Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Koperasi dan UMKM eksis di Jawa Timur/Jatim. Bung Hatta, Bapak Proklamator Indonesia pernah menawarkan koperasi sebagai bentuk usaha dalam sistem perekonomian Indonesia.

Naluri Bung Hatta, ternyata benar. Bentuk koperasi yang asli Indonesia ini, selain cocok dengan karakter gotong royong yang merupakan watak dan karakter masyarakat Indonesia, ternyata juga mampu bertahan sebagai sokoguru ekonomi yang fundamental.

Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Jatim membuktikan hal tersebut, melalui berbagai fakta yang menunjukkan besarnya kontribusi sektor tersebut bagi kemajuan perekonomian di provinsi ini.

Gubernur Jatim, Soekarwo, saat berbicara ttg koperasi dan UMKM. (Foto/ist)

Salah satu kontribusi Koperasi dan UMKM Jatim tercermin dari tingkat pertumbuhan ekonomi provinsi ini. Dimana pertumbuhan ekonomi Jatim pada semester I/2018 mencapai 5,57 persen dengan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) mencapai Rp 544,44 triliun.

“Kondisi ini dicapai karena dukungan dari koperasi dan UMKM di Jatim. Dari 31,7 ribu koperasi yang ada di Jatim, dapat menghasilkan volume usaha sebesar Rp 13,35 triliun dan SHU sebesar Rp 3,35 triliun,” kata Gubernur Jatim Dr. H Soekarwo, kepada Bisnis Surabaya Rabu (15/8) kemarin.

Kontribusi Koperasi dan UMKM terhadap perekonomian Jatim, juga mengalami peningkatan yang signifikan. Yakni, pada 2012, UMKM mampu berkontribusi terhadap PDRB sebesar 54,98 persen. Dengan asumsi ceteris paribus, maka kontribusi UMKM terhadap PDRB Jatim pada 2016 sebesar 57,52 persen.

Kemudian, koperasi dan UMKM di Jatim juga memberikan kontribusi besar terhadap realisasi penanaman modal. Hal ini dilihat dari realisasi investasi Jatim pada 2017 sebesar Rp 152,39 triliun. Sementara pada semester I/2018 sebesar Rp 95,95 triliun, meningkat 22,87 persen dari periode yang sama pada tahun 2017.

Dari data tersebut, pada 2017 kontribusi PMDN Non Fasilitas mencapai 56,34 persen, dan pada semester I Tahun 2018 ini meningkat menjadi 74,36 persen.

Ini menandakan UMKM mendominasi PMDN Non Fasilitas dan menjadi sumber utama pendorong pembangunan ekonomi Jatim di tengah perekonomian global yang dinamis.
Peningkatan tersebut, sejalan dengan melesatnya pertumbuhan Koperasi dan UMKM di Jatim, yang berdasarkan sensus ekonomi nasional, populasi UMKM Jatim mengalami pertumbuhan signifikan, dari 6,8 juta pada yahun 2012, meningkat jadi 9,59 juta pada 2017.

“Dari 9,59 juta UMKM tersebut, sebanyak 4,61 juta UMKM di sektor non pertanian, dan 4,98 juta UMKM di pertanian,” jelas Gubernur kelahiran Madiun ini.

Pertumbuhan sektor koperasi dan UMKM ini, juga membawa dampak positif bagi penurunan angka pengangguran dan angka kemiskinan di Jatim. Karena sektor tersebut mampu menyerap 18,95 juta tenaga kerja.

“Jika dibandingkan dengan angkatan kerja yang ada yaitu sebanyak 20,16 juta, maka lebih dari 90 persen angkatan kerja diserap oleh UMKM,” tambah suami dari Nina Soekarwo ini.

Pemikiran Soekarwo, tentang Koperasi dan UMKM, yang disebutnya Ihdinas Shirotol Mustakim/ sudah pada jalan yang benar tersebut, disampaikan saat membuka acara 6 th Koperasi dan UMKM Expo 2018 di Grand City Mall Rabu 15 Agustus 2018.

Hadir dalam kesempatan ini, Bupati Sidoarjo, Saiful Ilah, Konjen Jepang, Konsul New Zealand, Ketua Dekranasda Jatim, para kepala OPD di lingkup Pemprov Jatim, anggota Forkopimda Kab. Sidoarjo, dan para pelaku UMKM dan koperasi.(nanang)