Sesi praktikum babak final. (Foto/ist)

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – International Medical Science and Application Competition (MEDSPIN) 2018 yang diikuti 5000 tim dengan 15.000 peserta mencapai puncaknya. Peserta yang belum lolos ke babak final dapat mengikuti acara Muter – Muter Suroboyo (MMS) dan School of Medical Heroes 2. MMS bertujuan mengenalkan tempat bersejarah yang ada di Surabaya.

Seperti Tugu Pahlawan dan Museum Kesehatan. Destinasi terakhir yang dituju adalah Wisata Rasa dimana peserta dapat membeli makanan atau oleh-oleh khas Surabaya. School of Medical Heroes 2 merupakan lanjutan dari School of Medical Heroes 1 pada Sabtu (17/11). Pada School of Medical Heroes 2 ini peserta dibagi menjadi 10 kelompok di 10 pos.

Babak final presentasi poster publik. (Foto/ist)

Juri Medspin, Samsriyaningsih Handayani, dr., MD., MKes., Med,. PhD., mengatakan, difinal, peserta diharuskan mengerjakan 2 jenis soal yang ada dengan waktu pengerjaan 40 menit. Pertama adalah esai teori yang berjumlah 17 soal dengan pembagian masing-masing 5 soal biologi, kimia, fisika dan 2 soal medis.

Setelah mengerjakan esai teori peserta mengerjakan soal praktikum yang terdiri dari praktikum medis dan praktikum sains,’’ kata Samsriyaningsih Handayani, kepada bisnissurabaya.com disela final MEDSPIN 2018 di Kampus A Unair Minggu (18/11) kemarin. Pada praktikum medis peserta diberikan sebuah kasus mengenai Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) dan keterampilan medis.

Setelah School of Medical Heroes 2 dan babak final berakhir, para peserta dapat menikmati makan es krim dalam acara Ice Cream Party. Sembari menikmati es krim, para peserta dapat menikmati penampilan band dari mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dari angkatan 2017 dan 2018.

Presentasi EBL di depan para juri pada babak final. (Foto/ist)

Hari ini juga dilakukan final “campaign” publik poster. Sebelumnya para peserta telah mengirimkan posternya via email lalu dipublikasikan di Instagram Medspin 2018. Setiap poster akan dilihat banyak jumlah likes yang diperoleh sebagai bentuk penilaian poster favorit.

Dari semua poster yang telah terkumpul, akan dipilih 5 karya dengan nilai tertinggi dan 1 karya favorit. 5 tim dengan karya terbaik akan diundang ke Surabaya untuk mempresentasikan posternya di depan juri. Penilaian presentasi fokus pada kreativitas, inovasi, serta cara pemaparan isi poster yang ditampilkan.

Informasi didapatkan melalui anamnesis (mengajukan pertanyaan pada pasien) dan informasi tambahan dari internet. Setelah mendapat informasi, peserta diberikan waktu untuk membuat slide presentasi dan mempresentasikannya selama 10 menit di hadapan dewan juri. Juri yang menilai pada sesi ini adalah Suwandito, dr., MS, Samsriyaningsih Handayani, dr., M.Kes., M.Ed dan Kristanti Wanito Wigati, dr., M.Si.

Pada grand final sesi pertama para dewan juri memuji seluruh tim akan kehebatan mereka dalam membahas kasus yang diberikan. Meskipun para grand finalist belum mendapatkan materi medis di sekolahnya namun, mereka dapat memberikan pemaparan dengan baik dan memuaskan para dewan juri bahkan membuat juri tekagum-kagum.

Sementara itu, Prima Ardiansyah, selaku Ketua BEM KM FK UNAIR dan juga sebagai Juara Medspin 2014, mengatakan, pelaksanaan Medspin 2018 semakin rapi dari tahun ketahun dan antusiasme peserta lebih meningkat. Hal ini dilihat saat peserta meneriakkan jargon Medspin yang berbunyi “Be A Medical Hero”.

Pada MEDSPIN 2018, akhirnya panitia menetapkan juara pertama diperoleh SMAN 3 Malang dengan Ketua Yusuf Nizar Aris S. Kedua, diraih MAN 2 Malang dengan ketua M. Abi Salman dan ketiga SMA Unggulan M.H. Thamrin dengan ketua Raihan Febriyanto. Yusuf Nizar, Achmad Rizky, dan Arya Agung, Juara I Medspin 2018, mengaku sudah mempersiapkan timnya sejak lama. Namun, sejak Jumat malam, mereka baru mulai mempersiapkan secara serius. Tim mereka terdiri atas Arya dan Yusuf merupakan murid kelas 12, sedangkan Achmad masih kelas 11.

Menurut Achmad dan Arya, babak final merupakan babak yang paling sulit. Lain halnya dengan Yusuf babak yang paling sulit adalah babak Rally karena melelahkan dan harus mengerjakan soal dalam waktu yang singkat setelah berlarian dari pos ke pos. Namun, babak yang paling diingat oleh mereka adalah babak grand final 1. Di babak itu mereka sangat gugup karena harus melakukan presentasi di depan dewan juri dan diberi pertanyaan tentang materi yang mereka presentasikan. (bw)