Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Ada lima sektor manufaktur nasional yang menjadi pionir memasuki era digital. Yakni, industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, industri elektronika serta industri kimia. ‘’Implementasi Making Indonesia 4.0 tak hanya menyangkut kegiatan ekonomi yang berubah menjadi serba digital. Tetapi, terjadi perubahan pula dalam kegiatan transaksi yang serba online,” kata Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) Bambang Prasetya, kepada bisnissurabaya.com disela Indonesia Quality Expo 2018 Grand City Surabaya Kamis (25/10) siang.

Menurut dia, jaminan mutu dan keselamatan karena produk yang menggunakan energi listrik serta jaminan mutu produk yang diperdagangkan di dunia maya atau E-Commerce, penerapan SNI menjadi sangat penting.”Teknologi digital juga membutuhkan interoperability (kemampuan produk atau sistem untuk berinteraksi dan berfungsi dengan produk atau sistem lain), dan kompatibel (produk atau sistem mampu bekerja serasi/harmoni), serta persoalan ini bisa terjawab dengan standar,” tambah Bambang.

Bambang Prasetya. (Foto/bw)

Begitu pula, lanjut dia, dengan jaminan produk pada E-Commerce, pemberlakuan SNI secara wajib perlu ditegakkan hukum dan sanksi bagi pelanggarnya. Selain isu Revolusi Industri 4.0, dalam kegiatan BMN juga akan membahas berbagai isu penting. Diantaranya Penerapan SNI ISO 37001:2016 Sistem Manajemen Anti Penyuapan, Akselerasi Budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja Melalui Sertifikasi  ISO 45001:2008, serta Undang – Undang No. 20 Tahun 2014 dan Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2018.

Ia menyatakan, BSN perlu menjelaskan dan mendorong institusi atau perusahaan untuk segera menerapkan SNI ISO 37001:2016. “Ini adalah salah satu jalan terpenting untuk mendukung program pemerintah dalam memberantas korupsi. Beberapa organisasi sudah menyatakan siap menerapkan SNI ini diantaranya SKK Migas, CV Hari Mukti Teknik (KANABA), Balai Besar Karantina Pertanian Makassar, Badan Narkotika Nasional, Dinas Kesehatan Palembang, dan Badan Pemeriksa Keuangan,”kata Bambang.

Saat ini, BSN telah menetapkan 11.682 SNI. Sejumlah 204 diantaranya telah di berlakukan secara wajib oleh kementrian terkait untuk menjamin kesehatan, keamanan, keselamatan dan pelestarian lingkungan hidup.

“Ini adalah wahana yang tepat bagi para pemangku kepentingan untuk berdiskusi, bertransaksi, dan menjalin kerjasama yang positif. Revolusi industri 4.0 bisa menjadi momentum bagi kita untuk mendorong pengembangan standardisasi dan penilaian kesesuaian yang lebih bisa mengadopsi teknologi informasi dan komunikasi untuk kualitas hidup yang lebih baik,” ujar Bambang, sambil menjelaskan Kabupaten Tabanan Bali telah meneken MOU dengan BSN terkait pangan organik.

Kepala Biro Hukum, Organisasi, dan Humas BSN Iryana Margahayu dalam jumpa persnya di Grand City Surabaya Selasa (23/10) kemarin mengatakan, pameran IQE akan didukung oleh berbagai pemangku kepentingan baik dari perusahaan, Iembaga penilaian kesesuaian, pemerintah pusat dan daerah, serta perguruan tinggi. “UKM-UKM unggulan yang sudah meraih SNI akan tampil dalam pameran IQE. Masyarakat dapat memanfaatkan IQE sebagai ajang bertukar informasi, edukasi, serta transaksi,” ujarnya.

Beberapa perusahaan besar penerap SNI yang bisa menjadi role model seperti PT. Petrokimia Gresik, PT. Pupuk KALTIM, PT. Pertam’ina Lubricants, PT. Siemens Indonesia, PT. Semen Indonesia, PT. Insera Sena (Polygon), serta PT. Kencana Gemilang (MIYAKO) turut ambil bagian dalam Pameran IQE. “Beberapa produk unggulan yang ditampilkan diantaranya Pupuk, Pelumas, Alat Elektronik Rumah Tangga, Mainan Anak, Batik, Kain Tenun, Tekstil, Produk Makanan Olahan Ikan, dan sebagainya,”kata Irna (biasa disapa).

Sebagai informasi, peserta pameran seperti PT. Petrokimia Gresik adalah perusahaan yang memperoleh penghargaan “Platinum” pada ajang SNI Award tahun 2017. 17 produk perusahaan ini telah memiliki Sertifikasi Produk Penggunaan Tanda SNI/SPPT SNI. Adapun PT. Semen Indonesia adalah perusahaan yang telah menerapkan beberapa standar seperti ISO 9001, ISO 14001, SMK3éOHSAS 18001, ISO/IEC 17025, ISO 31000, dan Sistem Manajemen lainnya.

Sementara itu, Gubernur Jatim, Soekarwo, mengatakan, di Jatim ada 1.224 produk yang ber-SNI. Juga ada yang dalam proses pengurusan SNI. (bw)