Awas Api Kemarau!

19

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – BULAN Agustus-September sedang kita jalani. Beberapa negara bermusim empat, seperti Jepang, baru-baru ini dilanda udara panas mencapai 41 derajat Celsius dan rakyatnya sesambat. Di Amerika Serikat/AS dan beberapa negara Eropa sejumlah orang meninggal akibat kepanasan. Di Surabaya pernah tercatat panas hingga 45 derajat Celsius, tapi orang cuma sesambat panasnya tinggi. Pengendara sepeda motor dan pengemudi becak tetap saja bersliweran di jalanan. Yang pingsan kepanasan pun tak ada.

Tetapi musim kemarau yang diawali musim pancaroba dengan angin besar, gelombang laut tinggi, badai penyebab tanah longsor, lalu kekeringan lahan persawahan dan kebutuhan air bersih menjadi awal baru bahaya yang mengancam pada bulan-bulan ini. Bahaya itu bentuknya adalah kekeringan dan kebakaran!

Berbagai penyebab yang bisa menimbulkan kebakaran. Terlebih lagi dalam kehidupan masyarakat di perkotaan. Kepadatan penduduk kawasan pemukiman tidak perlu dipertanyakan lagi. Kondisinya yang rentan terhadap bahaya kebakaran. Dampak kebakaran di pemukiman bukan hanya diderita per keluarga di kawasan tersebut. Akan tetapi sangat berpengaruh dalam kesejahteraan sosial di lingkungan sekitarnya. Namun, berdampak terhadap kehidupan perekonomian di masyakarat luas. Terutama seperti dalam lingkup perkotaan bersangkutan.

Kota Surabaya sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta, sudah beken dengan bahaya kebakarannya. Terutama di kawasan perkampungan yang padat. Akhir-akhir ini di Jakarta sebagai daerah provinsi khusus ibukota, terjadi kebakaran pemukiman, pertokoan maupun pasar. Meski sisa-sisa musim hujan masih ada hingga menginjak bulan ini. Akan tetapi api kebakaran zaman now bertingkah laku sombong, tak kenal musim. Yang jelas, kawasan dan udara kering musim kemarau lebih disukai setan api kebakaran.

Malahannya buat kita yang tinggal di kota Surabaya dan sekitarnya. Saya katakan “dan sekitarnya”, karena sekeliling perbatasan kota Surabaya yang masuk Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Gresik dan Kabupaten Mojokerto, kondisi pemukiman sudah sama padatnya seperti di dalam kota Surabaya. Kepadatan karena penghuninya sangat banyak yang pendapatan ekonomisnya tergantung pada keberadaan perindustrian ataupun jasa serta fasilitas lainnya dalam sektor perekonomian. Sehingga tidak sedikit, tempat hunian mereka di siang hari kosong, karena mereka berstatus sebagai pemondok yang bekerja pada sektor perekonomian tersebut.

Apakah rumah hunian keluarga ataukah tempat pemondokan, maka masing-masingnya harus benar-benar ingat dan waspada mengenai bahaya kebakaran. Apakah dari akibat terjadinya hubungan-pendek-listrik (kortsleiting) akibat listrik/lampu menyala dalam waktu berlebihan atau karena stop-kontak atau kabel melecet. Mungkin tabung elpiji yang meledak karena bocor pada alat penyambungnya, ataupun karena kelalaian lain, termasuk akibat dari anak-anak yang bermain api. Pendek kata, bahaya api kebakaran sangat mengancam. Terutama di musim kemarau yang ramalannya kemarau kering panjang (disebut kemarau El Nino). Jangan berharap, bahwa kota Surabaya mempunyai kesatuan Pasukan Memadamkan Kebakaran (PMK) dengan beberapa mobil damkarnya. Sebab, mereka paling cepat tiba di tempat kebakaran rata-rata setengah jam setelah laporan diterima. Bisa waktunya lebih panjang kalau jaraknya jauh dan jalanan macet.

Dalam Opini di Bisnis Surabaya dua tahun lalu, pernah saya tulis agar Pemerintah Kota Surabaya seyogyanya memperkuat armada PMK-nya dengan menambah jumlah mobil damkar dan dengan cara menyebar penempatannya di setiap kawasan Kecamatan. Atau sekurang-kurangnya di tempat-tempat strategis yang dianggap rawan kebakaran. Jadi semacam menyebarkan Puskesmas-Puskemas. Di setiap Pos PMK demikian, juga dilengkapi dengan fasilitas seperti di kantor pusat PMK di Pasar Turi, agar para pegawai PMK itu tidak merasa bosan pada lingkungan tugasnya. Termasuk mungkin pengadaan sumur-sumur bor air, karena masalah pengadaan air pada tangki-tangki damkar sering mengalami kesulitan.

Sebenarnya kalau diniati bener beberapa tahun lalu, konsep penyebaran pos-pos PMK itu sekarang sudah terwujud. Karena duit anggaran untuk itu ada. Buktinya, Wali kota Risma mampu membiayai untuk membuat “Jembatan Surabaya” yang melengkung di atas pantai lumpur Kenjeran cuma untuk berwisata menyaksikan Selat Madura dan pulaunya.

Pendek kata, bagi setiap penduduk kota Surabaya dan sekitarnya benar-benar mewaspadai hal-hal yang bisa menimbulkan api kebakaran, sekaligus memperhatikan dan mengingatkan para tetangga di lingkungannya terhadap bahaya tersebut.. Seharusnya, para Lurah dari masing-masing wilayah di kota Surabaya juga memberikan edaran atau seruan mengingatkan warganya secara langsung atau lewat RT/RW setempat untuk waspada dam siap diri terhadap ancaman bahaya kebakaran sekarang. Mengapa Bisnis Surabaya mengangkat permasalahan ini? Adalah sebagai tanggung jawab sosialnya bagi setiap media massa untuk ikut mengingatkan tentang bahaya bencana itu yang sewaktu-waktu bisa timbul karena sering diakibatkan kurang waspadanya kita. Karenanya, marilah bersama-sama kita bersikap waspada dan siap diri agar bencana api kebakaran tidak merugikan kita.(amak syariffudin)