Lahan percontohan milik H Ngatoyo, yang cocok dikembangkan di Banyuwangi. (Foto/tin)

Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – PETANI adalah soko guru ekonomi. Sayangnya, nasib petani kerap terpinggirkan. Musim panen, harga hasil panen anjlok. Beaya tanam melambung. Kondisi ini yang membuat sosok H. Ngatoyo,SPd, tergerak. Berkat teknologi yang dimilikinya, petani bawang prei bisa panen lebih cepat dan lebih banyak. Pria yang tinggal di Perumahan Dadapan Asri, Kabat ini sangat peduli dengan petani. Khususnya di daerah Songgon yang cocok dikembangkan komoditi bawang prei.

Lahir menjadi anak tunggal, tak membuat H. Ngatoyo menjadi anak manja ketika masih muda. Berangkat dari latar belakang anak petani, sejak belia, Ngatoyo sudah tertarik belajar bertani. “Saya minta bagian satu petak lahan, lalu saya kelola sendiri,” kisah Ngatoyo, saat berbincang dengan Bisnis Banyuwangi, belum lama ini.

H Ngatoyo, SPd. (foto/tin)

Saat itu, dia mencoba menanam kubis dan bawang daun atau bawang prei. “Saya kuliah sembari merawat tanaman,” kenangnya. Lalu, pada 1999, Ngatoyo mendapat tawaran kerjasama dari PT Kebun Kinarya Era Bumi Nusantara, Batu, Malang, yang bergerak dibidang distributor sayuran. Ngatoyo, bergerak di bidang produksi, lbercocok tanam sebagai petani. Pihak PT siap menampung seluruh hasil produksi pertanian warga di desanya. Bahkan, seluruh kawasan Tengger, Probolinggo. Dia menilai, tawaran ini bisa menjadi peluang bagi petani sayur di desanya.

Akhirnya, Ngatoyo merangkul 25 petani, yang tergabung dalam Kelompok Tani Maju. Mereka menanam sayuran sesuai kualitas yang diminta pihak PT. Dari situ, kata Ngatoyo, sampai terbentuk 17 kelompok. Mendapatkan bantuan Kredit Usaha Tani (KUT) se-kecamatan. “Termasuk saya sebagai ketua kelompok Tani Maju,” jelasnya.

Menurut dia, kerjasama ini sangat mengangkat potensi petani lokal. Karena terus menerus, harganya bisa dikendalikan.

Ada tiga jenis komoditas unggulan yang dikembangkan warga. Kentang, kubis dan bawang prei. Kapasitas produksi luar biasa. Minimal 100 ton per bulan. Kerja sama ini berjalan selama 5 tahun. Setelah itu, Ngatoyo, fokus mengembangkan ke satu komoditas, kentang granola. Untuk membantu petani, dirinya berinisiatif menampung hasil panen kentang dari petani, sebelum hasil panen dikirim ke PT. Alasannya, kala itu, cara bertani masyarakat masih tradisional. Waktu panen bersamaan. Imbasnya, saat panen raya seluruh petani kesulitan menjual. Padahal kualitasnya bagus atau super. Idealnya, kata Ngatoyo, harga tembus Rp 6000 per kilogram. Namun, saat panen raya, harga anjlok hingga Rp 3.500 per kilogram. Itupun tak ada pasar yang menerima.

Akibat melimpahnya hasil panen kentang, Ngatoyo bersedia menampung hasil panen petani. Dibeli dengan harga wajar. Petani hanya meminta dibayar sebagian untuk modal tanam lagi.Ngatoyo mendistribusikan kentang ke PT dan pasar lokal. Harganya di atas standar, Rp 7.000 per kilogram. Omzetnya luar biasa. Sekali panen mencapai 100 ton. Keuntungan mencapai 200 persen. Masa panen 110 hari sekali. “Sehingga ke petani saya bisa bayar lunas,” tambahnya. Hal ini sesuai permintaan petani agar hasil panen bisa terserap pasar. Apalagi saling menguntungkan. Usaha seperti ini berjalan dari 2004 sampai sekarang.

Tak berhenti disitu, H. Ngatoyo, terus berupaya membuat terobosan baru di bidang pertanian. Salah satunya membuat teknik budidaya bawang prei, bisa panen 6 kali setahun. Biasanya tanaman bawang prei hanya bisa dipanen 2 kali setahun, dengan teknik yang dia terapkan menjadi 6 kali panen setahun. Sehingga, panen lebih cepat dan banyak.

Terobosan ini, kata dia, sudah diterapkan di Desa Wonokerso, Probolinggo, seluas 5 hektar. Bahkan, menjadi lahan percontohan. Masa panen setiap 2 bulan sekali. “Dengan teknik yang saya lakukan petani lebih untung,” ucapnya.

Kini, Ngatoyo siap mengangkat potensi petani bawang prei di Banyuwangi. Khususnya di kawasan Desa Sragi dan Songgon. Kebetulan, daerah ini menjadi wilayah pemilihan dapil II Banyuwangi dalam pemilu legeslatif (pileg), 17 April mendatang. Menurut dia, kawasan Banyuwangi menyimpan potensi dikembangkan komoditi bawang prei. “Saya berharap bisa meningkatkan taraf hidup rakyat kecil, khususnya petani dengan teknologi cepat panen ini,” ungkapnya. Selain di Songgon, H. Ngatoyo sedang mengembangkan pertanian sayur di kawasan Ijen, Bondowoso. Luasnya 11 hektar. Tahun 2002, Ngatoyo berkecimpung dalam usaha pengiriman sayur ke Bali. Dari situ dirinya kerap singgah di Banyuwangi. Sampai akhirnya bertemu jodoh wanita asli Genteng. Lalu, menetap di Banyuwangi. (tin)