Benarkan Isi Vape itu Narkoba

142

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – DALAM Opini Bisnis Surabaya edisi akhir November 2017, tepat setahun lalu, saya mengomentari pernyataan Menteri Perdagangan Enggartiastoi Lukita (23/11/2017) yang dengan geram mengatakan, bahwa terimpor banyak “rokok” jenis vape. Bentuk seperti pipa rokok itu tidak berisikan rokok atau tembakau, akan tetapi bahan kimia dengan ragam rasa dan mengeluarkan asap seperti rokok. Gaya “merokok” banyak anak muda masa kini. Menperdag dengan geram menganjurkan, lebih baik merokok sigaret biasa daripada ‘,merokok vape’! Dia tidak sekedar gerah dengan gaya merokok vape, tetapi di balik itu, bagaimanapun juga bakal merugikan penjualan rokok yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan rokok kita. Yang berdampak pula dalam lapangan pekerjaan dan terutama pendapatan pajak dari rokok. Selain itu, menurut dia, kita tidak tahu, bahwa cairan kimiawi yang dimasukkan dalam vape itu bisa-bisa narkoba. Katanya “berbaliklah jadi perokok biasa!”

Pihak Badan Narkotika Nasional dan Kepolisian Negara dalam November 2018 berhasil menangkap penyelundup vape. Vape-vape dalam berbagai bentuk yang menarik dan bergaya ‘modern’ yang disita dari para penyelundup itu, ketika diperiksa ternyata berisikan narkoba jenis baru.

Sampai dengan sekarang, “perokok” vape itu umumnya masih dari kalangan anak muda. Terutama yang hidup di perkotaan dan ingin dilihat sebagai “generasi now”. Saya pernah duduk berdekatan dengan perokok vape. Ternyata asap yang dikeluarkannya lebih banyak ketimbang menghisap rokok biasa. Ada yang beralasan, bahwa merokok vape itu untuk menghindari kandungan nicotine yang terdapat dalam tembakau. Pada hal, bahan kimiawi yang dihisap melalui vape tersebut belum pernah dinyatakan oleh para ahli kimia, bahwa tidak mengandung bahan penyakit atau jenis racun. Karena bentuk bahan kimiawi itu berupa beku atau setengah cairan, maka ketika diganti dengan diisi bahan narkotika, tidaklah nampak bedanya. Perbedaan yang kelihatan pada diri penghisap vape berbahan narkoba itu adalah tingkah lakunya yang teler!

Baik tembakau dalam rokok maupun bahan kimiawi dalam vape, dua-duanya sangat tidak baik bagi kesehatan manusia. Sangat banyak perokok berat di masa mudanya, ketika menjelang hari tua, mulai terasa racun nicotinenya pada dirinya. Paru-paru ataupun jantungnya menjadi tidak normal. Karenanya, rokok dikenakan cukai-rokok yang “cukup besar”. Tujuannya, mengurangi jumlah produksi rokok dan jumlah penghisap rokok. Terutama pada anak-anak dan generasi muda. Kemudian sebagian dari cukai-rokok itu dihibahkan ke rumah-rumah sakit (pemerintah) untuk pembangunan dan fasilitas kamar-inap penderita penyakit dalam. Terutama penyakit paru-paru dan jantung. Karenanya, ketika kalangan Kementerian Koordinator Perekonomian yang antara lain Kementerian Keuangan memutuskan untuk tahun 2019 tidak menaikkan cukai-rokok, Menteri Kesehatan, dr. Nita Juwita Moeloek, menyatakan penyesalan. Sebab dari Kementeriannya yang santar mengecam perokok dan berulang-ulang menggambarkan bahaya merokok serta racun dari rokok. Namun, lain lagi ditinjau dari aspek politis dan ekonomi yang menjadi alasan mengapa cukai-rokok tahun depan tidak dinaikkan. Yakni kondisi perekonomian yang harus dijaga agar harga-harga kebutuhan rakyat tidak naik dan kondisi lapangan-pekerjaan (dalam penanaman dan produk tembakau serta rokok) tidak terguncang oleh tenaga-kerja yang terkena pemutusan hubungan kerja, karena penjualan rokok terhambat oleh harga tinggi dampak cukai tinggi.

Dalam perdagangan rokok berikut pertanian tembakau dan tenaga-kerjanya, benang ruwet itu demikian selalu muncul dari tahun ke tahun. Satu pihak demi perkembangan perkeonomian, lapangan kerja dan kehidupan pertanian (tembakau), di lain pihak bahaya rokok dan penderita dampak racun rokok. Ini tak selesai-selesai. Sekarang ditambah munculnya vape. “Rokok mesin” atau “rokok teknologi” yang kini sudah ditunggangi narkoba. Kalau mau ditarik pajak yang tinggi, dari mana harus dimulai? Sampai kini produsennya masih di luar negeri. Masuk ke Indonesia banyak lewat penyelundupan. Bingung nggak?

Yang penting adalah menjaga, jangan sampai “penyakit vape” itu menjalar luas di kalangan remaja kita. Mereka hendaknya memaklmui, bahwa bahaya keracunan apabila merokok dengan alat vape tersebut lebih tinggi ketimbang merokok sigaret biasa. Memang kalau bisa, jangan merokok sama sekali. Meski anjuran untuk tidak merokok sama sekali memang terasa sulit dan mustahil. Juga masih dipikirkan tentang cukai-rokok yang diharap-harapkan oleh pemerintah, karena untuk pendanaan hal-hal yang sulit terbiayai lewat APBN dan APBD. Maaf kalau dikira saya ikut menganjurkan merokok sajalah, asalkan “yang sah”. Saya hanya menggambarkan “saling mbuletnya” masalah rokok mulai dari kepentingan kehidupan petani penanam tembakau, sumber daya manusia pengolah tembakau, masalah pendapatan pajak dari produsen rokok bagi pemerintah daerah dan pusat, masalah kehidupan tenaga kerja yang memproduksi rokok sampaipun harapan pemerintah (termasuk) DPR-RI tentang besaran pajak dari cukai-rokok. (amak syariffudin)