Sampah plastik, sedotan. (Foto/nanang)

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Sampah plastik sangat berbahaya. Karena itu, kemajuan teknologi yang ditandai dengan revolusi industri, banyak membawa perubahan pada kehidupan manusia dan membentuk peradaban baru. Perubahan yang signifikan dan fundamental adalah ditemukannya plastik yang keberadaannya banyak digunakan sebagai alat perabot rumah tangga menggantikan alat berbahan besi dan kayu.

Tak hanya itu, plastik banyak digunakan sebagai bahan kemasan yang selama ini didominasi kertas, daun, dan kulit. Hal ini, membawa perubahan pada tampilan produk yang dibungkusnya. Penampilannya lebih kuat, bagus, dan informatif.

Sedotan yang menjadi sampah plastik. (Foto/nanang)

Penggunaan kemasan pembungkus berbahan plastik semakin hari dikenal di masyarakat. Apalagi jika dikemasan itu terdapat merek dagang yang gencar melakukan promosi. Ini membuat produk semakin menyatu dengan konsumen.

Dampak negatif dari penggunaan kemasan plastik, adalah melimpahnya sampah dan limbah plastik. Saat ini, Indonesia menjadi juara dua setelah Tiongkok dalam hal produksi sampah plastik. Sampah plastik dapat dengan mudah ditemukan di darat, dan laut.

“Empat puluh persen sampah plastik adalah kemasan. Di laut, nano dan mikro plastik sering termakan oleh ikan. Hal ini menyebabkan gangguan hormonal dan mengganggu ekosistem karena mengakibatkan perubahan kelamin hingga kematian ikan,” kata Koordinator Komunitas Nol Sampah, Hermawan, kepada bisnissuurabaya.com, di Surabaya Jumat (26/10).

Koordinator Nol Sampah, Hermawan. (Foto/nanang)

Beberapa waktu yang lalu, Komunitas Nol Sampah melakukan kegiatan pulung sampah untuk bersih-bersih Pantai Timur Surabaya. Disana mereka menemukan fakta yang sangat mencengangkan. Ternyata sampah plastik yang tersangkut baik pada saat air pasang maupun air surut dapat menyebabkan kematian tanaman bakau tersebut hingga 70 persen.

“Walau kegiatan ini tak banyak berarti, minimal dapat memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang bahaya sampah plastik,” jelas Hermawan.

Sampah yang berhasil dipulung seperti botol, dan standing pot, dikumpulkan kemudian dikirim kembali ke produsennya. Hal ini sesuai UU 18/2008 Tentang Pengolahan Sampah, dan dipertegas dengan PP 81/2018 dimana produsen bertanggung jawab terhadap kemasannya.

Dari 20 perusahaan yang dikirimi balik sampah plastik, hanya dua perusahaan yang merespon positif kegiatan tersebut.

Selain memulung sampah di sungai dan pantai, komunitas nol sampah juga melakukan aksi di car free day. Mereka tak hanya memulung sampah kemasan, tetapi juga memulung sedotan dan merampas tas kresek pengunjung untuk ditukar dengan tas kain.

Sedotan yang terkumpul selama dua jam kemudian disambung-sambung hingga panjangnya mencapai 2,4 kilometer. “Target kami sederhana, ingin menyadarkan masyarakat tentang dampak buruk sampah plastik bagi manusia,” tambah Hermawan.

Tuntutan komunitas nol sampah adalah Surabaya segera menyelesaikan Peraturan Daerah tentang pembatasan penggunaan kantong plastik. Sehingga segera mempunyai regulasi seperti di Banjarmasin. (nanang)