Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Kota Surabaya menyimpan segudang cerita perjuangan. Dibalik kenangan pahit itu, negara Kincir Angin meninggalkan bangunan bersejarah. Yang, De Javasche Bank (DJB) yang menjadi saksi sejarah panjang perbankan di Indonesia. De Javasche Bank adalah sebutan untuk Bank Indonesia pada masa Hindia-Belanda. Tak hanya ditemukan di Jakarta, bangunan ini juga kokoh berdiri di Surabaya sejak 14 September 1829.

Bangunan ini punya gaya arsitektur Neo-Renaissance yang terlihat jelas dari tampak bangunan yang bercat putih tulang. Terlihat gaya Hindu-Jawa pada rincian motif pada pilar dan dinding ruang yang berada di lantai dua. Sentuhan gaya Eropa juga terlihat dari atap dengan bentuk mansart. Mulai awal 2012, bangunan ini dijadikan salah satu Benda Cagar Budaya (BCB).

De Javasche Bank. (Foto/fara)

Gedung ini terdiri dari tiga lantai. “Ruang basement (ruang bawah tanah) untuk menyimpan uang, emas, serta dokumen. Lantai dua untuk kantor dan teller, serta lantai paling atas untuk tempat dokumentasi,” kata Bambang, pengelola dan manager DJB, kepada bisnissurabaya.com Senin (19/11) Siang.

Tak hanya melihat koleksi uang, Pengunjung juga akan melihat sebuah pintu tebal sekitar 50 cm yang digunakan sebagai penutup brangkas penyimpanan uang. Macam-macam mesin dan alat perbankan. Seperti mesin pemotong, mesin press, mesin penghitung, hingga mesin penghancur uang terpampang di pinggiran ruang. Juga beberapa koleksi foto turut menambah koleksi disini.

Gedung cagar budaya DJB memiliki beberapa keunikan. Salah satunya, CCTV berbentuk kaca datar yang dipasang di sudut-sudut. Sehingga petugas keamanan bank tidak perlu mengitari lorong ruangan melainkan cukup memantau dari depan dan melihat bayangan melalui kaca-kaca sudut tersebut.

Pengunjung sedang melihat koleksi uang. (Foto/fara)

“Fungsi CCTV tradisional ini untuk memantau teller di lorong bagian belakang yang terdapat brankas milik De Javasche Bank agar tidak melakukan kejahatan. Bahkan, saking ketatnya keamanan zaman dulu, para teller juga harus mengenakan pakaian tanpa kantong,” tambahnya. (fara)