(bisnissurabaya.com) – Gelar kehormatan sang presiden. Polemik foto Presiden Joko Widodo, sedang mengenakan mahkota kerajaan beberapa waktu yang lalu, ternyata tak menyurutkan keinginan warga Suku Komering Sumatera Selatan memberikan gelar kehormatan kepada Presiden Jokowi dan Ibu Iriana. Mereka berdua menerima gelar adat tertinggi pada Minggu, (25/11). Penganugerahan gelar adat digelar di Griya Agung, Kota Palembang, sebagai bentuk penghargaan dan ungkapan terima kasih masyarakat Sumatera Selatan kepada Presiden.

Presiden Jokowi, selaku kepala negara dalam kesempatan itu mendapat gelar kehormatan “Rajo Balaq Mangku Nagara” yang berarti raja besar pemangku negara. Sementara, Ibu Iriana, memperoleh gelar “Ratu Indoman” yang dapat dimaknai sebagai ratu yang mengayomi sekaligus tempat berkeluh kesah dan memberi perlindungan bagi keluarga.

Prosesi pemberian piagam gelar adat Komering kepada Presiden Jokowi. (Foto/ist)

Kepala Negara menyampaikan ucapan terima kasih atas gelar yang telah diberikan kepada dirinya dan Ibu Iriana. Presiden memandang bahwa gelar yang diberikan ini merupakan satu amanah bagi dirinya untuk memajukan adat dan kesejahteraan masyarakat di Sumatra Selatan. “Bapak Presiden dan Ibu Iriana memaknai semangat adok, jajuluk, gelar Rajo Balaq Mangku Negara dan Ratu Indoman yang dianugerahkan kepada mereka berdua sebagai pesan, harapan, dan tanggung jawab untuk selalu mengangkat derajat dan memajukan adat Komering serta kesejahteraan Sumatra Selatan,” kata Deputi Bidang  Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, kepada bisnissurabaya.com Senin (26/11) kemarin.

Presiden meyakini adat, tradisi, dan kebudayaan bangsa adalah sumber energi besar bagi kemajuan Indonesia. Sebuah modal bagi kita untuk dapat memajukan bangsa. “Menurut presiden, Indonesia memiliki 714 suku, dengan budaya masing-masing, dengan adat, tradisi, energi masing-masing,” jelas Bey Machmuddin.

Kepala Negara mengatakan, Indonesia memang sudah digariskan terlahir dengan perbedaan budaya, adat, dan bahasa yang beragam. Hal itu merupakan anugerah Allah yang harus  disyukuri dan harus  dijaga kesatuannya sebagai aset terbesar bangsa. “Maka dari itu, presiden wanti-wanti jangan sampai Indonesia maju secara teknologi tapi mundur secara kebudayaan. Teknologi maju, tradisi, adat dan kebudayaan bangsa juga harus ikut maju,” tambah Bey Machmuddin.

Secara khusus, Presiden Jokowi, berpesan kepada masyarakat adat Komering di Sumatra Selatan untuk berperan aktif dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Prosesi pemberian gelar atau yang di wilayah setempat biasa disebut dengan nabuh jajuluk diawali dimulai pukul 09.00 WIB. Presiden Joko Widodo, didampingi oleh tetua adat, meniti “titian agung” yang berupa tiga lembar tikar yang dilapisi kain putih sepanjang empat meter untuk kemudian duduk bersama.

Selanjutnya, tetua adat mengumumkan kepada masyarakat yang hadir mengenai pemberian gelar adat masyarakat Komering kepada presiden dan Ibu Iriana, sekaligus meminta persetujuan dan pertimbangan dari masyarakat. Gong adat kemudian ditabuh sebagai tanda pemberian gelar. Turut hadir mendampingi presiden dan Ibu Iriana, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri PU dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, dan Gubernur Sumatra Selatan Herman Deru. (nanang)