Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Air adalah zat cair yang penting bagi kehidupan manusia. Karena tubuh manusia mayoritas terdiri dari air. Manusia bisa bertahan hidup selama 14 hari tanpa makan, tetapi manusia hanya mampu bertahan 3 hari saja tanpa minum.

Kali Surabaya yang merupakan bagian hilir dari Kali Brantas, seringkali menjadi tempat pembuangan sampah dan limbah. Baik yang dilakukan oleh rumah tangga maupun industri. Di tempat ini bisa kita jumpai aneka jenis sampah plastik, popok, hingga kasur. Bahkan, pada bulan Idul Adha banyak orang yang mencuci daging hewan kurban dan membuang limbahnya disana.

Utomo, Humas Ecoton. (Foto/nanang)

Untuk mengetahui kualitas air di Kali Surabaya yang merupakan bahan baku pembuatan air minum yang diproduksi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), Ecoton melakukan sensus ikan. Yaitu, pengamatan dan pembedahan ikan yang hidup di Kali Surabaya.

Hal ini, untuk mengetahui kandungan logam berat atau senyawa yang berbahaya di tubuh ikan. Dari sini pula dapat diketahui kondisi air dari Mojokerto sampai Surabaya.

Kegiatan sensus ikan beberapa waktu yang lalu, dilakukan di kantor Ecoton Wringin Anom dan diikuti siswa kelas VI SD Wringin Anom Gresik. Diawali dengan kegiatan penimbangan dan pengukuran ikan yang akan dibedah.

Suasana sensus ikan. (Foto/nanang)

Proses pembedahan dilakukan Manager Bidang Pendidikan yang juga peneliti senior Ecoton, Andres Agus Kristanto Nugroho. Saat proses pembedahan, Andreas memberikan informasi jenis kelamin ikan yang hidup pada suatu ekosistem kepada siswa-siswa yang antusias mengelilinginya.

“Anak-anak tampak keheranan saat melihat ada semacam buble yang berfungsi sebagai pelampung dalam tubuh ikan,” kata Humas Ecoton, Utomo, kepada bisnissurabaya.com Sabtu (20/10) kemarin.

Melalui kegiatan sensus ikan, siswa-siswi dapat mengetahui jenis ikan yang hidup di sepanjang Kali Surabaya. Seperti, rengkik, bader putih, bader merah, keting dan cendil. “Di era milenial banyak anak kota besar yang tak tahu jenis-jenis ikan yang hidup di sungai. Dan sekarang mereka menjadi tahu,” jelas Utomo.

Keberadaan aneka sampah dan limbah yang ada di Kali Surabaya, selain mencemari juga menyebabkan logam berat dan senyawa berbahaya dalam perut ikan. Dan ini sangat membahayakan bila dikonsumsi manusia.

“Semoga hasil kegiatan sensus ikan ini dapat mengingatkan masyarakat agar lebih mencintai sungai,” tambah pria berkacamata ini.

Hasil sensus ikan tahun 2018 ini menunjukkan adanya penurunan populasi sebesar 80 hingga 90 persen. Hal ini disebabkan faktor pencemaran yang membuat ikan mati massal. Selain itu, dilepas liarkan ikan predator arapaima juga berkontribusi besar dalam penurunan populasi ikan di Kali Surabaya.(nanang)