Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya Ikhsan saat menerima kedatangan 16 Kepala Sekolah di kantor Dispendik Surabaya, Jum'at (27/07).

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Program pertukaran kepala sekolah dan on the job learning (OJL) dari Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), bertujuan untuk meningkatkan pemerataan mutu pendidikan di Indonesia, dengan Lokakarya Program Pertukaran Kepala Sekolah.

Ya, 16 kepala sekolah imbas dari berbagai provinsi di Indonesia, mulai belajar ke sekolah mitra di Kota Surabaya. Program pertukaran kepala sekolah tersebut, akan berlangsung selama 7 hari mendatang, mulai Kamis, (27/07) sampai Rabu, (01/08).

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya Ikhsan mengatakan, 16 kepala sekolah imbas tersebut, didampingi delapan kepala sekolah mitra di Surabaya, serta seorang fasilitator dari Kemendikbud. Masing-masing sekolah di Surabaya yang menjadi mitra dari sekolah imbas, memiliki kelebihan sendiri-sendiri. Contohnya, SMPN 6 Surabaya yang menjadi mitra dari sekolah imbas SMPN 10 Kabupaten Sorong dan SMPN 4 Kabupaten Sorong, Papua Barat.

“SMPN 6 punya kelebihan bidang seni dan penguatan karakter, sedangkan SMPN 3 punya kompetensi hidroponik, dan SMPN 26 punya kompetensi pengembangan perpustakaan, perkebunan dan perikanan. Kemudian, SDN Bubutan IV punya lingkugan Adiwiyata, dan lain-lain,” kata dia, saat menerima kedatangan 16 kepala Sekolah imbas di Kantor Dispendik Surabaya, Jum’at, (27/07).

Ikhsan juga menjelaskan, sekolah imbas bisa belajar bidang manajerial, supervisi dan pengembangan kewirausahaan ke sekolah-sekolah mitra di Surabaya.

Selain itu, sekolah imbas diizinkan meraih ilmu tambahan sesuai dengan kompetensi sekolah masing-masing. “Kesuksesan untuk kami di program ini adalah bagaimana mewujudkan cita-cita kepala sekolah imbas,” tuturnya.

Menurut Ikhsan, berdasarkan arahan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, berbagai program pendidikan di Surabaya yang sudah berjalan baik, bukan hanya untuk Kota Surabaya sendiri, melainkan juga bagi daerah-daerah lain. “Kami dipesan Ibu wali kota untuk sering berbagi ilmu kepada yang lain, bukan dimiliki sendiri. Karena semakin kita berbagi, semakin banyak yang bisa diperoleh,” ujar Ikhsan.

Sementara, Fasilitator dari Kemendikbud, Wendi Prayitno meminta kepada kepala sekolah imbas untuk menimba ilmu di Surabaya dengan sebaik-baiknya. Menurutnya, sekolah mitra di Surabaya yang sudah ditunjuk Kemendikbud, dianggap memiliki potensi yang cukup.

“Beberapa kriteria sekolah mitra yang dipilih adalah memiliki akreditasi A, indeks integritas ujian yang baik, serta rata-rata nilai ujian tinggi,” ujarnya.

Salah satu kepala sekolah imbas yang belajar di Kota Pahlawan ialah Umar Kobe. Kepala SD Inpres Bhoanawa 2 Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengatakan pihaknya akan bermitra dengan SDN Dr. Sutomo V Surabaya. “Di sekolah saya memang banyak yang kurang. Studi banding ini akan dilanjutkan dengan pendampingan yang dilakukan kepala sekolah mitra ke sekolah imbas,” katanya.

Sementara itu, Kepala SD Inpres 19 Kapatlap, Raja Ampat, Papua Barat, Indi Hanny Kabes mengaku akan mengadopsi program pendidikan yang baik di sekolah mitra. Ia mengaku akan bermitra dengan SDN Jajartunggal III Surabaya “Saya sudah dapat cerita tentang sekolah di Surabaya. Nanti akan saya adopsi program yang cocok,” tutupnya. (ton)