Demi Anak Rela Produksi Jamu Tengah Malam

501

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Tak jemu produksi jamu. Minum jamu bagi sebagian orang merupakan kebutuhan utama. Apalagi bagi mereka yang sehari-hari banyak melakukan aktivitas menggunakan tenaga. Seperti atlet, maupun pekerja. Di Indonesia, banyak   jamu tradisional yang berkhasiat untuk mengembalikan kebugaran tubuh. Seperti, temulawak, beras kencur, dan sinom.

Adalah Linah Utami, pelaku Usaha Kecil Menengah/UKM yang mengambil pilihan untuk menjalankan bisnis dibidang produksi minuman penyehat tubuh. Awalnya, warga Gubeng Jaya ini seorang pegawai yang bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuah toko di Tunjungan Plaza. Sewaktu bekerja di tempat, Linah, pernah menjalaninya sambil menggendong salah satu anaknya.

(foto/nanang)

“Pada 2005, saya mulai mencoba membuat minuman jamu seperti beras kencur, temulawak, sinom,  kunyit asam fiber, rosella, dan rosella mocca untuk dijual,” kata Owner Jamu Rhyzoma, Linah Utami, kepada Bisnis Surabaya, Kamis (26/7) malam. Produk jamu buatan istri Agus Santoso, ini cepat dikenal di pasaran karena rasanya yang khas, enak dan tidak pahit.

Selain itu, kemasannya menggunakan botol plastik yang menarik dengan model kekinian. Karena tanggapan pasar yang  positif dan bisa menerima produk jamu yang dihasilkannya, membuat ibu tiga anak ini lebih giat menjalankan usahanya. Linah, sering sampai larut malam mengerjakan jamu buatannya. Hal itu sengaja dilakukan supaya tak diganggu anaknya saat proses produksi.

“Pernah dalam keadaan hamil, saya berjualan di pedestrian di car free day Raya Darmo, dagangan saya diobrak petugas Satpol PP. Selain itu, produk saya juga pernah ditolak masuk oleh dinas karena kemasannya dianggap jadul,” jelas Linah, yang juga alumni SMAN 1 Gedeg Mojokerto. Sejak 2015, Linah, memutuskan berhenti dari pekerjaannya di perusahaan distributor farmasi dan berkonsentrasi pada usahanya.

Selain memasarkan produknya lewat online di whatsapp, facebook dan instagram,  Linah,  sudah mempunyai resaler dan outlet yang mau dititipi produknya. Linah, juga sering ditunjuk dinas terkait untuk mengikuti pameran. Seperti, mlaku-mlaku nang Tunjungan. “Alhamdulilah, kini omzet saya sudah mencapai Rp 8 juta per bulan,” tambah Linah.

Pesanan jamu pun makin hari makin mengalir deras. Bahkan, perempuan manis paruh baya ini pernah mendapat pesanan sampai 350 botol dari PT Pegadaian dan Bank BNI. (nanang)