Kisah pengusaha Tempe yang Bosan Jadi Pegawai

575

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Bukan mental tempe, tapi pengusaha keripik tempe. Bung Karno, Presiden Republik Indonesia pertama, pernah berkata “Kita bukan bangsa tempe” kata-kata tersebut seakan-akan mengingatkan bahwa bangsa Indonesia tak boleh dipandang rendah oleh siapapun.

Memang, seharusnya bangsa Indonesia mengikuti arahan proklamatornya. Yaitu, berdaulat dibidang politik, berdikari dibidang ekonomi, dan berkepribadian dalam bidang kebudayaan.

Adalah Sugeng Mujiyono, seorang pria kelahiran Surabaya, 21 November 1980 yang terilhami kata- kata Putra Sang Fajar tersebut. Bagi dia berdikari dibidang ekonomi harus segera diwujudkan. Karena dia juga sudah bosan jadi pegawai.

“Setelah lulus kuliah di Universitas Putra Bangsa/UPB saya pindah- pindah kerja. Pernah kerja di leasing, dan juga di suplier bangunan,” kata Owner Keripik Tempe Ariska, Sugeng Mujiyono kepada Bisnis Surabaya Selasa (7/8).

Mulai 2015, Suami dari Asri Dwiarini, ini memantapkan diri berwiraswasta membuka usaha keripik tempe. Bersama istrinya, dia menjalankan usaha yang dirintisnya itu. Istrinya mengerjakan proses produksi, sementara dia bagian memasarkan.

Keripik tempe buatan Sugeng, terkenal sangat enak karena dia menggunakan bahan baku tempe dan tepung tapioka pilihan. Selain itu, keripik tempe itu tidak sedikitpun mengandung minyak karena ditiriskan sehari semalam.

Ada empat varian rasa yaitu original, bawang putih, daun jeruk, dan cabe rawit. Produk camilan renyah tersebut di pasarkan seharga 15.000 di berbagai supermarket, mini market seperti Shakinah mart, koperasi dan resaler.

Makin hari usaha yang ditekuni semakin maju, berbagai order dari supermarket seperti Transmart, Hypermart, dan Carefour juga datang menghampiri. “Alhamdulilah, saat ini saya bisa memproduksi sampai 59 kg tempe per hari,” jelas ayah dari Bagus Arya Saputra dan Nur Aisyah Putri Ramadhani ini.

Pesanan keripik tempe dari berbagai tempat yang mengalir deras setiap hari, membuat hati Sugeng, senang sekali. Dia bercita-cita ingin membeli mobil untuk meningkatkan mobilitas usahanya.

Sementara, hal yang menyedihkan bagi Sugeng, adalah saat bahan dasar naik. Karena itu berpengaruh pada kenaikan harga produk. “Pernah sekali waktu harga tepung tapioka naik sampai 95 persen. Awalnya Rp 6.000 menjadi Rp 11.500,” tambah putra Mujiati ini.

Dukungan dari Dinas Perdagangan Kota Surabaya ditunjukkan dengan memfasilitasi pengurusan perizinan dan melibatkan Sugeng, dalam berbagai pameran yang diselenggarakan dinas tersebut.(nanang)