Surabaya, (bisnissurabaya.com) – “Jika di Indonesia, kita menanam tongkat akan jadi tanaman. Tapi jika kita menanam tanaman di Arab akan menjadi tongkat karena pasir dan panasnya,” begitu anekdot yang seringkali digunakan untuk menggambarkan negeri Indonesia.

Memang Indonesia adalah surga di bumi. Hampir tiga tahun sekali artis kenamaan dunia Brad Pitt dan kekasihnya Anggelina Jolie pergi ke Bali hanya untuk berjemur di Pantai guna menghitamkan kulitnya. Dan masih banyak lagi artis manca negara yang datang ke Bromo hanya untuk melihat matahari terbit.

Pakar Komunikasi Publik, Suko Widodo. (Foto/nanang)

Bahkan, ada dokter dari Palestina yang di Unair mengatakan Indonesia adalah negara yang indah dan damai. Berbeda dengan Palestina. Disana peluru berseliweran tiap hari.

“Indonesia indah bukan karena alamnya semata. Tetapi pada kemampuannya menjaga toleransi dan keberagaman,” kata pakar komunikasi publik Unair, Suko Widodo, kepada Bisnis Surabaya Sabtu (27/7).

Indonesia, khususnya Surabaya adalah laboratorium toleransi. Di Surabaya pernah ada tokoh yang bernama Dr Oemar Said Tjokroaminoto, yang rumahnya di Peneleh pernah ditinggali para pendiri bangsa dengan keyakinan politik yang berbeda. Namun, rukun yaitu Soekarno dengan nasionalismenya, Kartosoewirjo dengan haluan islamnya, Semaoen dengan paham komunismenya.

“Karena itu ulah teroris yang keblinger dengan doktrinnya yang sempit itu katrok. Bagi mereka, Ben Iko Tunggale Iko,” jelas Suko Widodo.

Keberadaan teroris yang mengecam dan mengancam kebhinekaan dan intoleran wajib dilawan seluruh anak bangsa. Dapat dibayangkan jika Indonesia pecah menjadi beberapa negara, maka kemana-mana pakai visa.

“Dapat dibayangkan jika toleransi tidak lagi mampu menjadi pengikat, maka akan ada negara Aceh yang Islam, negara Bali yang Hindu, dan negara Sulawesi Utara yang Kristen,” tambah Suko Widodo.

Acara yang bertajuk Dialog Kebangsaan Generasi Milenial Bersama Polri digelar Gema Indonesia Sabtu (28/7) di Lenmark Surabaya menghadirkan Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setyawan dan pakar komunikasi publik Suko Widodo. (nanang)