Sigit : Surabaya Kota Relawan Sejak 2005

479

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Tagana dan Surabaya Juang. Bulan November adalah bulan perjuangan. Setiap bulan tersebut Bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Bagi Rakyat Surabaya, peristiwa pertempuran 10 November 1945 di Jembatan Merah yang menjadi dasar ditetapkannya hari pahlawan tersebut memiliki makna yang dalam dihati mereka.

Semangat rela berjuang untuk kepentingan bangsa dan negara yang diserukan ulama melalui resolusi jihad yang difatwakan KH Hasyim Asyari, dan ditunjukkan para pahlawan perang kemerdekan tersebut telah mengalir dalam sanubari setiap generasi penerus, dan semangat itu terus terpelihara hingga sekarang.

Anggota Tagana Surabaya foto bersama sebelum kirab dimulai. (Foto/nanang)

“Jika tahun 1945, Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan, Maka sejak 2005 Surabaya juga dikenal sebagai Kota Relawan,” kata Koordinator Taruna Siaga Bencana (Tagana) Surabaya, Sigit Eki Erianto, kepada bisnissurabaya.com, Rabu (14/11) kemarin.

Memang benar, sejak 2005, di Surabaya banyak berdiri organisasi relawan kemanusiaan. Baik relawan sosial maupun relawan kebencanaan. Tagana Kota Surabaya adalah salah satu relawan kebencaanan berbasis masyarakat yang dibentuk Kementerian Sosial.

Setiap kali terjadi bencana, baik bencana alam, non alam maupun bencana sosial, Korps baju biru Tagana selalu hadir. Tak peduli di luar Surabaya sekalipun. Seperti banjir di Tuban, Lamongan, Bojonegoro, gunung meletus di Jogja, dan gempa di Lombok dan Palu.

Saat Tagana menyerahkan tampih polo pendem ke Walikota Surabaya. (Foto/nanang)

“Tagana Surabaya, bersama dengan BPB Linmas dan Dinas Kebakaran, hampir tiap hari bersinergi menangani bencana kebakaran yang terjadi di Surabaya,” jelas Sigit yang juga mantan Ketua Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Jawa Timur/Jatim ini.

Pada parade Surabaya Juang hari Minggu (11/11) lalu, Tagana Surabaya berpartisipasi mengikuti acara karnaval tersebut.

Sejak pukul 06.00 WIB, anggota Tagana sudah berkumpul disisi utara Tugu Pahlawan. Selain defile 100 orang pasukan yang dipimpin M. Inggil, mereka juga menurunkan perlengkapan mereka berupa 1 unit mobil dapur umum lapangan (Dunlap), 1 unit mobil kendaraan taktis umum (RTU) dikemudikan Paryudi, dan 2 unit sepeda motor trail lapangan masing-masing dikendarai Sigit dan Rudi Geprek.

Sepanjang perjalanan, anggota Tagana membagikan minuman kopi, teh hangat, dan makanan rebus polo pendem kepada petugas Linmas, Satpol PP, dan petugas kebersihan yang berdiri berjaga sepanjang Tugu Pahlawan sampai Taman Bungkul.

“Tagana sengaja menghadirkan menu polo pendem dan kopi, untuk mengingatkan kembali kepada masyarakat tentang suasana dapur umum pada masa perjuangan. Dimana rakyat bahu membahu bersama pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan, dan dari sinilah berawal Hari Kesetiakawanan Sosial yang diperingati setiap Desember,” jelas Sigit, yang didampingi petugas dapur umum seperti Tri, Rawan, Yayuk, Yahya.

Aksi Mobil Dapur umum Tagana yang dikemudikan anggota Tagana Khusus (Tagsus) Ari, yang berseragam loreng itu, bertambah lengkap saat mereka tepat berada di depan panggung kehormatan di depan Taman Bungkul.

Mereka buru-buru menurunkan tampih berisi aneka makanan polo pendem rebus. Seperti kacang, pisang, singkong dan ketela pohon yang sudah mereka siapkan. Makanan tersebut langsung diserahkan ke Walikota Tri Rismaharini, yang juga Walikota perempuan pertama di Surabaya itu menerimanya dengan mata berkaca-kaca sambil berulang kali mengucapkan terima kasih.

Kiprah Tagana yang maksimal dalam parade juang, tak lepas dari kekompakan dan kedisiplinan anggota serta didukung penuh Dinas Sosial Surabaya selaku pembina teknis yang selama ini membina dan menaungi Tagana. (nanang)