Ketua Umum PB NU, Prof Dr KH Said Agil Siroj, MA (kiri) dan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dr H Haedar Nashir, MSi (kanan). (Foto/ist)

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Empat poin hasil pertemuan pimpinan Muhammadiyah dan NU mendapat apresiasi masyarakat. Salah satunya, Direktur Masjid Joglo Roudlotul Muttaqin, M Khoirul Rijal, yang mengapresiasi komitmen pernyataan bersama PB NU dan PP Muhammadiyah yang dimaksudkan untuk menjaga kondusifitas situasi politik nasional menjelang pesta demokrasi 2019.

“Ini sangat menyejukkan masyarakat, yang cinta damai,” kata M Khoirul Rijal, kepada bisnissurabaya.com, Kamis (1/11) pagi.

Khoirul Rizal

Rijal, menyebut pertemuan Ketua Umum PB NU, Prof Dr KH Said Agil, MA dan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dr H Haedar Nashir, MSi., di kantor PP Muhammadiyah di Jakarta Rabu (31/10) sangat menyejukkan. Sebab kedua ormas besar di Indonesia itu, kata Rijal, sangat Menyadari pentingnya kedaulatan dan kemajuan bangsa dan negara. Karena itu Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama/NU, membuat empat kesepakatan. Yakni, berkomitmen kuat menegakkan keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia/NKRI yang berdasarkan atas Pancasila sebagai bentuk dan sistem kenegaraan yang Islami. Bersamaan dengan itu menguatkan dan memperluas kebersamaan dengan seluruh komponen bangsa dalam meneguhkan integrasi nasional dalam suasana yang damai, persaudaraan, dan saling berbagi untuk persatuan dan kemajuan bangsa.

Mendukung sistem demokrasi dan proses demokratisasi sebagai mekanisme politik kenegaraan dan seleksi kepemimpinan nasional yang dilaksanakan dengan profesional, konstitusional, adil, jujur, dan berkeadaban. Semua pihak agar mendukung proses demokrasi yang substantlf serta bebas dari politik yang koruptif dan transaksional demi tegaknya kehidupan politik yang dijiwai nilai-nilai Agama, Pancasila, dan kebudayaan luhur Indonesia.

Meningkatkan komunikasi dan kerjasama yang konstruktif untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun masyarakat yang makmur baik material maupun spiritual, serta peran politik kebangsaan melalui program pendidikan, ekonomi, kebudayaan, dan bidang-bidang strategis lainnya. Komunikasi dan kerja sama tersebut sebagai perwujudan ukhuwah keumatan dan kebangsaan yang produktif untuk kemajuan Indonesia.

Serta kesepakatan yang terakhir menyebutkan pada tahun politik ini semua pihak agar mengedepankan kearifan, kedamaian, toleransi, dan kebersamaan di tengah perbedaan pilihan politik. Kontestasi politik diharapkan berlangsung damai, cerdas, dewasa, serta menjunjung tinggi keadaban serta kepentingan bangsa dan negara. Hindari sikap saling bermusuhan dan saling menjatuhkan yang dapat merugikan kehidupan bersama. Kami percaya rakyat dan para elite Indonesia makin cerdas, santun, dan dewasa dalam berpolitik. (bw)