Bersyukur bila Merpati Bakal Terbang Lagi

69

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – HINGGA menginjak tahun 2000-an, berkali-kali naik pesawat terbang tujuan Indonesia Timur (terutama ke pulau-pulau Maluku dan ke Papua), tak ada pilihan lain bagi saya, kecuali menggunakan pesawat-pesawat Merpati Nusantara Airlines (MNA). Dulu, dari arah Surabaya untuk ke Jayapura hanya ada pesawat penumpang milik Merpati, yang berangkat dari Bandara Juanda pukul 23.00 WIB, transit di Makassar, kemudian ada yang via Kendari tetapi ada yang langsung ke Biak dan baru ke Jayapura. Tak ada maskapai penerbangan swasta yang waktu itu mau mengambil rute yang dianggap “kering”.

Maskapai MNA yang menjadi milik negara mendampingi Garuda Indonesia Airways diresmikan keberadaannya pada 1958 oleh PM Ir.H. Juanda. Saat itu, dinyatakan sebagai “Jembatan Udara Kalimantan” dengan misi untuk mencapai tempat-tempat terpencil di pulau tersebut. Karenanya, logonya adalah “Air Bridge of Indonesia”. Peranannya sebagai “penerbangan perintis”. Ketika Irian (Papua) tahun 1963 diserahkan kepada Indonesia oleh pemerintah Belanda, maka perusahaan penerbangan Belanda (NV De Kroonduif = Merpati Mahkota; jenis burung khas Papua) diserahkan ke Garuda Indonesia. Tetapi Garuda berstatus sebagai “flag carrier” (perusahaan penerbangan nasional), sehingga menyerahkan rute operasional bekas ‘De Kroonduif’ di Papua itu kepada Merpati. Pada 1974, resmi sebagai maskapai penerbangan perintis dan pemerintah menjadikannya pesero bernama Merpati Nusantara Airlines (MNA) dan dibawah BUMN. Dengan demikian, MNA memperluas jalur penerbangannya. Sehingga tercatat 114 rute domestik dan 3 rute internasional. Dan pernah berjaya sekitar tahun 1989-1992. Namun maskapai itu paling dikenal sebagai ‘penerbangan perintis’ di Kalimantan, Sulawesi, Maluku maupun Maluku Utara dan Papua.

Pada tahun-tahun berikutnya, udara Indonesia dipenuhi penerbangan pesawat-pesawat maskapai negara dan swasta. Garuda dan maskapai swasta malahan memasuki jalur Papua dengan pesawat-pesawat bermesin jet yang baru. Persaingan menjadi memuncak, menjadikan beberapa maskapai swasta yang tak punya duit atau managementnya kurang baik, rontok. Berturut-turut Bouraq Airlines dan Sempati Air tutup buku. Merpati masih beroperasi, karena mengkhususkan diri sebagai “pesawat perintis”, meskipun mulai kembang-kempis karena mengurusi jalur “miskin” dan kemudian tersaingi maskapai-maskapai swasta dengan pesawat-pesawat kecil seperti, Susi Air di Kalimantan dan di Papua seperti MAF, Susi Air dan lain-lain. Sudah begitu, management MNA yang meskipun disubsidi pemerintah. Namun, masih tidak mencukupi, harus berhutang ke sana-sini, terutama hutang pembayaran bahan bakar (avtur) PT Pertamina. Belum lagi salah urus dan korupsi yang terjadi dalam tubuh maskapai tersebut. Hutangnya mencapai sekitar Rp 10,03 triliun dan tak bisa membayar, Untuk gampangnya, dalam pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri BUMN saat itu, Dahlan Iskan, menutup maskapai tersebut. “Iyalah, kondisi Merpati sulitnya bukan main. Itu (menutupnya) keputusan yang terbaik.” katanya di Jakarta (18/12/2013). Malahan ditujukan untuk menjadikan maskapai tersebut menjadi pailit. Sehingga beberapa kewajiban hutangnya dan pemberian pesangon bagi karyawan bisa terbebaskan. Protes para karyawan maskapai itu tidak didengarnya. Akibatnya, selama empat tahun hingga kini para karyawannya tidak menerima pesangon apa-apa.

Empat tahun sejak itu, ternyata “hubungan” antara pemberi-hutang (kreditur) dengan debiturnya, yakni MNA, tidak putus. Justru, pada 2018 ini, ada kesepakatan yang tidak diketahui publik, untuk menjadikan maskapai tersebut hidup kembali, dengan membayar hutang-hutangnya secara langsung atau berangsur. Untuk itu, perlu kekuatan hukum. Karenanya , ditunjuklah Pengadilan Negeri (Pengadilan Niaga) Surabaya untuk menyidangkan kasus ditutupnya MNA oleh Menteri BUMN saat itu. Dalam sidang 14 November lalu, Pengadilan Negeri Surabaya memutuskan “MNA tidak pailit” dan bisa beroperasi lagi. Alasannya, karena antara kreditur dengan debitur sudah bersetuju.

Tahun 2019 mendatang, apakah Merpati akan menerbangi lagi beberapa jalur yang dulu pernah dilakoninya? Banyak persyaratan yang harus dipenuhi, seperti kualifikasi, berbagai perizinan dan macam-macam. Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi (15/11) mengingatkan, bahwa “Industri aviasi sangat baik, akan tetapi sangat kompetitif.” Jadi, antara lain managementnya perlu ramping dan efisien. Sedangkan Menteri BUMN, Rini Sumarno, bertindak lebih bijak. Yakni, menyetujui ‘privatisasi’ maskapai tersebut. Bukan persero di bawah BUMN lagi.

Rencananya, MNA baru itu disuntik (mungkin dikelola bersama) oleh perusahaan asuransi besar bernama PT Intra Asia Corpora (PT Asuransi Intra Asia dan PT Cipendawa) sebesar Rp 6,4 triliun. Diharapkan bisa mulai beroperasi tahun depan dengan sementara sejumlah 5 pesawat terbang baru buatan Rusia, MC-21 yang sedang dirancang dan dibangun di Rusia dan baru selesai tahun depan usai lulus sertifikasi di negaranya, di Eropa dan di Indonesia.(Surat Izin Angkutan Udara/SIAU).

Semoga tahun depan MNA bisa beroperasi. Juga mantan karyawannya yang terima pesangon, dan ada yang bekerja kembali ataupun lapangan kerja untuk karyawan baru. Yang utama, semangat kepahlawan para karyawannya, terutama para penerbangnya, dengan menjadi para pelaku “Jembatan Udara di Indonesia”. Entah sudah berapa orang penerbangnya gugur dalam kecelakaan pesawatnya dalam tugas sebagai perintis. Terutama di Sulawesi dan Papua. Sekali waktu saya pernah ikut “keliling” menaiki pesawat-pesawat mereka yang terbang dari satu dan lain lapangan-terbang (air-strip) di beberapa Kabupaten di Papua pada tahun-tahun 1987-1988. Dari situ, saya dapat mengetahui keberanian para anak muda yang menjadi pilot Merpati. Terutama saat mendarati dan bertolak di air-strip (pada saat-saat itu) di kabupaten-kabupaten Wamena, Manokwari, Fak-Fak, Jefman-Sorong sampaipun Mopah-Merauke dengan pesawat-pesawat angkut yang cuma berkapasitas belasan orang.

Selamat datang kembali. Sekaligus menunjukkan, bahwa upaya “mematikan Merpati” yang pernah dilakukan empat tahun lalu itu dapat anda lawan! (amak syariffudin)