Kegiatan aksi didepan Patung Gubernur Suryo. (Foto/nanang)

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Ketika Kerajaan Mataram Islam hendak menaklukkan Kadipaten Surabaya, mereka membendung aliran Kali Brantas yang menuju ke Kali Mas dengan tumpukan bangkai dan tanaman beracun. Akhirnya Kadipaten Surabaya pun menyerah. Memang, Kali Brantas memegang peranan penting bagi masyarakat Jawa Timur/Jatim khususnya Surabaya.

Saat ini, Kali Brantas dan anak sungainya begitu memprihatinkan.  Sudah 1 tahun menjadi tempat pembuangan sampah industri dan limbah rumah tangga. Seperti kasur, popok sekali pakai. Sekitar 365 juta popok sekali pakai terbuang ke Sungai Brantas. Sepertinya, Pemerintah Provinsi Jatim dan kementerian  terkait seperti Lingkungan Hidup tak juga menyikapi masalah ini dengan serius.

Utomo Humas Ecoton. (Foto/nanang)

Selama setahun,  pemerintah pusat dan pemerintah provinsi terkesan melakukan pembiaran pembuangan sampah popok ke Brantas dan Kali Surabaya. Temuan adanya fragmen plastik dan fiber didalam lambung ikan adalah alasan yang cukup, agar pemerintah hadir menjaga kali Brantas yang menjadi bahan baku PDAM sumber air puluhan juta orang dan rumah bagi 25 spesies ikan.

“Ketidakseriusan pemerintah membahayakan lebih dari kehidupan keberlangsungan hidup 21 jenis ikan yang hidup di Kali Brantas dan lebih dari 3 juta konsumen PDAM,” kata Humas ECOTON, Utomo, kepada Bisnis Surabaya Rabu (1/8) kemarin. Penelitian terbaru, ECOTON menunjukkan, bahwa sampah popok sekali pakai yang masuk ke Kali Brantas terurai dan menjadi ancaman baru.

Kegiatan aksi didepan Patung Gubernur Suryo. (Foto/nanang)

Microfiber dan mikroplastik menjadi ancaman baru bagi ikan dan konsumen PDAM. “Dalam isi perut 80 persen ikan yang diteliti, yaitu nila, jendil, rengkik, keting, bader merah, bader putih ditemukan mikroplastik dan mikro fiber,” ujarnya. Karena itu, ECOTON menuntut pemerintah untuk lebih serius mengatasi permasalahan popok sekali pakai ini.

“Pemerintah perlu melakukan pembersihan popok sekali pakai di Kali Brantas. Melakukan patroli rutin di sungai dan menindak pembuang sampah popok sekali pakai ke sungai dan menyediakan fasilitas dropping point (droppo) dan pengangkutan,” tambah Utomo.

Saat ini pun masih ditemukan kasus ikan mati massal di Ngambar, Bambe, Driyorejo, Gresik. (nanang)