran dan Pantang Murtad.

Juga ada kumpulan puisi dalam judul mengembara ke Alam Fana dan satu novel dengan judul Bocah Angon. Bupati Fadeli, yang hadir membuka acara tersebut berharap SMPN 1 Lamongan menularkan pengetahuannya kepada sekolah lain. Agar sekolah di Lamongan tidak trerpaut terlalu jauh dengan SMPN 1 Lamongan.

“Penguatan pendidikan karakter dengan membuat karya antologi ini adalah contohnya. Contoh lain, meski sekolah ini tidak terlalu luas, tapi terkesan nyaman sehingga siswa bisa belajar dengan nyaman pula, “ kata Fadeli.

Selama ini ini, lanjut Fadeli, sekolah dari berbagai daerah, termasuk luar provinsi melakukan studi banding ke SMPN 1 Lamongan. Dia berharap, sekolah di Lamongan harusnya yang studi banding ke SMPN 1 Lamongan.

“SMPN 1 Lamongan ini sekolah rujukan nasional. Saya berharap sekolah lain di Lamongan belajarnya kesini. Sehingga pengetahuan ini bisa ditularkan. Lebih bagus lagi kalau sekolah lain, misalnya di Turi, Babat atau Paciran bisa menyalip SMPN 1 Lamongan, “ katanya menambahkan. (sam)