Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Sengketa tanah, biasanya persoalan pelik dan menyita waktu. Apalagi yang terlibat konflik adalah rakyat melawan pengembang. Seringkali rakyat selalu berada diposisi yang lemah apabila berhadapan pengembang swasta. Walau mereka belum tentu pada posisi salah.

Berkaitan dengan fenomena seperti itu, tokoh masyarakat Kecamatan Mulyorejo, Agus Basuki, merasa tergerak hatinya untuk membantu, saat warganya berhadapan dengan Pengembang PT Griyo Mapan Santoso/GMS, dan Universitas Airlangga/Unair.

Penyelesaian swngketa damai di meja makan, antara warga, PT GMS, Unair dan polisi. (Foto/nanang)

Awalnya, warga petani penggarap tinggal di kawasan Sutorejo Indah dan Mulyosari dekat Kampus Unair sejak 2015. Namun, mulai 2017 mereka menjadi resah karena dianggap tanpa hak mendiami tanah milik PT GMS

” Warga tersebut meminta bantuan saya untuk menghadapi klaim dari PT GMS dan Unair, Selaku tokoh masyarakat di Mulyorejo saya tergerak untuk membantu,” kata tokoh masyarakat Mulyorejo, Agus Basuki, kepada Bisnis Surabaya Rabu (8/8) kemarin.

Atas permintaan tersebut, Agus Basuki, segera berkoordinasi dengan pihak pihak terkait seperti PT GMS, Unair, dan Polsek Mulyorejo untuk dilakukan pertemuan mediasi membahas penyelesaian masalah itu.

“Saya berkomunikasi secara intens dengan Kapolsek Mulyorejo Komisaris Polisi/Kompol Bagus. Beliau sangat bijaksana,” ujar Agus Basuki.

Agus Basuki (kiri) dan Kapolsek Mulyorejo, Kompol Bagus. (Foto/nanang)

Setelah berkali-kali melakukan perundingan, akhirnya warga yang diwakili Agus Basuki, dengan PT GMS yang diwakili Hery, serta Unair yang diwakili Wakil Rektor Prihadi, menyepakati suatu perjanjian damai dengan ketentuan pemberian selama 3 bulan waktu untuk pindah, dan pemberian tali asih kepada warga sebagai kompensasi.

“Alhamdulilah, PT GrMS bisa memahami alasan kami terkait pemberian waktu untuk pindah dengan alasan sekolah anak-anak,” jelas Agus Basuki, yang juga Ketua Forum Olahraga Masyarakat Indonesia (FORMI) Kecamatan Mulyorejo.

Warga merasa senang atas upaya dan pembelaan yang dilakukan Agus Basuki, dalam menghadapi persoalan tanah tersebut.

“Dengan pendekatan yang tidak menang-menangan semua persoalan selesai dengan elegan tanpa ada yang dirugikan,” tambah Agus Basuki. Memang benar, dengan menggunakan pendekatan musyawarah, maka akan terjadi penyelesaian yang kondusif seperti yang diinginkan banyak orang. (nanang)