Tawarkan Generasi Unggul dan Berkarakter 

9

Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – BERADA di kabupaten, bukan berarti persaingan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) tak ketat. Layaknya di kota besar, PTS harus berjuang menggaet mahasiswa. Beragam keunggulan ditawarkan, termasuk pembelajaran khusus. Seperti dilakukan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi. Lulusan yang berkarakter kebangsaan menjadi salah satu keunggulan yang ditawarkan.

Mencetak generasi unggul, taat azas, menjadi visi dari kampus merah putih ini. Salah satu pembelajaran yang tetap dipertahankan, mata kuliah Pancasila dan Wawasan Kebangsaan dengan sistem kredit semester (SKS) yang cukup. “Jadi, kami tak murni mengejar bisnis dalam menggaet mahasiswa. Tapi, ada pendidikan karakter yang kami tawarkan. Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan tak pernah kami hapus. Ini menjadi ciri khas,” kata Rektor Untag Banyuwangi, Andang Subaharianto, belum lama ini.  Sehingga, lulusan Untag Banyuwangi benar-benar paham dengan ajaran Pancasila dan berkebangsaan.

Menurut Andang, menghadapi ketatnya persaingan PTS, pihaknya tetap berpedoman seperti ajaran Bung Karno. Bunga mawar tak pernah melakukan propaganda. Namun, harum dengan sendirinya. Karena itu, pormosi dan iklan terbaik justru mahasiswa. “ Jadi, biarkan mahasiswa dan lulusan yang bercerita kepada publik. Sehingga, masyarakat akan melihat apakah kami layak menjadi pilihan,” jelasnya. Untuk mewujudkannya, Untag Banyuwangi serius mewujudkan lulusan berkualitas, metode pembelajaran yang taat azas.

Dalam pembelajaran, lanjut Andang, lulusan ditargetkan tak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Namun, memiliki soft skill integritas dan kepeminpinan. Promosi lainnya, secara resmi melalui Badan Akreditasi Perguruan Tinggi (BAN PT). Untag Banyuwangi berhasil meraih predikat B baik institusi maupun program studi (prodi). Total 11 prodi ditawarkan, ditangani 120 tenaga dosen. “Beragam prestasi dari mahasiswa juga kami ekspos melalui media. Sehingga, ada penilaian positif dari masyarakat. Harapannya, Untag akan menjadi pilihan,” jelasnya. Pihaknya juga menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi di luar negeri. Seperti, Malaysia dan Thailand. Terbaru, kampus di Jalan Adi Suptip, Banyuwangi ini menjalin kerjasama dengan seluruh Untag se-Indonesia. Nantinya, jalinan kerjasama ke luar negeri bisa ditambah melalui kerjasama sesama Untag ini.

Kerja keras Untag Banyuwangi dalam memajukan kualitas mahasiswa juga membuahkan hasil. Terbaru, mahasiswa Untag Banyuwangi berhasil masuk seleksi tim pekan ilmiah dari 60.000 tim yang mendaftar. “Kita masuk dari 440 tim yang lolos. Akhir Agustus akan dipresentasikan. Dananya dari hibah Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenrisetdikti),” pungkasnya.

Sementara itu, sistem pendidikan berbasis pondok pesantren justru tetap bertahan, bahkan digandrungi. Hebatnya, mahasiswa maupun calon mahasiswa tak hanya dari beragam daerah. Namun, luar negeri. Thailand salah satunya. Sistem pendidikan berbasis pesantren ini digandrungi lantaran memberikan pengetahuan dunia dan akhirat. Sehingga, mayoritas mahasiswa adalah kalangan santri.

“Beaya yang dibebankan ke mahasiswa tetap terjangkau, meski dengan pengetahuan yang lengkap,” kata M. Khozin Kharis, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Institut Agama Islan Darulssalam (IAIDA) Blokagung, Tegalsari, Banyuwanngi, belum lama ini.

Saat ini jumlah mahasiswa di kampus ini mencapai 1.400 mahasiswa. Mereka berasal dari seluruh Indonesia, termasuk luar negeri. Mayoritas mahasiswa merupakan para santri di Ponpes Darussalam, Blokagung. (udi/tin)