Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Ancaman rokok pada anak. Menurut data World Health Organication (WHO), Pada 2005 ada sekitar 5 juta orang meninggal karena rokok. Diperkirakan 2020 akan ada peningkatan mencapai 8,4 juta orang. Yang terdiri 50 persen terjadi di Asia,  dan 70 persen di negara berkembang.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2014-2019 menargetkan pravalensi merokok pada anak bisa ditekan pada angka 5,4 persen. Keinginan pemerintah sangat sesuai dengan UU 36/2009 utamanya pasal 59, dimana disebutkan anak berhak mendapatkan perlindungan dari penyalahgunaan Napza (Narkotika, Psikotropika, ZatAdiktif) dimana rokok termasuk kategori Zat Adiktif.

Ketua Bidang Advokasi LPA Jatim, Priyono Adi Nugroho. (Foto/nanang)

Pada 2017 lalu FKM Unair Surabaya melakukan survei perilaku merokok pada anak sekolah di Kota Surabaya. Metode penelitian cross sectional study dengan sampel anak SD dan SMP sebanyak 385 anak di 5 wilayah geografis kota Surabaya (utara, selatan, barat, timur dan tengah).

Hasilnya anak SD dan SMP di Surabaya:

Sebanyak 6,75 persen –> masih merokok

Sebanyak 26,23 persen –> pernah merokok

Sebanyak 67,01 persen –> tidak pernah merokok.

Diantara anak yang pernah merokok dan masih merokok, usia termuda mulai merokok adalah 4 tahun dan paling tua 15 tahun. Usia mulai merokok paling banyak (26,8 persen) adalah 10 tahun. Apabila rentang usia 9-13 tahun sebanyak 92,2 persen anak SD dan SMP yang pernah merokok dan masih merokok mulai pertama kali merokok.

“Artinya pada rentang usia inilah anak harus diwaspasi karena rentan mulai merokok,”  kata Ketua Bidang Advokasi Lembaga Perlindungan Anak Jawa Timur (LPA Jatim), Priyono Adi Nugroho, kepada bisnissurabaya.com  di  acara media brefing dalam rangka hari kesehatan Minggu (11/11) lalu.

Sementara itu, dari seluruh responden anak SD dan SMP, hanya 4,2 persen anak yang tak pernah melihat atau mendengar iklan rokok. Artinya hampir semua anak (95,8 persen) pernah terpapar iklan rokok. Anak-anak melihat iklan rokok di sekitar rumah sebanyak 25,6 persen dan 5 persen melihat iklan rokok di sekitar sekolah. Banyak anak juga melihat iklan di jalan dan di perempatan jalan.

Kesan yang timbul dari iklan rokok yang dirasakan anak adalah:

Merasa dewasa = 27,5 persen

Merasa gaul = 17,7 persen

Merasa percaya diri = 9,4 persen

“Sebanyak 12,1 persen anak yang tertarik untuk mencoba merokok setelah melihat iklan rokok. Sebanyak 14,5 persen anak akan merokok setelah melihat iklan rokok. Jelas sekali bahwa iklan sangat berpengaruh pada anak-anak,” jelas Priyono Adi Nugroho, didampingi Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair Ilham Akhsanu Ridlo.

Disamping mempengaruhi anak dan remaja untuk merokok keberadaan iklan, promosi dan sponsor rokok yg marak di berbagai tempat dan kesempatan itu juga membentuk image masyarakat bahwa rokok itu sama dan sejajar dengan makanan dan minuman sehari hari. “Orang bisa tanpa sadar menggolongkan rokok sebagai sembako yang sejajar dengan kebutuhan beras atau air mineral,” tambah Priyono.

Padahal, kata dia, rokok jelas-jelas bukan konsumsi umum, bukan konsumsi normal. Kedudukannya sama seperti alkohol atau minuman keras yang dikenai cukai. Bedanya untuk menjual miras harus berijin, dijual di tempat tertentu. Sedangkan rokok menjualnya tanpa ijin, bisa didapat dengan mudah di pedagang asongan, warung PKL, toko2 hingga hotel berbintang.

Karena itu diperlukan upaya agar rokok bisa diperlakukan spt miras. Rokok bukan barang konsumsi normal sehingga perlu didenormalisasi. Denormalisasi meliputi aturan penjualan, aturan memproduksi yang harus berijin, di samping aturan menggunakan/ merokok di tempat di luar KTR yang ditetapkan. (nanang)