Santi Martini : TSCS dan IAKMI Konsisten Lindungi Anak Indonesia

480

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Bahaya rokok terhadap anak, dari tahun ke tahun menjadi isu yang menarik untuk dibahas. Apalagi akhir-akhir ini, setelah pemerintah mengumumkan kebijakan untuk tak menaikkan cukai rokok.

Keputusan yang dianggap tak populis ini membuat aktivis anti rokok meradang. Betapa tidak, mereka berharap dengan naiknya cukai rokok dapat menghambat beredarnya rokok dikalangan anak-anak karena harganya mahal dan tidak terbeli oleh mereka.

“Menurut data riset kesehatan dasar, mulai 2013 data perokok anak naik dari 7,2 persen menjadi 9,1 persen,” kata Ketua Tobbacco Control Suport Centre (TCSC) dan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Jawa Timur/Jatim, DR dr Santi Matini, M Kes kepada bisnissurabaya.com, Jumat (23/11) kemarin.

Selama ini, kata dia, TCSC & IAKMI Jatim, bersama komponen masyarakat anti rokok lainnya insten melakukan kegiatan edukasi bahaya rokok bagi anak-anak kepada mereka yang membutuhkan. Beberapa waktu yang lalu, mereka mengadakan kegiatan yang menggandeng para guru untuk memberikan edukasi dampak rokok terhadap anak-anak.

“Kami menggandeng guru karena menurut survey UKM Unair, usia SD dan SMP adalah usia yang rawan untuk memulai merokok,” jelas dokter berparas manis dan berhijab ini.

Dari data hasil survey tersebut diketahui untuk anak mulai merokok pada usia 10 tahun sebanyak 26,8 persen, dan usia 9 sampai 13 tahun 92,2 persen.

Iklan rokok yang tersebar diberbagai tempat yang mudah terlihat oleh anak-anak, memicu mereka untuk mencoba rokok.

“Sebanyak 95,8 persen anak SD dan SMP mengaku pernah melihat iklan rokok, dan hanya 4,2 persen yang merasa tidak pernah melihat iklan rokok,” tambah dosen Unair ini.

Parahnya, setelah melihat iklan rokok, sebanyak 27,5 persen merasa dewasa, 17,7 persen merasa gaul, 9,4 persen merasa percaya diri, dan 14,5 persen merasa tertarik untuk mencoba.

Karena itu, kata dia, TSCS dan IAKMI mendesak Pemkot Surabaya untuk lebih aktif dalam pengawasan rokok, utamanya yang berada di sekitar Kawasan Tanpa Rokok (KTR). (nanang)