Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Bukan sekedar warung biasa. Warung Mbah Cokro, mengajak pelanggannya untuk berdiskusi bersama. Angkringan yang terletak di Jalan Raya Prapen Surabaya, Jawa Timur/Jatim ini menampilkan khas makanan dan minuman rakyat kelas bawah. Ada nasi kucing dibungkus daun pisang, kopi dan wedang tape.

Dekorasi warung dibuat seperti suasana tempo dulu. Simbol-simbol yang berada di warung zaman dulu/zadul ini juga bernuansa zaman pra kemerdekaan. Tulisan-tulisan yang menempel pada warung menggunakan ejaan lama. Saya, tulisan Waroeng Rakjat dan sebagainya. Dilihat dari namanya, Mbah Cokro, diambil dari nama pejuang nasional HOS Cokroaminoto.

Pengunjung Angkringan Mbah Cokro. (Foto/retha)

Warung ini dikelola alumni Stikosa-AWS, Zurqoni, Fredo, dan Arif. Pada dinding-dinding yang terbuat dari anyaman bambu, tertempel poster-poster film zaman dulu. Seperti Menggapai Matahari-nya Rhoma Irama, piringan hitam, kamera layar tancap, radio kuno, mesin jahit dipadu bendera seolah menggambarkan suasana saat Ibu Fatmawati tengah menjahit Sang Saka Merah Putih. Juga terdapat potongan-potongan koran-koran zaman kuno. Salah satunya Harian Manifesto.

“Konsep awal adalah kesederhanaan. Menu khas tempo dulu, adalah gambaran kesederhanaan orang-orang zaman dulu. Dengan konsep seperti ini, kita juga ingin menikmati masa-masa lalu yang penuh perjuangan. Dan kebetulan saya juga banyak mengoleksi benda-benda jadul. Jadi, pas ketika konsep warung ini saya buat,” kata Zurqoni, kepada bisnissurabaya.com Minggu (11/11) kemarin.

Berbagai makanan di Angkringan Mbah Cokro. (Foto/retha)

Pelayannya juga mengenakan pakaian unik. Ada pakai seragam Hansip dengan nama Semaun, Alimin serta tokoh-tokoh pergerakan nasional. Warung ini dibangun dari potongan bambu dengan perabotan khas zaman kuno. Mulai meja-kursi dari bambu, gelas dari seng (pelat tipis), kendi dan beberapa perabotan zaman dahulu. Karena suasananya yang klasik dan nyaman untuk nongkrong di waktu malam. Warung Mbah Cokro, mulai buka pukul 16.00 WIB hingga dini hari.

Selain kerap dijadikan tempat tongkrongan para alumni Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS), Stikosa-AWS, seniman dari Dewan Kesenian Surabaya (DKS), wartawan, dan Club CB, warung Mbah Cokro juga kerap dijadikan tempat diskusi. Mulai diskusi foto, pemutaran film, ilmu pengetahuan dengan mendatangkan narasumber dari luar kota, warung yang asalnya didirikan di kawasan Waru, Sidoarjo ini, makin menarik minat pengunjung di Kota Surabaya.

Istilah orang Jawa, Sak dowo-dowoe tampar sek dowoan cangkem (betapapun panjangnya tali, tetap lebih panjang mulut). Dan begitulah kabar keberadaan warung Mbah Cokro di Surabaya yang menggelitik. Dari kabar mulut ke mulut, warung berkonsep jadul ini mulai banyak dikunjungi anak muda di Kota Pahlawan.

“Saya senang kemari dengan teman-teman. Di angkringan ini tak ada WiFi nya, karena itu lebih terasa kebersamaannya,” ujar Rizky, pengunjung Warung Mbah Cokro. Tak hanya suguhan klasik zaman pra-kemerdekaan, warung Mbah Cokro, juga menyuguhkan alunan musik era 70 hingga 80-an. Seperti lagu Hong Wilahengnya musisi asal Surabaya, almarhum Gombloh, lagu milik Tommy J Pisa, Koes Plus dan sebagainya. (fara/retha)