Aliansi untuk ketahanan pangan Asia - (dari kiri–kanan) Colin Taylor, East Asia Pacific Regional Lead for Agribusiness Advisory Services International Finance Corporation; Amit Trikha, Global Crop Management Rice, Bayer Crop Science; Henry Gorang Cambangay, perwakilan petani kecil dari Bohol, Filipina; Gal Yarden, SVP Corporate Commercial Solutions Netafim dan Jeffrey Khoo, Head of Food & Agribusiness Sales Asia, Swiss Re Corporate Solutions dalam peluncuran aliansi Better Life Farming, di Singapura (15/10). (Foto/ist)

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Beras merupakan makanan pokok bagi lebih dari setengah populasi dunia. Masyarakat Indonesia sendiri mengkonsumsi beras sebesar 114,6 kg per kapita per tahun. Dengan bertambahnya jumlah populasi kebutuhan beras juga diprediksi ikut meningkat. Selanjutnya, permintaan beras pada 2050 dapat meningkat dua kali lipat dari produksi beras dunia.

Saat ini dan lebih dari 90 persen suplai beras terbanyak diproduksi petani kecil di Asia. Bagi petani kecil, beras tak hanya sekedar pangan, tetapi juga sumber utama mata pencaharian. Petani kecil sangat rentan terhadap ancaman eksistensial, termasuk dampak dari iklim, hama dan penyakit tanaman, infrastruktur yang buruk, migrasi, fluktuasi harga komoditas, dan, hambatan regulasi.

Hasil panen meningkat 57persen – Henry Gorang Cambangay, perwakilan petani kecil dari Bohol. Filipina yang turut hadir dalam peluncuran Better Life Farming di Singapura (15/10). (Foto/ist)

‘’Mereka memiliki akses yang terbatas dengan praktik pertanian modern dan teknologi serta keterbatasan keuangan dan kemampuan pemasaran. Tantangan tersebut menjadikan para petani hanya dapat menyadari sedikit dari potensi produktivitas mereka,’’ kata Lino Dias, Global Head Smallholder Farming, Bayer, Lino Dias, Senin (15/10) lalu.

Pada 15 Oktober, 2018, Bayer berafiliasi dengan International Finance Corporation (IFC, anggota Kelompok Bank Dunia), Netafim, dan Swiss Re Corporate Solutions bersama dengan mitra lokal meluncurkan Better Life Farming untuk petani beras Asia di International Rice Congress di Singapura.

Better Life Farming, kata dia, merupakan aliansi perusahaan swasta terkemuka yang menyediakan solusi holistik dan inovatif dalam mengembangkan ekonomi. Sehingga memungkinkan untuk petani kecil meningkatkan potensi pertanian. ‘’Dengan menghubungkan keahlian global dengan mitra setempat, yang disesuaikan dengan kondisi lokal Better Life Farming menyediakan praktik agrikultur terdepan, benih, irigasi presisi, perlindungan tanaman, modal, asuransi, teknologi digital dan akses ke pasar yang mana masing-masing layanan disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan petani kecil dalam skala besar,’’ ujarnya.

Kekuatan Better Life Farming, menurut dia, terletak pada komitmen jangka panjang untuk berkolaborasi dengan petani kecil secara berkelanjutan agar dapat memproduksi pangan dalam jumlah lebih banyak, membangun bisnis pertanian, dan meningkatkan kesejahteraan.  Sejak memulai program percontohan beras pada 2017, Better Life Farming di Asia telah mendapatkan hasil yang bagus di wilayah-wilayah tertentu di Filipina, Indonesia, Thailand, dan Vietnam, berjalan dengan kondisi petani yang kurang diperhatikan. Melalui semua program ini, Better Farming Alliance dapat meningkatkan hasil produksi dan pendapatan bersih petani kecil dibandingkan dengan praktik petani yang saat ini berlaku di beberapa daerah tertentu. Bahkan di Banten, Indonesia, hasil pangan tumbuh 27,1 persen dan dengan peningkatan pendapatan bersih mencapai 73 persen berkat program percontohan ini.

Pada 2018, Better Life Farming menyediakan akses untuk ilmu, praktik dan teknologi agrikultur dan bisnis pertanian, petugas yang berdedikasi di lapangan serta kemudahan akses sumber pembiayaan berkelanjutan. Ditambah lagi kemitraan yang terjalin dengan offtaker dan bank membantu menciptakan harga pasar yang stabil dan seimbang. Solusi-solusi tersebut telah ditawarkan kepada 9,000 petani selama 2018. Secara garis besar Better Life Farming bertujuan untuk semakin berkembang sekaligus memberdayakan kehidupan petani-petani kecil dalam jangka panjang.

Lino Dias, Global Head Smallholder Farming, Bayer, menekankan pentingnya kolaborasi para mitra dan menonjolkan kekuatan dari aliansi: “Kami ingin mendukung petani kecil karena kami sangat yakin bahwa memberdayakan mereka dapat meningkatkan potensi sektor pertanian, yang merupakan kunci penting untuk mencapai ketahanan pangan,’’ ujarnya.

Dengan adanya ekosistem kerjasama antara mitra yang kuat dan petani dengan pola pikir yang telah berkembang terbukti dapat meningkatkan produktivitas dan juga pendapatan bersih petani. Better Life Farming bersama dengan para mitra mampu mengatasi kebutuhan petani secara menyeluruh. Kami juga yakin bahwa pendekatan ini memberikan kontribusi positif tak hanya untuk para petani tetapi juga untuk keluarga dan komunitas mereka. (bw)