GM Hotel Kokoon, Hasan (bawa kentongan) saat pagelaran Pasar Londho di Hotel Kokoon. (Foto/nanang)

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Rendezvous kota tua. Kawasan kota tua Surabaya menyimpan keunikan tersendiri. Kawasan yang terbentang dari Pelabuhan Tanjung Perak, Ampel, Jembatan Merah, Kembang Jepun, Kapasan, hingga Pasar Atom ini terdapat kekayaan kearifan lokal yang terbentuk dari persilangan budaya etnis yang ada di kawasan tersebut. Seperti Jawa, Madura, Arab, Belanda dan Tionghoa.

Memang, sejak zaman Kerajaan Majapahit hingga zaman kolonial Belanda, kawasan Surabaya Utara terutama segitiga Kembang Jepun, Kapasan, Waspada menjadi pusat perniagaan yang ramai dikunjungi pembeli. Tak hanya dari Surabaya tetapi juga dari Jawa Timur/Jatim dan Indonesia Timur. Walaupun saat pagi hari kawasan tersebut merupakan pusat bisnis yang ramai, tetapi pada malam hari setelah toko dan perkantoran tutup berubah menjadi kota mati yang sepi.

Pemerintah Kota/Pemkot Surabaya pernah  berusaha untuk menghidupkan suasana malam hari di kawasan ini dengan membuat sentra kuliner kya-kya di sepanjang jalan Kembang Jepun. Namun,  kegiatan tersebut sekarang tak lagi berlanjut, sehingga kawasan itu kembali sepi. Hotel Kokoon yang berada di kawasan tersebut berusaha untuk mengembalikan keramaian di  wilayah tersebut.

“Melalui kegiatan Pasar Londho, kami tidak hanya berusaha menciptakan kesan Surabaya Utara aman tetapi juga nyaman,” kata General Manager/GM Hotel Kokoon, Hassan kepada bisnissurabaya.com, disela acara Pasar Londho, Sabtu (11/8) malam. Pasar Londho adalah bazar makanan yang terletak di area kolam renang Hotel Kokoon.

Suasana Pasar Londho. (Foto/nanang)

Dengan mengusung suasana tempo dulu di zaman kolonial, pengunjung tidak hanya dimanjakan dengan makanan dan jajanan tempo dulu. Seperti, pecel semanggi, lontong kupang, lontong balap, lontong sayur, rujak cingur, rujak manis, jajan pasar, leker, rangin, jamu gendong, dan es puter. Tetapi juga dihibur dengan musik keroncong, tari remo dan atraksi dolanan anak-anak zaman bahaula.

“Dengan hanya membayar Rp 88.000, pengunjung dapat menikmati semua menu yang ada,” jelas Hassan, yang asli Arek Suroboyo ini. Suasana malam bertambah semarak, saat penyanyi Ramalahsari, menyanyikan lagu-lagu tempo dulu. Seperti, caping gunung, sepasang mata bola, dan gubahanku, rek ayo rek serta lagu tempo dulu lainnya.

“Kedepan kami ingin melaksanakan kegiatan Pasar Londho di sepanjang jalan Slompretan, supaya warga di Surabaya Utara juga bisa menikmati rendezvous di kota tua. Seperti halnya mlaku-mlaku nang tunjungan,” tambah Hassan. Selain menikmati makanan khas Surabaya di hotel, pengunjung juga dapat membeli oleh-oleh tempo dulu untuk dibawa pulang.

Seperti, semanggi kering, kacang sengon, keripik pare, keripik tempe, kembang goyang, manisan belimbing wuluh, minuman mojito, minuman rosella, dan minuman kemangi jeruk. (nanang)