Tuban, (bisnissurabaya) – Sedikitnya 26 desa yang tersebar di tujuh kecamatan di wilayah Kabupaten Tuban, Jawa Timur/Jatim mengalami krisis air bersih. Meski begitu mereka tidak sampai kekurangan, karena Pemkab Tuban melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus melakukan droping air bersih ke desa-desa yang membutuhkannya.

“Setiap hari kami terus melakukan droping air bersih ke sejumlah desa yang membutuhkan. Insyaallah mereka tidak sampai kekurangan untuk kebutuhan minum dan lainnya,” kata Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Tuban, Joko Ludiyono, kepada bisnissurabaya.com (31/7) siang.

Puluhan warga menunggu giliran mendapatkan air bersih di Tuban. (Foto/imam suroso)

Menurut catatan BPBD dari 26 desa itu terdapat 12.925 kepala keluarga yang kesulitan mendapatkan air bersih untuk keperluan minum maupun memasak. Sebab, sumur-sumur warga mulai mengering. Untuk keperluan mandi, warga rela mandi di sungai yang ada di wilayah mereka. Untuk membantu warga yang kekurangan air, Pemkab Tuban tahun ini telah menganggarkan Rp 175 juta dari APBD.

Mantan Camat Widang ini, menegaskan apabila anggaran ini masih kurang, opsi lainnya akan menggunakan dana taktis tak terduga. Diharapkan, dukungan APBD ini, menjadi solusi krisis air bersih di musim kemarau 2018.

Diprediksi dalam musim kemarau tahun ini yang diperkirakan hingga September mendatang masih ada dua desa lagi yang diperkirakan kekurangan air bersih. “Kami masih terus memantau dua desa itu, sewaktu-waktu membutuhkan langsung kami kirim air dari tangki,” tuturnya.

Selain berharap kiriman air dari Pemkab Tuban, warga juga membeli air isi ulang untuk memenhi kebutuhan air minum maupun memasak. Seperti yang dialami Kasmuji bersama Subrodo (47). Dua warga Wanglu Kulon, Kecamatan Senori, memilih untuk membeli air galon. Sedangkan untuk mencuci, mandi, dan memberi minum hewan ternak masih mengandalkan air sumur yang rasanya semakin asin.

Petugas sedang mengisi air bersih untuk dibagikan kepada warga di Tuban. (Foto/imam suroso)

“Tiap hari keluarga saya habis tiga galon air untuk minum dan memasak. Kalau keperluan lainnya kami mengandalkan air sungai,” terangnya.

Pria berkulit sawo matang ini, mengaku di hari-hari biasa bersama warga lainnya selalu mengandalkan air sumur di halaman rumah salah satu warga. Semenjak kemarau tiba, debit air sumur terus menyusut dan belakangan rasanya asin dan kotor.

Sumur tersebut sekarang ditinggalkan warga, dan memilih mengambil air dari sumber mata air di tepi desa. Sekalipun jarak tempuh cukup jauh, namun hanya itu pilihan warga Gempol.
“Sumber di tepi desa sekarang pun mulai mengering sejak warga berbondong-bondong kesana,” jelas pria beranak dua.

Sementara itu Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD, Gaguk Hariyanto, menjelaskan untuk dropping air bersih itu menggunakan mobil tangki air kapasitas 5000 liter dan mobil tangki berkapasitas 7000 liter.

Ke-11 kecamatan yang diantara desanya mengalami krisis air itu meliputi, Semanding, Grabagan, Kerek, Parengan, Bangilan, Senori, dan Jatirogo. Ketujuh titik tersebut akan dikirimi air sesuai jadwal yang dibuat oleh BPBD Tuban. (imam suroso)